
Sejalankah Arah dan Manhaj Majelis Gaza Dengan Pola Kebangkitan dari Timur Seperti Isyarat dalam Hadits?
Oleh: Diki Candra Purnama*)
Hadits-Hadits Pokok Terkait Kebangkitan Islam dari Timur. Rasulullah ﷺ bersabda: “Akan keluar panji-panji hitam dari arah Timur, tidak ada sesuatupun yang dapat menolaknya hingga ditancapkan di Iliya’ (Baitul Maqdis).” Sunan Ibn Mājah, Kitāb al- Fitan, no. 4084. Cetakan Dār al- Risālah: ± jilid 2, hlm. 1362.
Banyak Ulama menegaskan : Timur bukan hanya satu titik geografis sempit (Seperti selama ini dipahami, hanya khurasan di wilayah asia Selatan saja).Tetapi wilayah non-Arab, jauh dari pusat kekuasaan lama.
Hadits Bani Tamim & Timur : “Kekuatan dari Bani Tamim akan datang dari Timur, Allah akan menolong mereka sebelum al-Mahdi muncul (berkuasa)”. [Musnad Ahmad, no. 22387, Cetakan Mu’assasah ar- Risālah: jilid 37, hlm. 81].
Ibnu Katsir menjelaskan dalam An-Nihayah fil Fitan: “Mereka bukan penguasa, tapi pembuka jalan (tamhīd).” (An-Nihāyah, Dār al-Kutub al- ‘Ilmiyyah, hlm. 29–31).
Jadi jelas, kelompok ini ditakdirkan berhasil mencapai takdirnya terlebih dahulu, dari pada takdir Al-Mahdi. Dan Langkah pembuka jalan itu bukan satu tahun apalagi satu dua bulan, pastinya perlu waktu bertahun-tahun.
Sedangkan Arti Pembuka jalan itu harus diartikan dari semua sisi, baik menzahirkan pesan al-Mahdi, sosoknya al-Mahdi, terlihat nyata melakukan langkah-langkah riil dan pastinya harus dilakukan oleh sekumpulan orang yang tahan terhadap ujian/ tekanan.
Ini juga sejalan dengan manuskrip kuno yang diposisikan sebagai kultural-historis, seperti antara lain kitab-kitabnya Ajip Rosidi (filolog), menyangkut langkah, keadaan dan takdirnya sosok Satrio Piningit & kelompoknya.
Menurut Tafsir Ulama: Apa Ciri Kebangkitan Timur itu? Ibnu Taimiyyah. dalam Majmū‘ al- Fatāwā : “Kebangkitan agama ini sering dimulai dari orang- orang yang terasing, bukan dari pusat kekuasaan.” (Majmū‘ al-Fatāwā, Cetakan Madinah: jilid 11, hlm. 398.).
Ibnu Taimiyyah menjelaskan, Ciri utamanya : Bukan elit. Bukan istana. Bukan negara. Tapi jamaah kecil yang istiqamah di bawah bimbingan Alqurandan Sunnah..
Penulis berpendapat bahwa Dari banyak kitab, arti terasing itu harus dibaca dari semua sisi, asing bagi umat pada umumnya yang disuarakannya, maupun asing keberadaannya dan jumlah kelompoknya sedikit.
Yang lurus, artinya dari niat dan dari aqidahnya. Imam An-Nawawi (Syarah Muslim). Sedangkan tentang hadits Ghurabā’: “Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki agama ketika manusia merusaknya, seringkali hidup terasing.” (Syarh Shahih Muslim. Dār Ihyā’ at-Turāts: jilid 2, hlm. 175)
Ciri-ciri Personalnya.bisa kita lihat di Dalam kitab An-Nihāyah fil Fitan – Ibnu Katsir. lm. 27–35, personal-personalnya, memiliki ciri atau layak sebut : Tamhīd (Mempersiapkan, meratakan jalan, pendahuluan), Rajul Saliḥ (Seorang yang saleh. Bukan sekadar orang baik secara personal, tetapi lurus akidahnya. Benar amalnya. Jujur niatnya & Dapat dipercaya dalam urusan agama dan Amanah lainnya. Qa’im bil-haqq (Orang yang berdiri tegak menegakkan kebenaran. Bukan hanya mengetahui kebenaran, Tetapi berani berdiri, menyuarakan, dan menegakkannya, meski sendirian.
Ashabul mashru (Yang dimaksud mashrū‘ bukan proyek duniawi semata, melainkan: Proyek peradaban, Misi dakwah, Agenda perubahan umat, Cita-cita kolektif berbasis iman, Punya visi jangka Panjang, Siap berkorban untuk misi, bukan figur. Tidak berhenti pada wacana, tapi bergerak. Istilah ini banyak digunakan dalam gerakan Islam modern dan pemikiran haraki.
Jadi mereka tidak mengklaim tanpa dalil dan tidak sesuai dengan fakta, fokus tarbiyah & uzlah,
menguatkan aqidah & akhlak. Maka ia masuk kategori “pembuka jalan”, namun bukan penentu zaman.
“Akan keluar fitnah dari arah Timur, lalu sekelompok orang mempersiapkan (men-tamhid) kekuasaan bagi al-Mahdi.” (Kitāb al-Fitan, Nu‘aim bin Hammād. Dār al-Fikr, hlm. 368).
“Keselamatan itu dengan berpegang pada jamaah awal, meskipun *jumlah mereka sedikit.”* (Al-I‘tiṣā. Dār Ibn ‘Affān, jilid 2, hlm. 260).
Jamaah kecil, tidak populer, tidak institusional — identik dengan pola ghurabā. “Jika engkau melihat seseorang menyukai khalwat/uzlah ketika zaman rusak, ketahuilah ia adalah *pengikut Sunnah.*” (Sharḥ as-Sunnah, Dār al-Minhāj, hlm. 108)
Uzlah bukan bid‘ah, tapi indikator keselamatan aqidah saat fitnah merajalela. “Mereka dahulu *melarikan agama* mereka ke gunung-gunung dan tempat terpencil.” (Ḥilyat al-Awliyā’. Dār al- Kutub al-‘Ilmiyyah, jilid 1, hlm. 8).
Pola hijrah–uzlah –penjagaan iman, bukan eskapisme. “Akan datang masa di mana harta terbaik seseorang adalah kambing, ia menggiringnya ke puncak-puncak gunung.” (Al-Muṣannaf. Dār al-Fikr, jilid 7, hlm. 493.
Hadits uzlah praktis, bukan simbolik — sangat relevan dengan tanah uzlah. “Uzlah itu *lebih selamat* ketika fitnah terjadi.” (Kitāb az-Zuhd. Dār Ibn al-Jawzi, hlm. 154).
Uzlah = strategi keselamatan iman, bukan ketakutan sosial. “Dalam fitnah, jadilah seperti anak Adam (yang selamat), dan *jauhilah para pengikut* hawa nafsu.” (Al-Ibānah al-Kubrā. Dār ar-Rāyah, jilid 2, .
Pemisahan sadar dari arus rusak — bukan isolasi egoistik. “Ghuraba itu dua: *terasing di tengah manusia*, dan terasing *dalam menempuh jalan* kebenaran.” Madārij as-Sālikīn. Dār al- Kitāb al-‘Arabī, jilid 3, hlm. 195).
Relevansinya, Majelis GAZA bukan sekadar komunitas, tapi jalan hidup yang berbeda. “Wajib atasmu mengikuti atsar dan ahlinya, meskipun *mereka sedikit.”* (Sharḥ Uṣūl I‘tiqād. Dār Ṭayyibah, jilid 1, hlm. 128).
Kesimpulannya, Manhaj Majelis GAZA sejalan denganJamaah kecil, Uzlah sadar. Tidak ada satu pun kitab Ahlus Sunnah diatas yang menyatakan bahwa Kebangkitan Islam selalu dimulai dari negara. Langsung diberi tanggung jawab besar atau wajib populer terlebih dulu. Justru semuanya menegaskan selalu diawali lewat fase sunyi, selektif, lalu berat.
23 Desember 2025
*) Penulis, Ketua Majelis Gaza









































