
By: Reynold. A
Ada baiknya kita mengingat sejenak dari mana perjalanan ini bermula.
Ketika LRT Jakarta pertama kali hadir dengan rute Kelapa Gading–Velodrome, tidak sedikit pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat.
Jalurnya pendek. Penggunanya belum banyak Dan manfaatnya bagi mobilitas warga Jakarta belum terasa signifikan.
Bahkan, pada 2019 pernah muncul kritik keras di ruang publik yang mempertanyakan efektivitas, waktu pembangunan, hingga efisiensi proyek tersebut.
Di tengah situasi itu, muncul pula berbagai prasangka dan tafsir mengenai alasan pembangunan jalur tersebut.
Ada yang melihatnya sebagai proyek yang kurang tepat sasaran. Ada pula yang mempertanyakan mengapa sebuah jalur dengan jangkauan terbatas harus dipertahankan ketika jumlah penggunanya belum menunjukkan dampak besar terhadap mobilitas Jakarta.
Terlepas dari berbagai prasangka dan perdebatan tersebut, satu hal memang sulit dibantah: “selama bertahun-tahun, LRT Kelapa Gading–Velodrome belum mampu menunjukkan peran strategisnya sebagaimana yang diharapkan dari sebuah sistem transportasi publik kota metropolitan.” Ia bahkan sempat terlihat seperti sebuah monumen yang terus berdiri, tetapi belum menemukan fungsi maksimalnya.
Namun, sejarah pembangunan kota tidak selalu harus berhenti pada kesalahan atau keterbatasan masa lalu.
Kadang sebuah infrastruktur baru menemukan maknanya ketika jaringan yang menghubungkannya akhirnya diperpanjang.
Dan hari ini, prasangka lama itu perlahan gugur.
Bukan karena harus dibantah dengan kata-kata.
Tetapi karena rel yang dulu terasa pendek kini telah bergerak lebih jauh.
Dari Kelapa Gading menuju Manggarai.
Dari sebuah jalur yang dahulu dipertanyakan manfaatnya, kini hadir sebuah koneksi baru yang membuka kemungkinan perjalanan jauh lebih besar bagi warga Jakarta.
Peresmian dan pengoperasian LRT Jakarta jalur Kelapa Gading–Manggarai pada 16 September 2026 oleh Presiden Prabowo Subianto, didampingi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, bukan sekadar seremoni.
Ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar sebuah kereta yang mulai berjalan, Jakarta sedang menambah pilihan bagi warganya untuk bergerak lebih cepat, lebih teratur, lebih pasti, dan lebih terhubung.
Dan tentu saja, capaian ini patut diapresiasi.
Ketika Presiden dan Gubernur berdiri bersama dalam peresmian sekaligus menjajal perjalanan LRT, yang terlihat bukan sekadar simbol kebersamaan.
Ada satu pertanyaan sederhana yang seharusnya menjadi ukuran utama setiap pembangunan:
“Apakah akhirnya warga mendapatkan manfaat?”
Di situlah pembangunan transportasi publik harus diuji.
Dari Kelapa Gading menuju Manggarai, perjalanan kini dapat ditempuh sekitar 28 menit, melalui lintasan sepanjang ±12 kilometer dengan 11 stasiun.
Angka 28 menit mungkin terdengar sederhana.
Tetapi bagi warga yang setiap hari berhadapan dengan horor kemacetan Jakarta, waktu bukan sekadar angka.
Waktu adalah tenaga.
Waktu adalah produktivitas.
Waktu adalah kesempatan berkumpul bersama keluarga.
Dan ketika perjalanan menjadi lebih pasti, yang sesungguhnya kita hemat bukan hanya rupiah dan menit, tetapi juga energi kehidupan.
Lebih menarik lagi, LRT kini mencapai Manggarai.
Kawasan ini bukan sekadar stasiun tujuan. Manggarai merupakan salah satu simpul penting transportasi Jakarta, tempat LRT bertemu dengan KRL dan moda transportasi lainnya.
Artinya, nilai sebuah LRT tidak berhenti pada rel yang dibangun.
Nilainya justru muncul ketika rel itu tersambung dengan perjalanan warga yang lain.
Namun, jangan buru-buru mengatakan pekerjaan sudah selesai.
Justru setelah peresmian, pekerjaan yang lebih penting dimulai: “memastikan LRT benar-benar menjadi bagian dari kebiasaan, gaya hidup, dan mobilitas warga Jakarta“.
Konektivitas harus terus diperluas.
Integrasi antarmoda harus semakin mudah.
Akses bagi penyandang disabilitas harus benar-benar terasa dalam penggunaan sehari-hari.
Tarif harus tetap terjangkau.
Dan yang tidak kalah penting, pelayanan harus konsisten.
Karena transportasi publik tidak cukup hanya dibangun.
Ia harus digunakan, dipercaya, dan dipilih warga.
Pemerintah menargetkan layanan ini secara bertahap dapat melayani hingga sekitar 80.000 penumpang per hari.
Nah, di sinilah tugas besar berikutnya bagi Pemprov DKI Jakarta.
Membangun LRT adalah satu pekerjaan.
Membuat warga mau meninggalkan kendaraan pribadinya dan beralih menggunakan LRT adalah pekerjaan yang berbeda.
Khususnya bagi warga Kelapa Gading dan kawasan sekitarnya yang beraktivitas menuju Manggarai, Tebet, Kuningan, dan kawasan bisnis di sekitarnya.
Pemprov perlu memikirkan strategi yang benar-benar jitu untuk mengubah kebiasaan tersebut.
Bukan sekadar mengatakan:
“Silakan naik LRT.”
Tetapi membuat warga berpikir: “Untuk perjalanan saya hari ini, naik LRT ternyata lebih mudah, lebih cepat, lebih nyaman, lebih pasti, dan lebih masuk akal daripada membawa kendaraan sendiri.”
Caranya tentu tidak cukup dengan membangun stasiun.
Harus ada integrasi perjalanan dari rumah ke stasiun, koneksi antarmoda yang mudah, akses pejalan kaki yang nyaman, fasilitas park and ride yang memadai, informasi perjalanan yang sederhana, serta pelayanan yang konsisten.
Sebab, warga tidak menghitung berapa kilometer rel yang dibangun.
Warga menghitung seberapa cepat perjalanan bisa ditempuh dan seberapa mudah perjalanan itu dilakukan.
Kalau LRT mampu memenangkan pertimbangan sederhana itu, perlahan kebiasaan akan berubah.
Dan ketika kebiasaan berubah, barulah pembangunan infrastruktur menghasilkan dampak yang jauh lebih besar, berkurangnya ketergantungan pada kendaraan pribadi dan meningkatnya penggunaan transportasi publik.
Di sinilah ukuran keberhasilan LRT seharusnya tidak berhenti pada jumlah stasiun, panjang lintasan, atau seremoni peresmian.
Ukuran akhirnya adalah: “berapa banyak warga yang memilih menggunakannya setiap hari.”
Bukan lagi siapa yang meresmikan.
Bukan pula siapa yang memulai pembangunannya.
Tetapi seberapa banyak warga yang akhirnya meninggalkan kendaraan pribadi dan memilih transportasi publik karena merasa lebih mudah, nyaman, aman, pasti, dan masuk akal.
Apresiasi tentu sangat layak diberikan kepada Gubernur Pramono Anung, Wakil Gubernur Rano Karno, Pemprov DKI Jakarta, Jakpro, LRT Jakarta, serta seluruh pihak yang bekerja menyelesaikan dan mengoperasikan jalur ini.
Tetapi apresiasi terbaik bukanlah pujian yang berlebihan.
Apresiasi terbaik adalah memastikan pekerjaan yang sudah dimulai terus dijaga kualitasnya dan dilanjutkan manfaatnya.
Karena pada akhirnya, warga Jakarta tidak membutuhkan pembangunan yang hanya terlihat megah saat diresmikan.
Warga membutuhkan transportasi yang terasa manfaatnya setiap hari.
Dari Kelapa Gading ke Manggarai, perjalanan baru telah dimulai.
Dan mungkin, di sinilah sebuah proyek yang dahulu banyak dipertanyakan akhirnya menemukan makna strategisnya.
Bukan sekadar harapan baru.
Tetapi nadi baru konektivitas Jakarta.
Maju Jakartanya.
Sukses Gubernurnya.
#Pojok_JAKarta











































