Jakarta, SN,- Prospek EBT untuk daerah pedesaan itu ada beberapa yang sangat potensial dimana didalamnya tergantung nama daerahnya atau posisinya dimna, itu ada potensi yang sangat bagus.
Hal ini disampaikan Adi Prijanto, Direktur Distribusi PLN usai jadi pembicara pada Talkshow di Gedung Kemendes, Kalibata Jaksel (6/3/2035) kemarin. Dia memberi contoh potensi energi EBT di daerah pedesaan misalnya untuk micro hidro dan juga biomass ialah kita gunakan sbg lahan2 yang ditanami untuk energi, tentunya banyak lagi. Misalkan kalau PLTS ( Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dimana saja mesti ada, namun yang harus lebih digali adalah Potensi2 Micro hidro, milihidro, ikohidro dan biomass, potensi energi itu semua yang bisa dikembangkan.
“Dari 30 persen pemanfaatan EBT paling besar itu ada pada hidro lalu panas bumi baru tenaga surya dan yang lainnya. Tenaga Surya itu ada dimana2 namun belum tentu ekonomis tergantung kondisinya misalkan di daerah itu sudah ada pembangkit lain selain Tenaga Surya yang jika dibandingkan kemungkinan besar Tenaga Surya itu bisa saja harganya jauh lebih mahal, karena disitu ada baterai,” jelas Adi.
Dia tak menampik bahwa tantangan kedepan dalam penggunaan EBT itu biayanya yang masih cukup besar dibandingkan yang konvensional ( berbasis fosil) itu memang ada benarnya, karena harganya masih cukup tinggi tapi biaya operasionalnya lebih rendah.
“Mungkin investasi awal yang masih besar seperti PLTA ( Pembangkit Listrik Tenaga Air ) itu pada awalnya memang besar tapi energi yang dibakar tidak ada, demikian juga dengan geothermal yang panasnya keluar sendiri dari bumi dll.,” tambahnya.
“Meski EBT banyak pemanfaatannya digunakan di sektor perumahan namun EBT itu sebagai mik bagi sektor industri sehingga ada juga sektor industri yang berlangganan EBT dengan sertifikat hijau ( Green Sertification) dengan dedikasi nanti Pembangkit kita harus ramah lingkungan,” pungkasnya. ( M. Harun)










































