LAHAT l Selatan.news – Potensi perikanan air tawar di Kabupaten Lahat dinilai belum tergarap maksimal. Dari total sekitar 120 hektare kawasan tebat (danau) yang ada, diperkirakan mampu menampung hingga 500 ribu benih ikan. Program ini diharapkan dalam lima tahun ke depan tidak hanya mencukupi kebutuhan ikan air tawar masyarakat, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi serta menjadi daya tarik pariwisata. Rabu (15/4/2026)
Namun, harapan tersebut belum sepenuhnya terealisasi. Sejumlah pihak menilai implementasi di lapangan masih jauh dari target, meskipun Pemerintah Kabupaten Lahat telah mengalokasikan anggaran cukup besar melalui APBD.
Salah satu contoh terlihat pada proyek pembangunan tebat di Desa Penandingan, Kecamatan Mulak Sebingkai. Tebat seluas sekitar 1,5 hektare itu diperkirakan mampu menampung hingga 2 juta ekor ikan serta berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi lokasi tersebut kini terbengkalai. Sejumlah fasilitas tampak tidak terurus, seperti sepeda air berbentuk bebek yang dibiarkan di pinggir tebat, material bangunan berupa semen dan batu yang berserakan, serta pondok yang belum selesai dibangun.
Diketahui, proyek tersebut menelan anggaran sekitar Rp6,2 miliar dari APBD Kabupaten Lahat tahun 2025. Selain itu, kebutuhan biaya untuk pakan, benih ikan, dan operasional lainnya diperkirakan mencapai lebih dari Rp1 miliar.
Upaya konfirmasi kepada pihak terkait belum membuahkan hasil. Saat awak media mendatangi kantor Dinas Perikanan Kabupaten Lahat dan mencoba menghubungi Kepala Dinas Perikanan, Marully, yang bersangkutan tidak dapat dihubungi.
Sementara itu, warga setempat menyayangkan kondisi tersebut. Mereka menilai lokasi tebat memiliki potensi besar tidak hanya untuk perikanan, tetapi juga sebagai tempat rekreasi.
“Lokasinya strategis, pemandangannya bagus dengan sawah dan bukit. Biasanya sore hari ramai anak muda berkumpul, ada yang jogging juga,” ujar Nedi (20), warga Desa Penandingan.
Ia juga mengungkapkan bahwa fasilitas permainan seperti sepeda air kini sudah tidak terawat. “Bebek-bebekan itu sudah di pinggir, mungkin sudah rusak atau bocor. Kami biasanya tetap ke sini untuk olahraga karena udaranya sejuk,” katanya.
Warga menduga proyek pembangunan tebat tersebut telah ditinggalkan sejak sebelum akhir tahun anggaran 2025, tanpa kejelasan kelanjutan pengerjaan. Mereka berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah agar potensi yang ada tidak terus terbengkalai.
Laporan: Nita












































