By : Reynold. A

Ada satu kesimpulan yang belakangan begitu cepat beredar setelah reshuffle kabinet, “hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan mantan Presiden Joko Widodo disebut mulai menjauh”.
Apa alasannya??
Pergantian sejumlah posisi di pemerintahan.
Menarik… Tetapi sebelum kesimpulan itu dipercaya sebagai sebuah fakta, ada satu pertanyaan sederhana yang seharusnya diajukan.
“Apa datanya???”
Sebab, reshuffle adalah kewenangan presiden untuk menata pemerintahan. Pergeseran jabatan adalah keputusan politik dan administratif.
Tetapi mengubah sebuah keputusan reshuffle menjadi kesimpulan bahwa dua tokoh telah retak secara personal adalah perkara yang berbeda.
Yang satu fakta. Yang lainnya tafsir.
Dan kalau tafsir hendak dinaikkan derajatnya menjadi fakta, tentu harus ada bukti yang menyertainya.
Apalagi jika yang sedang dibicarakan adalah Presiden Prabowo Subianto.
Sebab, kalau kita membuka kembali perjalanan panjang hidup dan politiknya, ada satu pola yang justru sangat menarik.
Presiden Prabowo bukan tipe pemimpin yang mudah menghapus orang dari sejarah hanya karena pernah berbeda jalan dengannya.
Pertama, Beliau Pernah di keluarkan dari lingkaran kekuasaan, namun tidak membalas dengan dendam.
Pada penghujung rezim orde Baru yang pernah begitu dekat dengannya, Presiden Prabowo pernah mengalami perubahan posisi yang sangat drastis.
Hubungan kekuasaan berubah.
Situasi politik berubah.
Bahkan lingkungan keluarga terdekatnya pun ikut berubah.
Tetapi bertahun-tahun kemudian, Presiden Prabowo tidak menjadikan keluarga dan sejarah masa lalu itu sebagai alasan untuk membangun permusuhan tanpa akhir.
Ada luka dalam sejarah.
Tetapi sejarah tetap dihormati.
Kedua, Karier militer berakhir di era Presiden BJ. Habibie Pasca Reformasi, namun hubungan tidak harus berakhir.
Ketika seorang presiden yang menggantikan penguasa sebelumnya mengambil keputusan yang berdampak besar terhadap perjalanan karier militernya, Presiden Prabowo kembali menghadapi titik balik dalam hidupnya.
Secara politik, peristiwa itu tentu memiliki tafsir dan sejarahnya sendiri.
Namun Presiden Prabowo tidak menjadikan keputusan tersebut sebagai alasan untuk memusuhi keluarga sang mantan presiden sepanjang hayat.
Pesannya sederhana, “Berbeda dengan keputusan seseorang tidak harus berarti membenci orangnya”.
Ketiga, Pernah berpisah jalan dengan Mantan Presiden yang pernah menjadi mitra koalisinya pada pemilu presiden, namun penghormatan tetap ada.
Pernah ada sebuah momentum politik yang mempertemukan Presiden Prabowo dengan sang tokoh besar bangsa dalam satu barisan.
Kemudian keduanya mengambil jalan berbeda.
Ada kesepakatan yang tidak berujung pada hasil yang diharapkan.
Ada pula peristiwa politik yang hingga hari ini masih sering dibicarakan.
Tetapi waktu berjalan.
Hubungan politik boleh berubah, namun penghormatan kepada sang tokoh dan sejarah tidak harus ikut hilang.
Keempat, pernah berhadapan dalam kontestasi politik, tetapi tidak membawa masa lalu menjadi dendam.
Pada Pilpres 2014, Prabowo kembali berada di arena pertarungan politik.
Saat itu, seorang seniornya di dunia militer masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Posisi sang senior memang cukup rumit.
Sebagai Presiden yang masih menjabat, ia memilih menjaga sikap kenegarawanan dan tidak secara terbuka turun ke gelanggang kampanye.
Sikap itu kemudian sempat dibaca publik seolah-olah sang senior tidak benar-benar bekerja untuk membantu kemenangan Prabowo-Hatta.
Padahal, dalam perjalanan berikutnya, Partai Demokrat akhirnya secara resmi memberikan dukungan kepada pasangan Prabowo-Hatta.
Menariknya lagi, Hatta Rajasa bukanlah sosok yang asing bagi keluarga sang senior.
Jauh sebelum Pilpres 2014, putra bungsu sang senior telah menikah dengan putri Hatta Rajasa. Dengan kata lain, hubungan kedua keluarga itu bahkan sudah terikat sebagai besan.
Namun Presiden Prabowo tidak pernah menjadikan dinamika politik Pilpres 2014 sebagai alasan untuk membangun permusuhan dengan sang senior.
Waktu berjalan.
Situasi politik berubah.
Dan ketika Presiden Prabowo kemudian memiliki kewenangan yang jauh lebih besar, putra sang senior justru mendapat tempat penting dalam pemerintahannya.
Begitulah politik jika kedewasaan lebih besar daripada dendam.
LALU, MENGAPA MANTAN PRESIDEN JOKO WIDODO HARUS BERBEDA?
Di sinilah menurut saya para insan politik perlu berhati-hati.
Mantan Presiden Joko Widodo bukan sekadar mantan rival politik Presiden Prabowo.
Beliau adalah bagian penting dari perjalanan politik yang membawa Presiden Prabowo sampai ke Istana hari ini.
Dua orang yang pernah berhadapan dalam dua kali kontestasi Pilpres kemudian memilih rekonsiliasi.
Presiden Prabowo masuk ke pemerintahan sebagai Menteri Pertahanan.
Kerja sama politik dibangun.
Kepercayaan tumbuh.
Dan pada akhirnya, Presiden Prabowo berhasil memenangkan Pilpres 2024 dan menjadi Presiden Republik Indonesia.
Tentu, tidak ada satu orang pun yang bisa disebut sebagai satu-satunya penyebab keberhasilan tersebut.
Namun mengabaikan atau menafikan besarnya peran mantan Presiden Joko Widodo dalam perjalanan politik Presiden Prabowo juga bukanlah sebuah pembacaan sejarah yang adil.
Karena itu, sangat kecil kemungkinan hubungan yang dibangun melalui perjalanan politik sepanjang itu tiba-tiba dianggap putus hanya karena terjadi reshuffle.
Kalau memang ada keretakan, tunjukkan faktanya.
Bukan sekadar pergantian jabatan.
Bukan sekadar siapa yang dipindahkan.
Bukan pula sekadar siapa yang masuk dan siapa yang keluar.
Sebab, jabatan adalah institusi, sementara hubungan antarmanusia adalah perkara yang jauh lebih kompleks.
YANG HARUS DIINGAT, RESHUFFLE BUKAN SURAT PEMUTUSAN HUBUNGAN
Seorang presiden berhak menata kabinetnya.
Orang yang kemarin berada di satu posisi bisa saja hari ini dipindahkan ke posisi lain.
Orang yang kemarin dianggap tepat untuk sebuah tugas, bisa saja hari ini dianggap lebih dibutuhkan di tempat berbeda.
Itu namanya pemerintahan.
Menggeser seseorang bukan berarti membuangnya.
Mengganti posisi bukan berarti memutus silaturahmi.
Dan yang paling penting, reshuffle bukan surat pemutusan hubungan personal.
Maka, kalau setelah reshuffle ada yang mengatakan hubungan Presiden Prabowo dan Mantan Presiden Joko Widodo telah menjauh, monggo saja.
Itu hak setiap orang untuk membaca situasi.
Tetapi jangan lupa membedakan antara analisis dan fakta.
Karena analisis tanpa data hanya akan menjadi asumsi.
Dan asumsi yang diulang berkali-kali tetap tidak otomatis berubah menjadi fakta.
Sejarah Presiden Prabowo justru memberikan pelajaran yang menarik.
Beliau pernah disisihkan.
Pernah kehilangan posisi.
Pernah ditinggalkan.
Pernah kalah.
Pernah berseberangan dengan orang-orang yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan hidupnya.
Tetapi berkali-kali pula beliau menunjukkan bahwa masa lalu tidak harus dibayar dengan dendam.
Maka mengapa kita harus buru-buru menyimpulkan bahwa beliau akan memutus hubungan dengan orang yang justru memiliki jasa besar dalam perjalanan politiknya menuju Istana?
Mungkin yang berubah hanyalah susunan kursi.
Mungkin yang berubah hanyalah kebutuhan pemerintahan.
Mungkin yang berubah hanyalah strategi.
Tetapi apakah hubungan personalnya berubah?
Itu pertanyaan yang sampai hari ini membutuhkan data, bukan sekadar dugaan.
Karena dalam politik, tidak semua perubahan posisi berarti perubahan hati.
Dan tidak setiap reshuffle berarti sebuah hubungan telah retak.
Kadang-kadang, reshuffle yaa hanyalah reshuffle.
Selebihnya??, yaa biarkanlah fakta yang akan berbicara.
#Pojok_JAKarta















































