Jiexpo , Selatan News.com
Ketua dan CEO Packaging Development Federation, Dr. Teguh Maianto, MM, menegaskan pentingnya inovasi dan pengembangan kemasan (packaging development) sebagai strategi utama menghadapi tantangan industri yang semakin kompleks, terutama akibat gejolak ekonomi global dan krisis di kawasan Timur Tengah.
Hal tersebut disampaikan Dr. Teguh saat ditemui di Booth Hal C1 pada pameran industri kemasan yang berlangsung di JExpo Kemayoran, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, Packaging Development Federation (PDF) saat ini memiliki sekitar 250 anggota yang berasal dari berbagai sektor industri, mulai dari pemilik merek (brand owner), perusahaan konverter kemasan, produsen bahan baku, pemasok mesin, hingga kalangan akademisi dan universitas.
Keanggotaan PDF tersebar di berbagai daerah seperti Surabaya, Semarang, Solo, Bandung, Jakarta, Riau, hingga Medan.
“Peran utama PDF adalah menjadi wadah edukasi sekaligus mempertemukan seluruh pemangku kepentingan dalam industri kemasan, mulai dari brand owner, converter, pemasok bahan baku, produsen mesin, hingga universitas.
Kolaborasi ini sangat penting untuk mendorong inovasi dan pengembangan industri kemasan nasional,” ujar Dr. Teguh.
Ia menjelaskan, industri kemasan saat ini menghadapi tekanan besar akibat kenaikan harga bahan baku plastik seperti polyethylene (PE) dan polypropylene (PP).
Kondisi tersebut dipicu oleh meningkatnya harga minyak dunia serta dampak krisis geopolitik di Timur Tengah.
“Dulu harga polyethylene berkisar Rp 22.000 hingga Rp 25.000 per kilogram. Bu
Saat ini sudah mencapai Rp 40.000 hingga Rp 58.000 per kilogram. Artinya terjadi kenaikan antara 70 hingga 100 persen. Ini menjadi tantangan serius bagi industri kemasan,” katanya.
Lebih lanjut, Dr. Teguh mengungkapkan bahwa sekitar 60–70 persen kebutuhan bahan baku plastik Indonesia selama ini masih bergantung pada impor dari kawasan Timur Tengah.
Namun saat ini sejumlah pelaku industri mulai melakukan diversifikasi pasokan dengan beralih ke negara lain seperti China guna mengurangi ketergantungan terhadap satu wilayah pemasok.
Menurutnya, situasi tersebut justru menjadi momentum bagi perusahaan kemasan untuk semakin aktif melakukan riset, inovasi, dan pengembangan produk.
“Perusahaan packaging yang tidak melakukan pengembangan akan sulit bertahan, terutama di tengah kondisi yang penuh tantangan seperti sekarang. Karena itu, inovasi dan packaging development menjadi kunci agar industri tetap kompetitif,” tegasnya.
Melalui berbagai program diskusi, workshop, seminar, dan pelatihan, PDF terus berupaya membantu para pelaku industri dalam meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan pasar dan tantangan global.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Teguh juga berharap PDF semakin aktif memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan industri kemasan nasional.
“Indonesia merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara dengan populasi mencapai sekitar 280 juta jiwa.
Potensi industri kemasan, khususnya flexible packaging, sangat besar. Karena itu, kami berharap PDF dapat terus berperan dalam mendorong pertumbuhan, inovasi, dan daya saing industri kemasan Indonesia di tingkat regional maupun global,” pungkas Dr Teguh Maianto, MM Kepada Selatan News.com













































