
Jakarta – SelatanNews,- Majelis GAZA (Gerakan Akhi meyakini bahwa mimpi Muhammad Qasim ibn Abdul Karim dari Pakistan sebagai Ar-Ru’yah Ash-Shadiqah (mimpi yang benar) terutama yang dikaitkan dengan tanda- tanda akhir jaman. Namun seperti apa mimpi tersebut belum dijelaskan secara rinci oleh Majelis Gaza sehingga kita semuanya bisa memahami kebenaran dari mimpi yang dikatakan sebagai Mubasirat itu.
Menurut rilis yang dikirimkan ke pihak media oleh Kang Diki Candra selaku Founder Majelis GAZA, lembaga yang dipimpinnya Fokus kajian dan diskusi tentang akhir zaman, serta mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan menghadapi tanda-tanda akhir zaman tersebut dengan iman dan takwa.
Menutit Diki Chandra, selaku Ketua Majelis Gaza, bahwa mereka menerima petunjuk melalui mimpi (mubasyirat) yang diyakini sebagai salah satu cara Allah memberikan informasi kepada manusia.
“Mereka juga aktif dalam melakukan counter terhadap informasi yang dianggap menyesatkan dan mengajak masyarakat untuk lebih fokus pada kebenaran,” ungkapnya
Majelis Gaza yang telah memiliki sebuah perpustakaan yang disebut “Perpustakaan Dibawah Langit” yang berlokasi di Bukit Lebah Ciater; Kampung Sukahurip, RT.16/RW.07, Desa Nagrak, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang tersebut memiliki Maksud dan Tujuan Menyampaikan informasi ke semua pihak, bahwa kita sudah memasuki fase ujung akhir zaman. Fase sangat berat yang akan dialami umat manusia.
Selain itu , Menyampaikan informasi bahwa nubuwwah nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tentang mimpi-mimpi yang dialami umat di ujung akhir zaman, sudah terjadi saat ini.
Ketiga, Melakukan langkah-langkah yang diperlukan dalam antisipasi untuk menghadapi fase sangat berat yang sudah hampir tiba, agar bisa membantu umat manusia dari mana pun kelompok dan agamanya.
Terkait dengan mimpi mubasyirat ini, Diki Candra menyitir sebuah hadits Nabi, apa yang harus dilakukan bila bermimpi baik atau bermimpi buruk yaitu:
“Mimpi yang baik berasal dari Allah, maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi hal yang disukainya, janganlah dia menceritakannya kecuali kepada orang yang disukainya dan bila dia bermimpi buruk, maka mintalah perlindungan dari kejahatannya dan dari kejahatan setan dan janganlah menceritakannya kepada siapapun, niscaya mimpi tersebut tidak akan mencelakakannya”. Muttafaq ’alaih. Juga ada hadits yang menyatakan: “Apabila salah seorang kamu bermimpi hal yang disukainya, sesungguhnya itu berasal dari Allah, ucapkan Alhamdulillah dan ceritakanlah”. H.R. Bukhari .
“Bila salah seorang kamu bermimpi buruk maka meludahlah ke kiri 3x dan ucapkan:“Aku berlindung kepada Allah dari syaitan” 3x, lalu ubahlah posisi tidurmu semula”. Dalam riwayat lain: Bila salah seorang kamu bermimpi buruk maka bangkitlah dan shalat “. HR. Muslim.
Merasa gembira dengan mimpi yang baik. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia tidak tersisa dari tanda kenabian kecuali al-mubasyirot”, “Apakah mubasyirot itu wahai Rasulullah?, beliau bersabda: “Mimpi yang benar.” HR Bukhari . ( Amrul ).







































