Jakarta , Selatan News
Climate Talk Episode #1 mengajak filantropi, tokoh agama, dan masyarakat menerjemahkan komitmen iklim global menjadi gerakan lokal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Perubahan iklim tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan lingkungan semata. Dampaknya semakin nyata terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari ekonomi, ketahanan pangan, kesehatan, hingga keberlanjutan ekosistem.
Karena itu, upaya menghadapi krisis iklim membutuhkan keterlibatan berbagai kelompok masyarakat, termasuk lembaga filantropi, organisasi masyarakat sipil, serta tokoh dan pemimpin agama.
Pesan tersebut mengemuka dalam Climate Talk Episode #1 bertema “Iklim Indonesia Kini, Dulu & Masa Depan: Menerjemahkan Komitmen Global Menjadi Aksi Lokal yang Membumi”, yang digelar pada Selasa, 8 September 2026, di Cafe Greyhound Menteng, Jakarta.
Dalam forum tersebut, Rizal Algamar, Ketua Badan Pengurus Filantropi Indonesia sekaligus penggerak inisiatif Amanah Daya Nusantara, menegaskan pentingnya membangun narasi bersama di antara aktor-aktor nonpemerintah dalam mendorong aksi iklim di Indonesia.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal sosial yang sangat besar melalui keberadaan tokoh dan pemimpin agama yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi di tengah masyarakat, terutama di daerah.
“Kalau kita bisa mengajak pemimpin agama dan tokoh-tokoh agama bekerja bersama untuk menyuarakan aksi iklim yang sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat, maka pesan perubahan iklim akan lebih mudah diterima.
Kita perlu menghubungkan aspek ekonomi, ekologi, dan akhirnya teologi,” ujar Rizal Algamar.
Mengubah Narasi Iklim Menjadi Bahasa yang Dipahami Masyarakat
Rizal menilai salah satu tantangan terbesar dalam aksi iklim adalah bagaimana menerjemahkan isu yang bersifat global dan teknis menjadi bahasa yang sederhana serta relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Istilah seperti emisi karbon, kenaikan suhu global, atau target menjaga kenaikan temperatur bumi di bawah 1,5 derajat Celsius, menurutnya, masih terasa jauh dari kehidupan sebagian masyarakat.
“Kalau kita berada di ruangan ber-AC lalu suhunya dinaikkan atau diturunkan satu derajat, mungkin kita tidak langsung merasakan perbedaannya. Tetapi masyarakat perlu memahami apa dampaknya jika suhu bumi meningkat lebih jauh. Ini yang belum berhasil kita visualisasikan dan komunikasikan dengan baik,” katanya..
Karena itu, sebelum masuk pada kampanye dan aksi yang lebih luas, diperlukan satu narasi bersama dan satu tujuan bersama di antara para aktor perubahan.
Narasi tersebut harus mampu menjelaskan perubahan iklim melalui persoalan yang dekat dengan masyarakat: bagaimana aktivitas ekonomi memengaruhi lingkungan, bagaimana kerusakan ekologi berdampak kembali kepada kehidupan dan kesejahteraan masyarakat, serta bagaimana nilai-nilai agama dapat menjadi landasan moral untuk menjaga bumi.
70+ Organisasi Filantropi dalam Cluster Lingkungan
Inisiatif ini memiliki basis gerakan yang cukup kuat.
Dalam ekosistem Filantropi Indonesia, terdapat lebih dari 70 organisasi yang tergabung dalam Cluster Filantropi untuk Lingkungan.
Jaringan tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi persoalan lingkungan dan perubahan iklim.
Selain penguatan ekosistem filantropi, Amanah Daya Nusantara juga baru-baru ini meluncurkan Aksi Iklim Lintas Iman pada 27 Juli 2026.
Inisiatif ini melibatkan enam agama yang ada di Indonesia dan diarahkan untuk membangun gerakan bersama berbasis nilai-nilai universal keagamaan.
“Walaupun kita memiliki keyakinan yang berbeda-beda, ada nilai-nilai universal yang sama. Semua agama mengajarkan untuk tidak membuat kerusakan, tidak menyia-nyiakan sumber daya, dan menjaga kehidupan.
Nilai-nilai universal inilah yang bisa menjadi titik temu untuk mengkomunikasikan aksi iklim bersama,” jelas Rizal.
Menurutnya, aksi iklim lintas iman juga memiliki arti penting dalam membangun harapan dan keharmonisan sosial di tengah derasnya informasi negatif yang dikonsumsi masyarakat, termasuk anak-anak dan generasi muda.
Ketika masyarakat melihat para pemimpin agama dari berbagai keyakinan dapat duduk bersama dan mengambil tindakan untuk menjaga lingkungan, pesan yang muncul bukan hanya tentang perubahan iklim, tetapi juga tentang persatuan, gotong royong, dan harapan.
“Anak-anak kita sekarang tumbuh dengan begitu banyak berita negatif.
Kita ingin menunjukkan bahwa ada cerita lain: ada banyak kebaikan yang bisa dilakukan. Ketika aksi iklim lintas iman dijalankan bersama, masyarakat bisa melihat bahwa ada harapan dan bahwa perbedaan iman tidak menghalangi kita untuk bekerja bersama menjaga bumi,” tambahnya.
Menyiapkan Dai dan Pemuka Agama sebagai Penggerak Aksi Iklim
Sebagai tindak lanjut, Aksi Iklim Lintas Iman dalam waktu dekat akan mengembangkan program pelatihan bagi para dai, ustaz, pendeta, romo, dan pemuka agama lainnya.
Pelatihan tersebut dirancang untuk mengintegrasikan tiga perspektif utama, yakni ekonomi, ekologi, dan teologi.
Para pemuka agama pada dasarnya telah memiliki pemahaman yang kuat mengenai aspek teologi.
Tantangannya adalah memperkaya pemahaman tersebut dengan pengetahuan mengenai persoalan ekologis dan ekonomi sehingga dapat diterjemahkan menjadi materi ceramah dan pesan keagamaan yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
“Dari sisi teologi mereka sudah menguasai.
Yang ingin kita integrasikan adalah pemahaman mengenai ekologi dan ekonomi. Kita ingin mereka memahami apa yang rusak, bagaimana orientasi ekonomi memengaruhi lingkungan, kemudian bagaimana hal tersebut dapat dihubungkan dengan nilai-nilai teologi,” ujar Rizal.
Kurikulum pelatihan tersebut saat ini tengah dipersiapkan dan selanjutnya akan digunakan untuk melatih para penceramah lintas iman agar mampu menyampaikan isu perubahan iklim dengan bahasa yang sederhana, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan umat.
Kolaborasi Bertahap, Dimulai dari Aktor Nonpemerintah
Rizal menegaskan bahwa gerakan ini akan dibangun secara bertahap.
Tahap awal diarahkan untuk menyatukan perspektif para aktor nonpemerintah agar memiliki narasi dan tujuan yang sama mengenai aksi iklim.
Selanjutnya, kolaborasi akan diperluas dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, media, dunia usaha, komunitas, dan kelompok masyarakat lainnya.
“Kita ingin menyatukan dulu pandangan dari aktor-aktor nonpemerintah sehingga mereka mempunyai narasi yang sama dan satu tujuan.
Setelah itu, tentu kita akan datang dan berbicara dengan berbagai pemangku kepentingan, pemerintah, media, dan lainnya,” katanya.
Ia juga membuka ruang bagi keterlibatan Kementerian Lingkungan Hidup dan pemangku kepentingan pemerintah dalam tahapan berikutnya sehingga gerakan masyarakat dan kebijakan publik dapat saling memperkuat.
Climate Talk Episode #1 menjadi salah satu ruang awal untuk membangun percakapan tersebut: mempertemukan gagasan, memperkuat jejaring, dan mencari bahasa bersama agar agenda perubahan iklim tidak berhenti pada komitmen global, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Dari komitmen global menuju aksi lokal, dari nilai keagamaan menuju tindakan nyata, dan dari perbedaan menuju kolaborasi, gerakan aksi iklim Indonesia membutuhkan semua pihak.














































