CILACAP, Selatan News— Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat menggelar wilujengan di kawasan Teluk Penyu, Pulau Majeti, dan Masigit Sela, Donan, Cilacap, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari tata cara purnagati Pahargyan Jumenengan Dalem Kanjeng Sinuhun Paku Buwono XIV Hangabehi melalui prosesi Purnagati Sekar Wijayakusuma Wiwaha.
Kegiatan ini dihadiri warga Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Kehadiran mereka menjadi wujud dukungan terhadap pelestarian tradisi, kebudayaan, serta pengabdian kepada Karaton Surakarta Hadiningrat.
Sejumlah perwakilan Pakasa dari Jawa Tengah yang hadir antara lain Kudus, Pati, Demak, Semarang, Jepara, Kendal, Tegal, Magelang, Banjarnegara, dan Cilacap. Hadir pula Pakasa Solo Raya yang meliputi Sukoharjo, Boyolali, Surakarta, Karanganyar, Sragen, Klaten, dan Wonogiri, serta perwakilan dari Sleman, Yogyakarta.
Dari Jawa Timur, utusan Pakasa datang dari Ngawi, Madiun, Ponorogo, Nganjuk, dan Trenggalek. Mereka mengikuti rangkaian tata cara sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi Karaton Surakarta Hadiningrat sekaligus memanjatkan doa bagi kelangsungan kepemimpinan keraton.
Bregada Nguntara Praja Tampil dalam Balutan Tradisional-Modern
Salah satu kelompok yang bertugas dalam kegiatan tersebut adalah Bregada Nguntara Praja, yang dipimpin KP Bambang Hadiningrat. Pada Sabtu Paing, 17 Oktober 2026, para anggota bregada tampil dengan busana prajurit yang memadukan unsur tradisional dan modern.
Kehadiran bregada menjadi bagian dari pelaksanaan tata cara sekaligus memperlihatkan keterlibatan warga paguyuban dalam mendukung penyelenggaraan kegiatan adat. Semangat gawa gawe—bekerja bersama dan mengambil bagian dalam pelaksanaan tugas—menjadi salah satu wujud pengabdian yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut.
Partisipasi berbagai daerah juga mencerminkan semangat gotong royong warga Pakasa. Mereka hadir dengan kesiapan tenaga, pikiran, dan komitmen untuk menjaga keberlanjutan tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.
Empat Prasetya Pakasa Magelang
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Pakasa Magelang menyampaikan Catur Prasetya yang memuat empat pokok pengabdian.
Pertama, Pakasa Magelang menyatakan keterwakilannya dalam menjaga warisan trah Patih Sindureja, yang dikenal sebagai perdana menteri pada masa Kerajaan Mataram Surakarta. Pengabdian tersebut dimaknai sebagai darma bakti lahir dan batin.
Kedua, dengan menyertakan penghormatan kepada leluhur bumi Donan, Pakasa Magelang menyampaikan sungkem pangabekti kepada Kanjeng Sinuhun Paku Buwono XIV Hangabehi.
Ketiga, Pakasa Magelang menyatakan kesiapan melaksanakan gawa gawe melalui Lembaga Dewan Adat yang dipimpin GKR Dra. Koes Moertiyah Wandansari, M.Pd.
Keempat, pengabdian kepada Karaton Surakarta Hadiningrat ditegaskan melalui sesanti, “Lila lan legawa kanggo mulyaning negara”, yang mengandung makna keikhlasan dan kelapangan hati demi kemuliaan negara.
Pernyataan tersebut disampaikan di Donan, Cilacap, pada 17 Oktober 2026, dengan KRT Bagiyono Sindurejo sebagai penanda tangan atas nama Pakasa Magelang.
Pakasa Klaten Mengusung Lima Pokok Pengabdian
Pakasa Klaten menyampaikan Panca Krida yang berisi lima pokok harapan dan pengabdian. Pertama, keikutsertaan dalam miwaha Sekar Wijayakusuma diharapkan membawa Karaton Surakarta Hadiningrat semakin harum namanya dan berjaya.
Kedua, Pulau Majeti dimaknai sebagai lambang kejayaan, sedangkan Masigit Sela menjadi lambang kesentosaan, dengan doa restu para leluhur sebagai landasan spiritual.
Ketiga, prosesi tersebut diharapkan membawa kemakmuran dan ketenteraman bagi sentana serta abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat.
Keempat, darma bakti Pakasa Klaten diarahkan kepada Sahandhap Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Paku Buwono XIV Hangabehi.
Kelima, pelaksanaan gawa gawe ditegaskan sebagai bentuk kepatuhan terhadap dhawuh Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat berdasarkan paugeran atau aturan adat yang berlaku.
Panca Krida itu ditandatangani KRA H. Yoga Hardaya, S.H., M.H., di Pulau Majeti dan Masigit Sela, Donan, Cilacap, pada 17 Oktober 2026.
Pakasa Nganjuk Menekankan Doa dan Harmoni
Pakasa Nganjuk menyampaikan Tri Dharma yang menitikberatkan pada doa, penghormatan kepada leluhur, dan harapan atas keselamatan bersama.
Dalam pernyataannya, Pakasa Nganjuk menyebut pengabdian tersebut sebagai bagian dari puji pangastuti kepada Kanjeng Sinuhun Paku Buwono XIV dan Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat. Harapannya, kepemimpinan keraton senantiasa memperoleh keselamatan dan keberkahan.
Pakasa Nganjuk juga menyampaikan penghormatan spiritual kepada Kanjeng Ratu Kencono Hadisari, yang dalam tradisi setempat dikaitkan dengan penguasa Samudra Kidul. Doa tersebut diarahkan bagi terjaganya kewibawaan, keselamatan, kebahagiaan, dan kemuliaan Karaton Surakarta Hadiningrat.
Pokok ketiga menghubungkan prosesi Sekar Wijayakusuma di kawasan Samudra Kidul dengan Kedhaton Soko Dhomas Bale Kencono. Hubungan tersebut dimaknai sebagai harapan bagi terciptanya dunia yang aman, damai, dan sejahtera.
Pernyataan Tri Dharma ditandatangani KRT Sukoco Madunagoro atas nama Pakasa Nganjuk di Soko Dhomas Bale Kencono, Sabtu Paing, 17 Oktober 2026.
Sapta Bakti Pakasa Ponorogo
Sementara itu, Pakasa Ponorogo menyampaikan Sapta Bakti yang terdiri atas tujuh pokok pengabdian. Pernyataan tersebut menempatkan sejarah, loyalitas, gotong royong, dan pelestarian budaya sebagai landasan keterlibatan warga paguyuban.
Pakasa Ponorogo mengaitkan perjalanan pengabdian masyarakat Ponorogo dengan sejarah berdirinya Karaton Surakarta Hadiningrat pada masa Sinuhun Paku Buwono II. Dalam konteks kepemimpinan Paku Buwono XIV, mereka menyatakan kesiapan bekerja bersama Lembaga Dewan Adat dengan mengerahkan tenaga, pikiran, dan kemampuan.
Sesanti “Setya Saraya Rumeksa” menjadi prinsip utama yang dipegang. Setya dimaknai sebagai kesetiaan dan keteguhan; saraya sebagai kesiapsediaan untuk membantu dan bergotong royong; sedangkan rumeksa berarti menjaga serta melestarikan warisan luhur para leluhur.
Pakasa Ponorogo juga menegaskan pentingnya memetri seni yang edi peni dan adi luhung, yakni menjaga keindahan serta nilai luhur kebudayaan. Warisan budaya Karaton Surakarta Hadiningrat dipandang bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan juga sumber pembelajaran mengenai kawruh kasampurnan, atau pengetahuan tentang kesempurnaan hidup.
Dalam konteks tersebut, Sekar Wijayakusuma ditempatkan sebagai simbol penting dalam tradisi tanah Jawa. Pakasa Ponorogo menyatakan komitmennya untuk terus melestarikan tradisi dan mengabdi kepada Karaton Surakarta Hadiningrat.
Wilujengan sebagai Ruang Pengabdian Budaya
Wilujengan di Teluk Penyu, Cilacap, dipimpin GRAy Putri Purnaningrum. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan warga Pakasa lintas daerah dalam suasana kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, dan doa bagi keberlangsungan tradisi.
Semangat yang mengemuka adalah gawa gawe: kesediaan untuk mengambil bagian, bekerja bersama, dan mengerahkan kemampuan demi kepentingan bersama. Dalam pelaksanaannya, warga Pakasa menampilkan sikap gumreget, gumregut, gumregah—semangat yang menyala, ketekunan dalam bekerja, dan kesiapan untuk bergerak.
Melalui prosesi Purnagati Sekar Wijayakusuma Wiwaha, para peserta berharap Karaton Surakarta Hadiningrat beserta sentana, abdi dalem, dan warga paguyuban senantiasa memperoleh keselamatan, ketenteraman, serta kesejahteraan.
Di tengah perubahan zaman, keterlibatan lintas daerah tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi tidak hanya bertumpu pada upacara, tetapi juga pada kesediaan masyarakat untuk merawat warisan budaya melalui tindakan bersama.
Donan, Cilacap, 17 Oktober 2026.













































