Jakarta, Selatan News,- Ida Farida memulai karier sebagai pencatat skrip. Kemudian menjadi asisten sutradara, penulis skenario, dan sutradara. Ida Farida menembus dunia film ketika kursi penyutradaraan hampir selalu menjadi wilayah lelaki.
Kamera bergerak. Adegan berganti. Ada dialog yang harus dicatat, posisi pemain yang mesti diingat, kostum yang tak boleh berubah, dan detail kecil yang menentukan kesinambungan sebuah film.
Di balik semua itu ada script girl.
Ida Farida pernah berada di posisi tersebut.
Perempuan kelahiran Rangkasbitung, Lebak, Banten, 5 Mei 1939, itu memasuki dunia film bukan dari kursi sutradara. Ia memulainya dari pekerjaan yang menuntut ketelitian. Sebelum itu, Ida telah mengenal dunia tulisan. Ia menjadi wartawati dan menulis cerpen sejak 1953.
Pada 1974, ia bekerja sebagai script girl dalam film Melawan Badai. Empat tahun kemudian, ia sudah bergerak ke posisi asisten sutradara. Salah satu film yang melibatkan dirinya adalah Jangan Menangis Mama pada 1977.
Lalu kamera berbalik menghadap kepadanya.
Pada 1979, Ida menyutradarai Guruku Cantik Sekali.
Itulah awal perjalanan panjangnya sebagai sutradara.
Ida tidak berhenti pada satu film. Ia terus bekerja ketika industri film Indonesia sedang tumbuh dan selera penonton berubah cepat.
Ada Busana dalam Mimpi (1980), Perawan-Perawan dan Merenda Hari Esok (1981), kemudian Tirai Malam Pengantin dan Tante Garang (1983).
Setahun berikutnya ia membuat Asmara di Balik Pintu. Disusul Tak Ingin Sendiri pada 1985 dan Suara Kekasih pada 1986.
Menjelang akhir dekade, muncul Sabar Dulu Dong…! dan Semua Sayang Kamu pada 1989.
Filmografinya kemudian berlanjut melalui Perempuan Kedua (1990) dan Barang Titipan (1991).
Daftar itu menunjukkan satu hal: Ida bukan sutradara yang numpang lewat.
Ia bertahan.
Lebih dari itu, ia kerap menulis skenario untuk film yang disutradarainya sendiri. Bagi Ida, cerita tidak berhenti pada naskah. Ia ikut menentukan bagaimana cerita itu bergerak, berbicara, dan terlihat di layar.
Puncak pengakuan datang pada 1989.
Dalam Festival Film Indonesia, Semua Sayang Kamu membawanya meraih Piala Citra untuk Skenario Terbaik. Film tersebut juga membuat Ida masuk nominasi Sutradara Terbaik dan Cerita Asli Terbaik.
Penghargaan itu penting bukan hanya karena sebuah piala.
Ida memperlihatkan bahwa perempuan di belakang kamera tidak harus berhenti sebagai pelaksana teknis. Ia bisa menulis cerita. Ia bisa mengarahkan pemain. Ia bisa menentukan gambar.
Dan ia bisa menang.
Perjalanan Ida kemudian menyeberang batas negara.
Setelah Tak Ingin Sendiri, ia bekerja di Malaysia selama hampir empat tahun. Di sana ia menyutradarai Suara Kekasih, dengan sejumlah pemain, antara lain Fauziah Ahmad Daud dan Azmil Mustapha.
Pengalaman itu menambah satu lapis lagi pada perjalanan kariernya. Ida bukan hanya bekerja dalam industri film Indonesia. Ia juga pernah memasuki industri film Malaysia.
Ketika televisi mulai menjadi ruang baru bagi para pembuat cerita, Ida ikut bergerak ke sana.
Pada dekade 1990-an, ia menggarap sinetron Aku Mau Hidup. Karya itu menjadi bagian dari perjalanan karier Meriam Bellina dan berkaitan dengan penghargaan yang diperoleh aktris tersebut dalam Festival Sinetron Indonesia 1994.
Ida juga menggarap serial Wanita yang dibintangi Meriam Bellina.
Ada nama besar lain yang selalu muncul ketika biografi Ida Farida dibicarakan: Misbach Yusa Biran.
Ida adalah adik tokoh penting dalam sejarah perfilman Indonesia itu. Misbach dikenal sebagai sutradara, penulis skenario, kritikus, sekaligus salah satu tokoh penting dalam pendokumentasian sejarah film Indonesia.
Hubungan keluarga itu membuat Ida tumbuh di lingkungan yang dekat dengan dunia film dan kebudayaan.
Namun menyebut Ida hanya sebagai adik Misbach adalah cara yang terlalu sederhana untuk membaca hidupnya.
Sebab Ida mempunyai jalan sendiri.
Ia datang dari dunia jurnalistik dan sastra. Masuk ke produksi film sebagai script girl. Naik menjadi asisten sutradara. Kemudian menyutradarai film. Menulis skenario. Bekerja di luar negeri. Masuk televisi. Dan akhirnya membawa pulang Piala Citra.
Itu bukan bayang-bayang seorang kakak.
Itu kariernya sendiri.
Bagi Adisurya Abdy, pegiat perfilman, perjalanan Ida Farida memiliki makna yang lebih jauh daripada sekadar daftar film.
Ida merupakan bagian dari generasi perempuan perintis yang bekerja ketika penyutradaraan masih menjadi ruang yang kuat didominasi laki-laki.
Ia tidak sekadar memasuki ruangan itu.
Ia bertahan di dalamnya.
Ada sesuatu yang simbolis dalam perjalanan tersebut. Seorang script girl bertugas menjaga agar sebuah film tidak kehilangan kesinambungan. Ia mencatat detail yang mungkin luput dari mata orang lain.
Ida kemudian beranjak.
Dari perempuan yang mencatat cerita, ia menjadi perempuan yang menentukan bagaimana cerita itu diterjemahkan menjadi gambar.
“Dari mencatat cerita orang lain, ia akhirnya membuat ceritanya sendiri melalui kamera,” kata Adisurya.
Kalimat itu mungkin menjadi cara paling sederhana untuk memahami perjalanan Ida Farida.
Sebab dalam sejarah film, tidak semua nama bertahan karena banyak disebut.
Sebagian bertahan karena pernah membuka jalan.
Ida Farida adalah salah satunya.
Perempuan itu mungkin tidak selalu hadir dalam percakapan tentang sejarah sinema Indonesia. Namun jejaknya masih tertinggal: dalam film, dalam skenario, dalam layar televisi, dan terutama dalam kemungkinan yang ia bukakan bagi perempuan lain untuk berdiri di belakang kamera.
Ida Farida: sebuah ingatan yang belum selesai.











































