JEPARA, Jawa Tengah — Pada Kamis Wage, 20 Agustus 2026, pendopo Kabupaten Jepara berubah menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan. Gamelan, doa, air tanah, tumpeng, ukiran kayu, dan busana tradisional hadir dalam satu panggung kebudayaan: Kenduri Ruwat Bumi, bagian dari peringatan 492 tahun berdirinya Kadipaten Jepara.
Ruwat bumi bukan sekadar upacara untuk mengingat masa lampau. Ia adalah cara sebuah masyarakat berbicara kepada dirinya sendiri tentang tanah yang ditempatinya—tentang sejarah, leluhur, kerja, dan harapan.
Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan Al-Barzanji, penyatuan air tanah, kalam ilahi, dan kidung pangastuti. Setelah itu, Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan sambutan. Salah satu bagian penting upacara adalah pemasangan cok bakal, perlengkapan simbolik dalam tradisi Jawa, di ringin pojok.
Di pendopo, unsur Islam dan tradisi Jawa tidak tampil sebagai dua dunia yang saling meniadakan. Keduanya bertemu dalam tata upacara yang diwariskan dan terus ditafsirkan oleh generasi baru.
Hadir pula Paguyuban Kawula Karaton Surakarta (Pakasa) Cabang Jepara, yang dipimpin KPH Bambang Hadiningrat. Mereka membawa uba rampe upacara—sesaji, tumpeng, dupa, gaharu, dan rasamala.
Para abdi dalem mengenakan batik Mataram, samir, iket, dan blangkon. Mereka berdiri dengan sikap yang mencerminkan kesiapsiagaan tradisional: siyaga ing gati, sawega ing diri.
Pendopo Kabupaten Jepara malam itu tampak regeng, ramai tetapi khidmat. Bangunan itu sendiri seolah menjadi bagian dari cerita. Soko guru menjulang, sementara tiang-tiang penyangga dihiasi ukiran yang memperlihatkan keahlian tangan para pengrajin Jepara.
Kota yang Dibangun oleh Ukiran
Jepara telah lama dikenal sebagai salah satu pusat ukiran kayu terpenting di Indonesia. Keahlian itu bukan sekadar industri; ia telah menjadi bagian dari identitas kota.
Dalam ingatan budaya setempat, nama Sungging Purbengkara sering dikaitkan dengan tradisi seni ukir dan tatah. Kisah mengenai pethel yang dipercaya terjatuh di wilayah Tahunan menjadi salah satu legenda yang menjelaskan mengapa keterampilan pertukangan dan ukiran berkembang kuat di Jepara.
Seperti banyak kota tua di Jawa, sejarah Jepara tidak hanya hidup dalam arsip. Ia hidup dalam cerita yang dituturkan, motif yang dipahat, ritual yang diulang, dan simbol yang diwariskan.
Ruwat bumi karena itu menjadi semacam arsip yang hidup.
Dari Ratu Shima hingga Ratu Kalinyamat
Jepara juga menyimpan ingatan tentang perempuan-perempuan yang menempati posisi penting dalam sejarah Jawa.
Nama Ratu Shima, penguasa Kalingga, hadir dalam narasi sejarah Jawa sebagai figur pemimpin perempuan yang dikenal karena ketegasan dan keadilannya. Berabad-abad kemudian, Jepara memiliki figur lain yang jauh lebih dekat dengan sejarah pemerintahannya sendiri: Ratu Kalinyamat.
Ratu Kalinyamat, putri Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak, dikenang sebagai penguasa Jepara yang memiliki pengaruh politik dan ekonomi besar pada abad ke-16. Bersama Pangeran Hadlirin, namanya menjadi bagian penting dari sejarah Jepara sebagai kekuatan pesisir.
Jepara kemudian kembali melahirkan tokoh perempuan yang mengubah percakapan tentang pendidikan dan emansipasi: Raden Ajeng Kartini.
Kartini adalah putri Bupati Jepara R.M.A.A. Sosroningrat. Setelah menikah dengan R.M.A.A. Djojoadhiningrat, Bupati Rembang, gagasan-gagasannya tentang pendidikan dan martabat perempuan terus berkembang dan kemudian menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia.
“Ibu Kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia, harum namanya.”
Lagu itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi di Jepara, ia membawa gema sejarah yang jauh lebih panjang.
Sosrokartono dan Jalan Pengetahuan
Di samping nama Kartini, terdapat kakaknya, R.M.P. Sosrokartono, seorang intelektual dan wartawan yang pernah hidup di Eropa. Ia dikenal memiliki kemampuan bahasa asing serta ketertarikan yang luas terhadap kebudayaan dan filsafat Jawa.
Dalam berbagai kisah populer mengenai dirinya, Sosrokartono sering dikaitkan dengan pergaulan intelektual Eropa, termasuk cerita mengenai pertemuannya dengan Adolf Hitler. Namun, sejumlah kisah tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari tradisi biografis dan cerita yang berkembang mengenai Sosrokartono daripada dianggap sebagai fakta sejarah yang telah sepenuhnya terverifikasi.
Yang lebih penting adalah warisan ungkapan yang dilekatkan kepadanya:
Sugih tanpa bandha,
digdaya tanpa aji,
nglurug tanpa bala,
menang tanpa ngasorake.
Kekayaan tanpa kemewahan. Kekuatan tanpa kesombongan. Berjuang tanpa mengandalkan jumlah. Menang tanpa merendahkan yang kalah.
Nilai-nilai itu terasa relevan bahkan ketika sebuah kota memasuki abad modern.
Antara Islam, Jawa dan Sangkan Paraning Dumadi
Jejak spiritual Jepara juga tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pemikiran Jawa.
Di kawasan Bangsri dan Gunung Danaraja berkembang berbagai cerita mengenai perjalanan pengetahuan batin, termasuk narasi yang menghubungkannya dengan Syekh Siti Jenar dan konsep sangkan paraning dumadi—pertanyaan tentang dari mana manusia berasal dan ke mana kehidupan menuju.
Istilah seperti manunggaling kawula Gusti kemudian menjadi bagian dari perdebatan panjang mengenai mistisisme Jawa, hubungan manusia dengan Tuhan, dan pencarian makna kehidupan.
Namun ruwat bumi tidak harus dipahami hanya sebagai peninggalan masa lalu.
Ia dapat dibaca sebagai ruang refleksi: bagaimana manusia memperlakukan tanah, bagaimana masyarakat menjaga hubungan sosial, dan bagaimana tradisi dapat hidup tanpa kehilangan kemampuan untuk berubah.
Air, Tanah dan Harapan
Penyatuan air tanah dalam rangkaian upacara memiliki simbolisme yang kuat.
Air berasal dari tempat-tempat berbeda, tetapi dipertemukan dalam satu wadah. Tanah pun demikian. Ia mungkin terbagi oleh batas administratif, kepemilikan, atau kepentingan ekonomi, tetapi kehidupan manusia pada akhirnya bergantung pada ekosistem yang sama.
Itulah sebabnya ruwat bumi memiliki makna yang melampaui seremoni.
Ia mengingatkan bahwa kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui kemampuan masyarakat merawat lingkungan, kebudayaan, dan ingatan kolektif.
Jepara memiliki industri mebel yang mendunia. Tetapi di balik setiap papan kayu terdapat hutan, tenaga manusia, pengetahuan, dan sejarah panjang keterampilan.
Modernitas tidak harus memutus hubungan dengan tradisi.
Justru sebaliknya, tradisi dapat menjadi sumber daya moral untuk memasuki masa depan.
Di penghujung upacara, suasana pendopo terasa seperti halaman terakhir sebuah kisah panjang. Kidung, doa, gamelan, dan percakapan manusia bertemu dalam satu kesadaran: sebuah daerah tidak pernah berdiri hanya karena bangunan pemerintahannya.
Ia berdiri karena ingatan yang dirawat.
Lung rumambat tumelung,
mulur mungkret kadya tumali,
linut swareng kukila,
lam-lamen kadulu.
Jepara mengenang masa lalunya, tetapi tidak tinggal di dalamnya.
Sebab setiap ruwat bumi pada akhirnya bukan hanya tentang membersihkan tanah dari segala yang buruk. Ia adalah ikhtiar membersihkan cara manusia memandang dirinya sendiri—agar sejarah tidak menjadi beban, melainkan bekal.
Dan dari tanah yang dirawat, masa depan diharapkan tumbuh.
Bumi Jepara, Kamis Wage, 20 Agustus 2026.
Purwadi











































