SURAKARTA — Tradisi, spiritualitas, dan kebudayaan Jawa menjadi bagian penting dalam rangkaian narasi mengenai Keraton Surakarta Hadiningrat. Hal itu tergambar dalam karya tembang berjudul Mbāhu Dhendha Nyakrawati yang menggambarkan sosok pemimpin keraton, tata upacara, kehidupan abdi dalem, hingga berbagai tradisi keagamaan dan kebudayaan Jawa.
Dalam karya tersebut, prosesi jumenengan digambarkan berlangsung di Sitihinggil dan Bangsal Sewayana. Pemimpin keraton disebut mengucapkan prasetya serta menjalankan amanah sebagai narendra atau pemimpin. Narasi itu menempatkan kepemimpinan bukan hanya sebagai kedudukan, tetapi juga sebagai tanggung jawab menjaga tatanan kehidupan masyarakat.
Salah satu pesan yang menonjol adalah tuntutan agar pemimpin memiliki sikap adil, berpegang pada hukum, menepati perkataan, dan mengutamakan kebajikan. Prinsip tersebut dirangkum dalam gambaran tentang seorang nata ambeg adil paramarta yang menjalankan aturan dan menjadi teladan bagi masyarakat.
“Memayu hayuning rat”
Ungkapan tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai orientasi kepemimpinan yang diharapkan, yakni menjaga keselamatan, ketenteraman, dan keseimbangan kehidupan.
Tradisi Keraton dan Seni
Karya itu juga menggambarkan berbagai perangkat seni dan tradisi Keraton Surakarta. Bunyi gamelan seperti Monggang, Carabalen, Kodhok Ngorek, dan Calapita disebut mengiringi rangkaian kegiatan keraton. Kehadiran perangkat seni tersebut menunjukkan bahwa upacara keraton tidak dapat dilepaskan dari seni pertunjukan dan simbol-simbol budaya Jawa.
Tradisi ruwatan melalui lakon Sudamala juga disebut sebagai bagian dari tata cara keraton. Selain itu, terdapat gambaran mengenai Bedhaya Ketawang, Bangsal Sewayana, Sitihinggil, serta berbagai ruang dan bangsal yang menjadi bagian dari lingkungan keraton.
Rangkaian menjelang jumenengan juga digambarkan melalui kegiatan malam midodareni. Para abdi dalem disebut berkumpul di Sasana Sewaka, sementara Bedhaya Ketawang menjalani latihan. Pada saat yang sama, terdapat kegiatan doa dan permohonan kepada Tuhan.
Spiritualitas dalam Kehidupan Keraton
Dimensi spiritual menjadi bagian lain yang cukup kuat dalam karya tersebut. Kegiatan ibadah digambarkan melalui salat tahajud, membaca Al Quran, dan kegiatan keagamaan bersama. Narasi ini memperlihatkan bagaimana tradisi keraton ditempatkan berdampingan dengan praktik keislaman.
Pada bagian lain, sosok pemimpin juga digambarkan menjalankan laku prihatin, mesu budi, serta melakukan perjalanan ke sejumlah tempat yang memiliki makna historis dan spiritual. Masjid Agung Surakarta, Masjid Laweyan, Langenharja, Ki Ageng Sela, Kotagede, hingga Demak disebut dalam rangkaian tersebut.
Narasi itu juga menyebut perjalanan ke kawasan Parang Kusuma dan sejumlah lokasi yang berkaitan dengan sejarah serta kosmologi Jawa. Tradisi tersebut digambarkan sebagai bagian dari upaya refleksi dan pencarian ketenteraman batin.
Pemimpin sebagai Pengayom
Dalam bagian lain, Paku Buwono digambarkan sebagai sosok yang diharapkan mampu menjadi pengayom. Nilai seperti keguyuban, gotong royong, ketekunan, kehati-hatian, dan tanggung jawab sosial muncul berulang dalam tembang tersebut.
Masyarakat digambarkan tidak hanya sebagai penerima kebijakan, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan keraton. Hubungan antara raja, abdi dalem, sentana, dan kawula ditempatkan dalam kerangka kebersamaan serta pengabdian.
Dalam konteks itu, karya Mbāhu Dhendha Nyakrawati tidak hanya berbicara mengenai figur pemimpin, tetapi juga menggambarkan hubungan antara kepemimpinan, kebudayaan, spiritualitas, dan kehidupan sosial masyarakat Jawa.
Merawat Tradisi di Tengah Perubahan Zaman
Berbagai tradisi seperti Grebeg Sura, Grebeg Sekaten, Grebeg Besar, Grebeg Syawal, nyadran, dan berbagai ritual keraton juga menjadi bagian penting dalam karya tersebut.
Grebeg Sura, misalnya, digambarkan melalui arak-arakan Kyai Slamet sebagai bagian dari pergantian tahun Jawa. Sementara Grebeg Syawal dikaitkan dengan Idul Fitri, gunungan hasil bumi, tahlil, tahmid, takbir, serta silaturahmi.
Grebeg Sekaten juga disebut sebagai bagian dari perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam narasi tersebut, gamelan Kyai Guntur Sari dan Guntur Madu menjadi bagian dari tradisi yang menghubungkan kesenian Jawa dengan ekspresi keagamaan.
Pada akhirnya, karya tersebut menempatkan kebudayaan Jawa sebagai sesuatu yang perlu dirawat secara berkelanjutan. Para abdi dalem digambarkan turut menjaga keberlangsungan tradisi, sementara kepemimpinan keraton diposisikan sebagai salah satu unsur penting dalam mempertahankan warisan budaya.
Karya Mbāhu Dhendha Nyakrawati ditutup dengan penegasan mengenai harapan agar kebudayaan Jawa terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kabudayan Jawi tuwuh semi,
Ndherek sri narpati,
Jeng nata Sinuwun.”
Surakarta Hadiningrat, Jumat Pon, 18 September 2026.
Purwadi














































