SURAKARTA — Bunyi gamelan mulai terdengar sejak pagi. Para abdi dalem duduk bersila di Pagelaran Sasana Sumewa, Bangsal Sewayana, dan Sitihinggil. Mereka mengenakan busana adat. Sebagian datang dari luar kota, bahkan dari luar Jawa Tengah.
Sabtu Kliwon, 5 September 2026, Karaton Surakarta Hadiningrat menggelar Jumenengan Kanjeng Sinuwun Sri Susuhunan Paku Buwono XIV.
Bagi lingkungan keraton, ini bukan sekadar upacara penobatan. Jumenengan adalah penegasan takhta sekaligus pelaksanaan paugeran—aturan adat yang menjadi rujukan dalam pergantian raja.
Paku Buwono XIV bergelar lengkap Sahandhap Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Susuhunan Paku Buwono XIV Senapati ing Ngalaga Khalifatullah Ngabdurrahman Sayyidin Panatagama.
Prosesi berlangsung di tengah suasana yang sarat simbol. Gamelan menjadi penanda. Pusaka menjadi perlengkapan. Doa menjadi pengikat. Dan sumpah raja menjadi inti acara.
Dari Kartasura ke Surakarta
Karaton Surakarta berdiri pada 17 Sura atau 20 Februari 1745. Paku Buwono II menjadi raja pertama yang bertahta di Surakarta. Sebelumnya ia memerintah Mataram dari Kartasura sejak 1726.
Pemindahan pusat kerajaan itu merupakan bagian dari sejarah panjang Mataram. Surakarta kemudian tumbuh sebagai pusat pemerintahan, kebudayaan, dan kehidupan spiritual Jawa.
Dalam tradisi yang berkembang di lingkungan keraton, tanah yang kemudian menjadi kawasan Surakarta diperoleh dari Ki Gedhe Sala. Tanah itu kemudian diruwat oleh Pangeran Mijil dari Kadilangu, Demak.
Pembangunan keraton melibatkan sejumlah tokoh: Tumenggung Honggowongso, Adipati Padmonagoro, Kyai Yasadipura, dan Patih Pringgalaya.
Ada birokrat. Ada ahli tata pemerintahan. Ada pujangga. Ada tokoh spiritual.
Pembangunan Surakarta sejak awal memperlihatkan pertemuan antara kekuasaan politik, pengetahuan, kebudayaan, dan laku spiritual.
Dari sinilah takhta Surakarta berjalan dari generasi ke generasi.
Paku Buwono II disusul Paku Buwono III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, XI, XII, dan XIII.
Setelah Paku Buwono XIII wafat, takhta kemudian berlanjut kepada Paku Buwono XIV.
Takhta dan Paugeran
Jumenengan 5 September 2026 bukan peristiwa yang muncul tiba-tiba.
Dalam kronologi yang digunakan lingkungan adat keraton, proses menuju Paku Buwono XIV telah berlangsung sejak lama.
BRM Suryo Suharto dinaikkan menjadi GPH Mangkubumi pada 2004. Setelah ayahandanya dinobatkan sebagai Paku Buwono XIII, ia kemudian bergelar KGPH Hangabehi pada 2023.
Pada 13 November 2025, KGPH Hangabehi dikukuhkan.
Setelah wafatnya Paku Buwono XIII, ia kemudian tampil sebagai penerus takhta berdasarkan hukum adat yang diyakini berlaku di lingkungan keraton.
Dengan demikian, Jumenengan pada September 2026 menjadi puncak dari rangkaian proses tersebut.
Lembaga Dewan Adat pimpinan GKR Dra Koes Moertiyah Wandansari menjadi salah satu unsur utama dalam penataan prosesi.
Bagi keraton, ketelitian bukan sekadar soal teknis.
Letak seseorang duduk, siapa yang berjalan lebih dahulu, kapan gamelan ditabuh, pusaka apa yang dibawa, dan kapan raja keluar dari ruang tertentu semuanya memiliki aturan.
Sehari Sebelumnya
Jumat Wage, 4 September 2026, keraton sudah sibuk.
Pukul 14.00, abdi dalem pengrawit memainkan Gendhing Kodhok Ngorek. Permainan dipimpin BRM Dr Lintang Sasongko, M.Si., cucu Paku Buwono X.
Ia dikenal sebagai dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret dan bertugas sebagai tindih karawitan Karaton Surakarta.
Para pengrawit sebagian besar masih muda.
Mereka mengenakan iket dan blangkon. Samir merah-kuning melingkar di leher.
Di antara mereka tampak generasi baru yang memperoleh pendidikan karawitan di perguruan tinggi. ISI Surakarta ikut memberikan dukungan.
Tradisi, dalam adegan itu, tidak tampil sebagai sesuatu yang beku.
Ia dipelajari ulang oleh generasi baru.
Pukul 15.00, gendhing patalon berkumandang di Pagelaran Sasana Sumewa.
Cucur Bawuk dimainkan lebih dahulu. Kemudian Pareanom, Lambangsari, Sukmailang, Ayak, Srepeg, dan Sampak.
Suasana berubah menjadi wingit.
Ruwatan
Pada hari yang sama dilakukan ruwatan untuk Paku Buwono XIV.
Dalang ruwat adalah Ki Sri Susilo, dalang kenamaan Surakarta yang pernah menjadi cantrik dekat Ki Manteb Sudarsono.
Ki Sri Susilo dikenal sebagai dalang sabet dan pencipta lagu. Salah satu karyanya, Imbangana Katresnanku, dikenal di kalangan penggemar karawitan dan pedalangan.
Ruwatan dimaksudkan untuk memohon keselamatan, ketenteraman, dan kesejahteraan.
Malamnya, sentana keraton sowan ke Sasana Sewaka.
Bedhaya Ketawang ditampilkan selama sekitar dua jam.
Busana Jawa lengkap dikenakan.
Di Masjid Paramasana, doa malam dilakukan.
Paku Buwono XIV menjalankan salat lail dan bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Dalam rangkaian itu, kekuasaan dan spiritualitas kembali bertemu.
Abdi Dalem dari Berbagai Penjuru
Pagi 5 September, selepas Subuh, keraton mulai penuh.
Janur menghiasi Pagelaran, Sitihinggil, dan Kamandungan.
Para abdi dalem berdatangan dari Jakarta, Bekasi, Semarang, Kendal, Tegal, Pekalongan, Banjarnegara, Cilacap, Banyumas, Magelang, Demak, Grobogan, Kudus, Jepara, Pati, hingga Purworejo.
Dari wilayah Subosukawonosraten—Sukoharjo, Boyolali, Surakarta, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten—mereka datang untuk ndherek sowan.
Pakasa Jawa Timur juga hadir dari Blitar, Kediri, Trenggalek, Tulungagung, Nganjuk, Madiun, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, Malang, hingga Sidoarjo.
Mereka datang dengan satu alasan sederhana: mempertahankan hubungan dengan tradisi leluhur.
Sekitar pukul 07.00 mereka berkumpul.
Duduk lesehan.
Berjajar.
Menunggu Sinuwun miyos.
Ketika Raja Keluar
Barisan prajurit Doropati, Prawiro Anom, dan Jayeng Astra bergerak.
Tambur, suling, selompret, bendhe, dan beri berbunyi bertalu-talu.
Iring-iringan bergerak dari Bale Mangu menuju Balerata.
Kanjeng Sinuwun akan keluar.
Dari Dalem Ageng Kamar Pusaka, Paku Buwono XIV miyos didampingi sentana, abdi dalem ampilan, dan pembesar keraton.
Abdi dalem Katimuran berada dekat dengan Sinuwun. Sebagian masih anak-anak di bawah tujuh tahun.
Songsong gilap dikembangkan.
Pusaka dan perlengkapan upacara dibawa oleh para abdi dalem ngampil.
Sawung Galing, Harda Walipa, Kacumas, Jaka Palara-Lara, dan berbagai perlengkapan lain ikut diarak.
GKR Wandansari berada di tengah kesibukan itu. Ia ikut memastikan tata cara berjalan sesuai rancangan.
Bahasa Gamelan
Gamelan Carabalen mulai dimainkan.
Dua perangkat berada di Sasana Sewaka. Dua perangkat di Pintu Gapit. Satu perangkat di Bale Mangu.
Gendhing Sri Katon menjadi tanda Sinuwun miyos.
Ladrang Wilujeng dimainkan sebagai harapan keselamatan.
Ladrang Puspa Warna menjadi penghormatan kepada para tamu.
Dalam keraton, gamelan bukan sekadar musik pengiring.
Ia adalah penanda waktu.
Penanda gerak.
Penanda kedudukan.
Dan penanda perubahan suasana.
Sumpah di Sela Gilang
Paku Buwono XIV bergerak dari Sasana Sewaka menuju Sitihinggil.
Rute itu melewati Paningrat, Maligi, bawah Panggung Sangga Buwana, Nguntarasana, Kamandungan, Lawang Gapit, Kori Mangu, Sitihinggil, hingga Bangsal Sewayana.
Ribuan mata mengikuti geraknya.
Karpet merah terbentang.
Mawar, melati, dan kenanga ditaburkan.
Gamelan dimainkan bersamaan.
Suasana menjadi riuh sekaligus khidmat.
Lalu semuanya berubah hening.
Di depan Sela Gilang, Paku Buwono XIV mengucapkan prasetya narendra, sumpah seorang raja.
Dhedhep tidhem sabawaning ratri.
Ron ronan datan obah.
Samirana datan lumampah.
Tidak ada yang bergerak.
Para abdi dalem memperhatikan.
Sembah grana dilakukan.
Caos.
Sungkem.
Pangabekti.
Beberapa orang tampak terharu.
Air mata jatuh.
Bagi mereka, ini bukan pertunjukan.
Ini adalah amanah.
Raja dan Rakyat
Setelah sumpah, ulama Keraton Surakarta memanjatkan doa.
Bahasa Arab dan bahasa Jawa berkelindan.
Kanca Kaji mendampingi.
Doa ditujukan untuk keselamatan Sinuwun, keraton, kawula, dan kehidupan bersama.
Paku Buwono XIV kemudian kondur ngadhaton.
Busana keprabon dilepas.
Para pangarsa Pakasa mengenakan kampuh dodotan dan duduk di Semarakata bersama ulama serta Kanca Kaji.
Bedhaya Ketawang kembali ditampilkan.
Kendhang, gong, kemanak, kenong, dan suling mengisi ruang.
Para penari telah menjalani laku selama berhari-hari sebelum pertunjukan.
Ketika Gendhing Calapita dimainkan, Bedhaya Ketawang berakhir.
Pisowanan agung pun mencapai penghujung.
Merawat Keraton di Zaman Berubah
Jumenengan Paku Buwono XIV memperlihatkan bahwa Karaton Surakarta masih mempunyai satu modal yang sulit digantikan: ingatan.
Ingatan itu berada pada abdi dalem.
Pada sentana.
Pada pengrawit.
Pada penari.
Pada ulama.
Pada Pakasa.
Pada pusaka.
Dan pada paugeran.
Tetapi menjaga tradisi bukan pekerjaan mudah.
Keraton hidup di tengah negara modern, masyarakat modern, pendidikan modern, dan perubahan sosial yang cepat.
Karena itu, Jumenengan tidak hanya berbicara tentang siapa yang duduk di takhta.
Ia juga mengajukan pertanyaan yang lebih panjang:
Apa yang harus dipertahankan dari masa lalu, dan bagaimana tradisi itu ditempatkan dalam masa depan?
Pada 5 September 2026, jawaban keraton hadir dalam bentuk yang sangat Jawa.
Gamelan ditabuh.
Pusaka diarak.
Raja bersumpah.
Ulama berdoa.
Abdi dalem bersimpuh.
Bedhaya menari.
Dan ribuan orang menyaksikan.
Pada akhirnya, seluruh rangkaian itu kembali kepada satu cita-cita:
Mangasah mingising budi.
Memasuh malaning bumi.
Memayu hayuning bawana.
Mengasah budi.
Membersihkan keburukan bumi.
Dan merawat keselamatan dunia.
Surakarta Hadiningrat, Setu Kliwon, 5 September 2026
Purwadi














































