
UJIAN EKSTRIM PARA KEKASIH ALLAH
Oleh: Kang Diki Candra*)
(Allah ingin menegaskan iman sejati kepada Allah, berarti menembus kecintaan dunia tertinggi atau ketakutan mendalam, demi tugas ilahi)
Merupakan sunnatullah dalam sejarah ujian berat terhadap para utusan Allah dan para pewarisnya atau kepada sosok pilihan Allah (ulama, wali, mujadid dan nanti kepada sosok yang disebut akan muncul di akhir ujung akhir zaman).
Yakni ujian yang tampak “melawan arus” padangan umum, “ekstrim”, atau “tidak masuk akal secara zahir”, tetapi hakikatnya adalah ujian cinta dan ketaatan tertinggi kepada Allah.
Sebagai Prinsip Dasar yaitu Ujian Cinta Tertinggi Adalah Pengorbanan terhadap yang Dicintai.
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata ‘kami beriman’, sedang mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 2)
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (al-birr) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 92)
Ayat ini menunjukkan bahwa ukuran cinta dan keimanan adalah sejauh mana seseorang rela mengorbankan apa yang paling dicintainya karena Allah.
Ujian “Ekstrim” Para Rasul dan Nabi: Melawan Logika Duniawi. Dalam hal ini baiknya kita melihat sejarah dari para Nabi dan Rasul yaitu:
1. Nabi Ibrahim As. Bermimpi diperintah menyembelih anaknya (Ismail). “Maka tatkala anak itu telah sampai (pada umur sanggup) berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.’” (QS. As-Shaffat [37]: 102).
Ini adalah perintah yang tampak justru bertentangan dengan kasih sayang ayah terhadap anak dan dengan logika moral manusia biasa. Namun, tujuannya adalah untuk menampakkan cinta sejati kepada Allah di atas segala sesuatu.
Imam Al-Razi (Mafatihul Ghaib) dalam tafsirnya menjelaskan : “Allah menguji Ibrahim dengan sesuatu yang paling dicintainya, agar terbukti bahwa cintanya kepada Allah melebihi cinta kepada anaknya.” Sehingga dapat diambil pelajaran bahwa Cinta kepada Allah diuji melalui pengorbanan terhadap cinta dunia tertinggi (anak-istri-harta).
2. Nabi Musa As. diperintah menghadapi Fir’aun sendirian. “Pergilah kepada Fir‘aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas.” (QS. Taha [20]: 24). Musa awalnya takut dan berkata: “Ya Rabb, lapangkanlah dadaku … dan jadikanlah Harun saudaraku sebagai pendampingku.”(QS. Taha [20]: 25–32).
Perintah pada Musa ini tampak mustahil : seorang yang terusir dari lingkaran istana, kembali menantang penguasa dunia paling zalim. Tapi Allah ingin menegaskan bahwa iman sejati berarti menembus ketakutan demi tugas ilahi.
3. Nabi Nuh — Diperintah terus berdakwah 950 tahun tanpa hasil besar. “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 14)
Ujiannya bukan perintah aneh, tapi perintah yang sangat melelahkan dan melawan arus sosial. Ia dihina, dicemooh, bahkan dianggap gila.Hal 8ni memiliki Makna ruhaniah bahwa Allah ingin memperlihatkan siapa yang benar-benar berdiri di atas kebenaran meski seluruh dunia menolak.
4. Nabi Khidir — Diperintah melakukan hal yang tampak “tidak bermoral”. Dalam kisah bersama Musa (QS. Al-Kahfi [18]: 60–82), Nabi Khidir melakukan sesuatu yang sekilas nampaknya bermoral dengan: Merusak kapal orang miskin,
– Membunuh seorang anak kecil, Menegakkan dinding tanpa upah.
Semua tampak melawan akal, hokum agama itu sendiri dan moral umum. Namun pada akhirnya semua memiliki hikmah ilahi. Pelajaran apakah yang bisa diambil
Misalnya, Perintah Allah kadang tampak “melawan arus” karena akal manusia tidak mampu langsung menangkap hikmah ghaib di baliknya.
Nabi Muhammad ﷺ — Diuji antara kasi keluarga dan perintah Allah.
– Hijrah dan peperangan: meninggalkan kampung, sahabat, bahkan keluarga.
– Perjanjian Hudaibiyah: tampak “merugikan” umat, tapi hakikatnya kemenangan besar (QS. Al-Fath: 1).
– Kesia-siaan berdoa bagi paman (Abu Thalib) meskipun sangat dicintai.
“Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash [28]: 56)
Pelajaran yang bisa diambil adalah Cinta kepada Allah berarti tunduk total, bahkan ketika hati menangis karena keluarga sendiri belum mendapat hidayah. Sunnatullah Ini Berlaku Pula pada Pewaris Nabi: Ulama, Wali, dan Mujadid.
“Para ulama adalah pewaris para nabi.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Maka mereka pun diuji dengan pola yang sama :
a. Imam Ahmad bin Hambal diuji cambuk karena menolak doktrin Alquran itu Makhluk.
b. Syaikh Abdul Qodir Jailany
“Abdul Qodir al-Jailani diuji dengan Tampak di hadapannya cahaya besar memenuhi langit dan bumi, dan terdengar suara berkata:
“Wahai Abdul Qadir, Aku adalah Tuhanmu, dan Aku telah menghalalkan bagimu apa yang Aku haramkan bagi selainmu.”
Syekh Abdul Qadir segera berlindung kepada Allah dan berkata: “A‘ūdzu billāh min ash-shayṭānir-rajīm! Kau adalah Iblis!”
Maka cahaya itu padam dan terdengar suara Iblis berkata: “Engkau telah selamat dariku, wahai Abdul Qadir, dengan ilmumu dan bashīrah-mu. Aku telah menyesatkan 70 orang sufi dengan ujian seperti ini sebelum engkau.”
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah menguji beliau dengan ujian makrifat tertinggi — bukan harta, bukan jabatan, tapi fitnah spiritual: menguji apakah beliau akan berhenti di “rasa dekat” atau terus mencari dzat Allah yang mutlak.
c. Imam Al-Ghazali diperintah meninggalkan kemasyhuran dan harta, hingga hidup sebagai pengembara spiritual. Ujian-ujian ini terkadang tampak ekstrem atau aneh di mata umat islam pada umumnya, namun semua itu adalah proses tajrid (pengosongan diri) untuk menguji cinta sejati kepada Allah.
“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung pada besarnya ujian. Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barangsiapa ridha, maka baginya keridhaan; barangsiapa murka, maka baginya kemurkaan.” (HR. Tirmidzi, hasan sahih)
“Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang semisal mereka, lalu yang semisalnya lagi.”
(HR. Ibnu Majah, Ahmad)
Kesimpulannya, Hakekat ujian ekstrem merupakan Bentuk perintah Allah yang tampak bertentangan dengan akal, moral umum, atau kecintaan duniawi. Dengan Tujuannya Menguji dan menampakkan tingkat cinta dan ketaatan hamba kepada Allah. Allah ingin memisahkan antara yang mencintai Allah karena dunia dan yang mencintai Allah karena Allah semata.
“Ketika Allah ingin meninggikan derajat seorang kekasih-Nya, maka Dia uji dengan sesuatu yang paling dicintainya.” (Imam Ibn ‘Atha’illah, al-Hikam).
Maka, bila seorang mujadid atau wali atau sosok yang akan muncul di ujung akhir zaman, diperintah melakukan sesuatu yang berat, bahkan tampak “melawan arus”, bisa jadi itu adalah ujian untuk menampakkan siapa yang benar-benar mencintai Allah, bukan sekadar mengikuti tren ketaatan.
23 Oktober 2025
Penulis, adalah Diki Candra Purnama, Ketua Majelis Gaza. Hr/Am










































