By : Reynold A.
“Dari Monas, persaudaraan kembali dirajut. Terima kasih Bapak Gubernur Pramono Anung, ruang kebersamaan ini layak menjadi tradisi tahunan.”
Di tengah derasnya arus informasi yang sering kali secara vulgar memperlihatkan perbedaan dan pertentangan, Jakarta baru saja menunjukkan wajah yang berbeda. Wajah yang teduh. Wajah yang mempersatukan.
Melalui Haul Akbar Ulama & Habaib Betawi yang diselenggarakan di kawasan Monumen Nasional (Monas), masyarakat menyaksikan sesuatu yang mungkin terlihat sederhana, namun sesungguhnya memiliki makna yang sangat besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Di atas panggung yang sama hadir para ulama, Kyai, habaib, tokoh masyarakat, tokoh nasional, serta unsur pemerintahan daerah Mereka datang dari latar belakang yang beragam, dengan sejarah, pengalaman, dan pandangan politik yang mungkin tidak selalu sama. Namun pada malam itu, yang lebih menonjol bukanlah perbedaannya, melainkan kebersamaannya.
Inilah pesan paling penting yang menurut saya harus ditangkap oleh masyarakat, Bahwa persatuan tidak selalu lahir karena semua orang berpikir sama. Persatuan dapat lahir ketika perbedaan mampu dikelola menjadi sebuah kekuatan.
Sebagai ibu kota negara, Jakarta membutuhkan lebih banyak ruang seperti ini. Ruang yang mempertemukan, Ruang yang menghadirkan dialog, Ruang yang mampu mengingatkan bahwa bangsa ini dibangun bersama oleh seluruh anak bangsa yang memiliki komitmen yang sama untuk menjaga Indonesia.
Sebagai umat mayoritas di republik ini, umat Islam memiliki kesempatan sekaligus tanggung jawab moral untuk menjadi teladan dalam menjaga persatuan, toleransi, dan kebersamaan. Tanggung jawab tersebut bukan karena kekuatan jumlah semata, melainkan karena ajaran Islam itu sendiri yang mengajarkan pentingnya persaudaraan, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Karena itu, kegiatan seperti Haul Akbar Ulama & Habaib Betawi memiliki nilai yang jauh melampaui sebuah agenda keagamaan. Ia menjadi ruang silaturahmi kebangsaan, Ia menjadi pengingat bahwa ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah dapat berjalan beriringan.
Lebih dari itu, kegiatan ini juga mengirimkan pesan penting kepada masyarakat bahwa mazhab, organisasi, maupun pandangan politik tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh, Justru di tengah perbedaan itulah kita belajar tentang pentingnya menghormati dan memahami satu sama lain.
Saya sangat berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai peristiwa satu kali. Sebagai pencetus ide kegiatan ini Gubernur DKI Jakarta Bapak Pramono Anung sangat layak mempertimbangkan untuk menjadikan kegiatan ini sebagai agenda tahunan yang terus diperkuat dan diperluas partisipasinya.
Semoga ke depan semakin banyak ulama, Kyai , habaib, cendekiawan Muslim, akademisi, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen bangsa yang dapat dilibatkan. Dengan demikian, pesan yang lahir dari Monas tidak hanya menjadi pesan persatuan umat Islam, tetapi juga berkembang menjadi pesan persatuan seluruh warga Jakarta untuk Indonesia.
Kita harus bersepakat bahwa tujuan akhir kegiatan di Monas bukan sekadar mempererat hubungan tali silaturrahmi antar kelompok umat Islam, namun Tujuan akhirnya adalah memperkuat rasa persaudaraan kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bagi Jakarta, persatuan bukan hanya persoalan sosial dan keagamaan, Persatuan juga merupakan fondasi stabilitas kota. Sebagai pusat pemerintahan, pusat ekonomi, sekaligus etalase Indonesia di mata dunia, Jakarta hampir setiap hari menjadi ruang bertemunya berbagai kepentingan politik, sosial, dan ekonomi.
Dalam situasi seperti itu, peran ulama, Kyai, habaib, tokoh agama, dan tokoh masyarakat menjadi sangat penting untuk menjaga suasana tetap teduh, damai, dan kondusif. Ketika masyarakat memiliki rasa memiliki terhadap kotanya, maka mereka tidak hanya menikmati Jakarta, tetapi juga akan ikut menjaga Jakarta.
Menjaga Jakarta bukan berarti membatasi kebebasan berpendapat yang dijamin oleh konstitusi. Sebaliknya, menjaga Jakarta berarti memastikan bahwa semangat demokrasi dapat berjalan berdampingan dengan ketertiban, kedamaian, dan rasa tanggung jawab sebagai warga kota. Sebab Jakarta adalah rumah bersama yang harus dijaga oleh seluruh elemen warganya.
Karena itu, apabila Haul Akbar Ulama & Habaib Betawi kelak menjadi agenda tahunan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, maka manfaatnya harus tidak hanya dirasakan oleh umat Islam. Manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh warga Jakarta. Sebab setiap ruang yang memperkuat persaudaraan pada akhirnya akan memperkuat ketertiban, memperkuat kenyamanan, dan memperkuat optimisme terhadap masa depan kota ini.
Sebagai warga Jakarta, sudah seharusnya kita memberikan apresiasi kepada Gubernur DKI Jakarta, Bapak Pramono Anung Wibowo, yang telah memberikan ruang dan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan yang sarat nilai kebersamaan ini. Langkah seperti ini menunjukkan bahwa pembangunan sebuah kota tidak hanya berbicara mengenai jalan, jembatan, transportasi, dan gedung-gedung tinggi. Pembangunan juga berbicara tentang membangun harmoni sosial, membangun rasa saling percaya, dan membangun kenyamanan hidup bersama.
Ketika masyarakat hidup dalam suasana yang harmonis, kota menjadi lebih nyaman. Ketika kota menjadi nyaman, wisatawan akan datang dengan rasa aman. Ketika stabilitas sosial terjaga, dunia usaha dan investor pun memiliki keyakinan untuk berinvestasi dan berkembang.
Karena itulah persatuan bukan hanya kebutuhan sosial, melainkan juga modal pembangunan.
Menjelang usia Jakarta yang ke-500 tahun, kota ini membutuhkan lebih banyak ruang yang mempertemukan daripada mempertentangkan. Lebih banyak ruang yang mengajak berdialog daripada saling menuding. Lebih banyak ruang yang mengingatkan bahwa kita semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga rumah besar bernama Jakarta.
Semoga Haul Akbar Ulama & Habaib Betawi di Monas menjadi awal dari tradisi baik yang terus diwariskan dari tahun ke tahun. Tradisi yang mempertemukan, bukan mempertentangkan. Tradisi yang merangkul, bukan memisahkan. Tradisi yang mengingatkan bahwa Indonesia selalu lebih besar daripada perbedaan-perbedaan yang ada di dalamnya.
Dan dari jantung ibu kota, Monas kembali mengirimkan pesan kepada Indonesia: bahwa persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan masih memiliki rumah yang kokoh di negeri ini.
#Pojok_JAKarta
#JagaJakarta











































