Jakarta, Poskota Nasional
Kolaborasi antara dunia kuliner dan pelestarian budaya Nusantara resmi diwujudkan melalui peluncuran The Culture Hub, sebuah pusat pembelajaran kebudayaan dan kuliner Indonesia hasil kerja sama Restaurant Ramatama dan penggiat batik Bobabotakbatik. The Culture Hub by Ramatama berlokasi di kawasan Taman Aries, kebun jeruk Jakarta Barat.
Dalam peluncuran perdananya, The Culture Hub mengangkat tema Peranakan sebagai representasi proses akulturasi budaya yang telah membentuk identitas sosial dan kultural masyarakat Indonesia sejak lama. Tema ini menjadi pengantar untuk memahami bagaimana budaya luar dan budaya lokal saling berbaur dan melahirkan identitas khas Nusantara.
Peluncuran The Culture Hub menjadi ruang temu antara kekayaan cita rasa kuliner tradisional dengan upaya pelestarian budaya yang dikemas secara modern, inklusif, dan relevan bagi masyarakat urban, khususnya generasi muda di wilayah Jabodetabek.
Restaurant Ramatama merupakan restoran milik Diana Fajarsari yang sejak awal dirintis dengan mengusung konsep kekeluargaan, keramahan, serta nuansa budaya dan nostalgia. Pada acara peluncuran tersebut, Diana Fajarsari hadir didampingi Manajer Restaurant Ramatama, Despian, serta Ryan Maneka Hinze selaku art director dan konten kreator budaya serta batik Bobabotakbatik.
Diana Fajarsari menyampaikan bahwa kehadiran Restaurant Ramatama berangkat dari kerinduan masyarakat terhadap masakan rumahan khas Jawa, khususnya kuliner Jawa Tengah yang kaya rasa, nilai, serta filosofi kebersamaan. Ramatama mulai dirintis sejak tahun 2020 dengan tujuan menghadirkan ruang makan yang tidak hanya menyajikan hidangan, tetapi juga menghadirkan suasana hangat layaknya makan di rumah sendiri.
Ramatama dibangun dengan semangat berbagi rasa, berbagi keramahan, dan berbagi kebersamaan. Seluruh bumbu dan resep yang digunakan merupakan resep turun-temurun keluarga yang hingga kini dijaga konsistensinya. Proses memasak dan penyajian dilakukan dengan standar yang ketat agar cita rasa autentik tetap terjaga. Pengunjung diharapkan tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga merasakan nostalgia serta kehangatan suasana.
Saat ini, Restaurant Ramatama melayani berbagai segmen pengunjung, mulai dari keluarga, pekerja kantoran, hingga komunitas. Dengan suasana interior yang nyaman serta pilihan menu yang beragam, Ramatama menjadi salah satu restoran di kawasan perumahan yang cukup digemari. Menu yang tersedia cocok untuk makan siang, makan malam, maupun santai sore hari, terbukti dari banyaknya pelanggan yang datang kembali bersama keluarga maupun rekan kerja setiap harinya.
Restaurant Ramatama menghadirkan kurang lebih 50 jenis menu makanan dan minuman. Menu andalan di antaranya Nasi Gandul, Nasi Liwet Sunda, Asem-asem Daging, serta berbagai menu tradisional lainnya. Untuk minuman, tersedia Es Jelly Sereh, Es Kolang Kaling, Es Cendol Dawet, Wedang Ronde, dan aneka minuman khas Nusantara. Pada momen tertentu, Ramatama juga menghadirkan menu spesial yang digemari masyarakat, seperti lontong capgomeh dan ketupat sayur.
Selain melayani tamu makan, Restaurant Ramatama juga membuka ruang untuk berbagai kegiatan dan acara. Dengan kapasitas hingga sekitar 100 orang, restoran ini dapat digunakan untuk acara ulang tahun, arisan, gathering komunitas, hingga kegiatan budaya. Berbagai promo turut ditawarkan, antara lain diskon ulang tahun sebesar 15 persen, program keanggotaan, promo sewa ruangan, serta layanan pengantaran gratis untuk wilayah Jakarta Barat.
Manajer Restaurant Ramatama, Despian, menjelaskan bahwa tingginya minat masyarakat terhadap konsep restoran bernuansa budaya menjadi motivasi bagi manajemen untuk terus berkembang dan menjalin kolaborasi.
Kolaborasi ini semakin bermakna dengan hadirnya The Culture Hub Royal Mahapraja Batik, sebuah wadah budaya yang digagas oleh Ryan Maneka Hinze. Culture Hub ini dirancang sebagai ruang kolaborasi terbuka untuk merawat, merayakan, dan meneruskan nilai-nilai budaya Indonesia kepada generasi muda.
Ryan Maneka Hinze menyampaikan bahwa Culture Hub by Ramatama lahir dari kegelisahan terhadap pergeseran minat generasi muda yang cenderung lebih mengagungkan budaya luar dibandingkan budaya bangsa sendiri. Menurutnya, budaya Indonesia perlu dikemas secara relevan agar dapat diterima dan dicintai oleh generasi masa kini.
Dalam peluncuran perdananya, The Culture Hub by Ramatama menghadirkan rangkaian kegiatan berupa diskusi budaya, makan bersama, serta pembacaan dua belas shio Imlek yang sarat nilai filosofi dan sejarah. Melalui tema Peranakan, pengunjung diajak memahami bagaimana budaya luar masuk ke Indonesia, berbaur dengan budaya lokal, dan membentuk identitas baru yang khas Nusantara.
The Culture Hub tidak hanya membahas batik, tetapi juga merangkul berbagai unsur budaya Nusantara lainnya, mulai dari wastra, musik tradisional, seni rupa, kuliner, hingga adat dan tradisi. Di dalam Restaurant Ramatama juga terdapat Toko Batik Royal Mahapraja yang dikenal sebagai brand batik tulis tailor made to measure yang bekerja sama langsung dengan para pengrajin lokal.
Sebagian besar koleksi Royal Mahapraja berasal dari sentra batik di Pulau Jawa, seperti Pekalongan dan Cirebon, serta dari berbagai daerah lain di Nusantara dengan kekayaan wastra masing-masing.
Ke depan, The Culture Hub Royal Mahapraja direncanakan menjadi pusat kegiatan budaya dengan agenda rutin satu hingga dua kali setiap bulan dan terbuka bagi masyarakat Jabodetabek tanpa batas latar belakang.
Di akhir acara, Diana Fajarsari berharap kolaborasi antara Restaurant Ramatama dan The Culture Hub Royal Mahapraja Batik dapat menjadi ruang edukasi, kebersamaan, dan penguatan identitas budaya bagi generasi muda. Melalui kuliner dan budaya, kolaborasi ini diharapkan mampu mengingatkan bahwa kekayaan budaya Indonesia bukanlah sesuatu yang kuno, melainkan identitas bangsa yang patut dijaga, dirayakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.







































