Jakarta, Poskota Nasional
Dalam acara peluncuran buku “Dari Loyang Jadi Emas” yang digelar di Ballroom Hotel Westin, Sahat M. Sinaga menyampaikan gagasan-gagasan strategis dan inovatif terkait masa depan industri kelapa sawit Indonesia. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya pendekatan teknologi yang tidak hanya mengejar efisiensi, tetapi juga menjaga kandungan nutrisi demi menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat Indonesia.

Menurut Sahat, teknologi pengolahan yang selama ini diadopsi cenderung mengikuti standar Eropa, yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Ia menyoroti bahwa proses physical refining dengan suhu tinggi hingga 265°C berpotensi menghilangkan vitamin penting dalam minyak.
Sebagai alternatif, ia memperkenalkan pendekatan teknologi esterification dengan suhu lebih rendah, sekitar 55°C, yang mampu mempertahankan kandungan nutrisi dalam minyak sehingga lebih bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi masalah kekurangan vitamin dan stunting.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pemain pasif di pasar global.
Dengan sumber daya yang dimiliki, Indonesia justru memiliki peluang untuk memimpin dunia dalam penyediaan produk yang lebih sehat dan rendah emisi karbon.
Dalam aspek investasi, Sahat mengungkapkan bahwa pengembangan teknologi ini mendapat dukungan dari Yayasan Pembangunan Potensi Sumber Daya Pertahanan (YPPSB). Sementara itu, dari sisi hilir, terdapat minat kuat dari pihak China yang siap menyerap hingga 100% produksi.
Namun demikian, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dengan tetap memprioritaskan kebutuhan dalam negeri, dengan alokasi sekitar 30% untuk pasar domestik.
Tidak hanya fokus pada teknologi, Sahat juga menyoroti pentingnya transformasi di tingkat petani.
Ia mengajak para petani sawit untuk tidak lagi bekerja secara individual, melainkan bergabung dalam koperasi atau entitas bersama agar produktivitas dan kesejahteraan dapat meningkat secara signifikan.
Selain itu, ia menggarisbawahi urgensi penguatan aspek kesehatan tanaman sawit. Menurutnya, Indonesia perlu memiliki “dokter tanaman sawit” di setiap provinsi, sebagai bagian dari pengembangan keilmuan di bidang pertanian. Hal ini dinilai penting mengingat peran strategis sawit sebagai salah satu sumber pendapatan utama negara.
Menutup pernyataannya, Sahat berharap pemikiran-pemikiran ini dapat disebarluaskan melalui media agar menjadi perhatian bersama, khususnya bagi para pemangku kepentingan di sektor perkebunan sawit.
“Dari Loyang Jadi Emas” merupakan refleksi pemikiran dan pengalaman yang mengangkat potensi besar Indonesia dalam mengelola sumber daya secara inovatif dan berkelanjutan.










































