KENDAL, SELATAN NEWS— Kraton Surakarta Hadiningrat menganugerahkan pangkat dan sesebutan kepada 13 abdi dalem di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Prosesi pemberian anugerah tersebut berlangsung dalam rangkaian acara adat dan budaya di Sendangdawuhan, Kecamatan Rowosari, Kendal, Sabtu (26/9/2026) malam.
Kegiatan yang dihadiri Bupati Kendal Hj. Dyah Kartika Permanasari, S.E., M.M., dan Wakil Bupati H. Benny Karnadi, S.Ag., tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat kekerabatan Kraton Surakarta Hadiningrat sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya Jawa di tengah masyarakat.
Dari pihak Kraton Surakarta, hadir Pangageng Sasana Wilapa GKR Dra. Koes Moertiyah Wandansari, M.Pd., serta Pangarsa Pakasa Punjer KPH Dr. Wirobhumi, S.H., M.M. Sejumlah sentana dan abdi dalem turut hadir untuk memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Prosesi pemberian pangkat dan sesebutan dilaksanakan melalui penyerahan serat kekancingan oleh KPH Dr. Wirobhumi. Selanjutnya, GKR Wandansari mengalungkan samir kepada para penerima anugerah. Bupati Kendal turut memberikan ucapan selamat kepada para abdi dalem yang menerima pangkat dan sesebutan.
Suasana khidmat menyertai prosesi yang berlangsung dengan tata cara adat Jawa. Para tamu undangan menyaksikan rangkaian acara dengan penuh antusias. Kehadiran pemerintah daerah dan keluarga besar Kraton Surakarta mencerminkan dukungan terhadap keberlangsungan tradisi dan kebudayaan Jawa di wilayah Kendal.
Perpaduan Tradisi dan Seni Budaya
Rangkaian acara diawali dengan jamuan makan bersama Bupati Kendal dan rombongan Kraton Surakarta. Para tamu kemudian menuju lokasi utama kegiatan, disambut dengan pengalungan melati rinonce kepada Bupati Kendal dan perwakilan Kraton Surakarta. Iringan gamelan lancaran Kebo Giro laras pelog menambah suasana sakral dalam prosesi adat tersebut.
Acara dilanjutkan dengan pembukaan oleh pembawa acara dari Kraton Surakarta, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta penampilan Tari Gambyong. Setelah sambutan dari kepala desa, Bupati Kendal, dan perwakilan Kraton Surakarta, kegiatan dilanjutkan dengan doa wilujengan dan prosesi penyerahan pangkat.
Sebagai bagian dari pelestarian seni pedalangan, panitia juga menyerahkan tiga tokoh wayang sebelum menggelar pagelaran wayang kulit dengan lakon Wahyu Cakraningrat. Pagelaran tersebut menghadirkan dalang Ki Aji Todho Gondo Darsono.
Lakon Wahyu Cakraningrat dipilih sebagai bagian dari kekayaan tradisi pewayangan Jawa yang sarat dengan pesan moral, kepemimpinan, tanggung jawab, dan nilai-nilai kehidupan. Melalui pertunjukan wayang, masyarakat tidak hanya menikmati seni pertunjukan, tetapi juga memperoleh ruang untuk memahami kembali ajaran luhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Sejumlah unsur seni dan tradisi dalam kegiatan tersebut menjadi penanda kuatnya hubungan antara kebudayaan, kehidupan sosial, dan identitas masyarakat Jawa.
Kekerabatan Kraton dan Pelestarian Kearifan Lokal
Kekerabatan Kraton Surakarta Hadiningrat di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Kendal, terjalin melalui Paguyuban Kawula Karaton Surakarta atau Pakasa. Keberadaan paguyuban tersebut menjadi salah satu wadah bagi masyarakat untuk menjaga hubungan kultural dengan kraton serta merawat tradisi Jawa di lingkungan masing-masing.
Di wilayah pesisir utara Jawa, tradisi dan kepercayaan lokal juga menjadi bagian dari khazanah kebudayaan masyarakat. Salah satunya adalah cerita mengenai Nyi Lanjar, sosok perempuan yang dalam tradisi tutur masyarakat pesisir dikenal sebagai penguasa Laut Jawa.
Kepercayaan tersebut merupakan bagian dari warisan folklor dan ekspresi spiritual masyarakat setempat. Dalam konteks kebudayaan, cerita Nyi Lanjar memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun hubungan simbolis dengan alam, khususnya laut yang menjadi ruang hidup dan sumber penghidupan nelayan.
Tradisi masyarakat pesisir Kendal, termasuk yang berkembang di kawasan Sendang Si Kucing dan Sendangdawuhan, menunjukkan perjumpaan antara adat, kepercayaan, dan kehidupan sosial. Warisan budaya semacam ini perlu dipahami sebagai bagian dari kekayaan tradisi Nusantara yang memiliki nilai historis dan sosial bagi masyarakat pendukungnya.
Dosen Universitas Negeri Yogyakarta, Dr. Purwadi Sosronagoro, M.Hum., turut mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut bersama Endah Budiarti, S.S., M.A., dosen seni pedalangan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, serta Sari Indah Setiani, S.S., Ketua Penerbit Bangun Bangsa. Mereka terlibat dalam dukungan akademik dan kebudayaan bagi pelaksanaan kegiatan di Kendal.
Kearifan Lokal sebagai Sumber Pendidikan Karakter
Nilai-nilai kearifan lokal Kraton Surakarta memiliki relevansi dengan pendidikan karakter generasi muda. Pitutur luhur, tata krama, unggah-ungguh, penghormatan kepada sesama, dan sikap menjaga harmoni sosial merupakan bagian dari ajaran budaya Jawa yang diwariskan melalui keluarga, masyarakat, sastra, dan seni pertunjukan.
Dalam dunia pendidikan, nilai-nilai tersebut dapat diintegrasikan ke dalam layanan bimbingan dan konseling untuk mendukung pembentukan karakter peserta didik yang selaras dengan Profil Pelajar Pancasila.
Pendekatan kebudayaan memungkinkan peserta didik memahami nilai moral melalui simbol, cerita, dan pengalaman yang dekat dengan kehidupan mereka. Seni pewayangan, misalnya, memuat dimensi tontonan, tuntunan, dan tatanan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber refleksi tentang perilaku, tanggung jawab, dan kehidupan bermasyarakat.
Sejumlah karya sastra Jawa, seperti Serat Wulangreh, Serat Wedhatama, dan Serat Centhini, juga menyimpan ajaran mengenai pengendalian diri, kebijaksanaan, dan pembentukan kepribadian. Nilai-nilai tersebut dapat dikaji secara kontekstual agar tetap relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini.
Dalam perspektif pendidikan Pancasila, kearifan lokal dapat menjadi jembatan untuk menanamkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Pengintegrasiannya dalam bimbingan dan konseling perlu dilakukan secara dialogis, inklusif, serta menghormati keberagaman latar belakang peserta didik.
Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya berorientasi pada keberlangsungan upacara dan kesenian, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Pemberian pangkat dan sesebutan kepada 13 abdi dalem Kendal menjadi salah satu momentum untuk mempererat hubungan antara Kraton Surakarta dan masyarakat. Lebih dari sekadar prosesi adat, kegiatan tersebut memperlihatkan peran tradisi dalam menjaga kesinambungan identitas budaya, memperkuat kekerabatan, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus.
Melalui sinergi kraton, pemerintah daerah, komunitas budaya, dan dunia pendidikan, kearifan lokal diharapkan terus hidup sebagai bagian dari jatidiri bangsa Indonesia yang berakar pada keberagaman budaya Nusantara.
SURAKARTA, 27 SEPTEMBER 2026
Penulis: Dr. Purwadi Sosronagoro



















































