Jakarta , Selatan News
Komitmen dalam membangun generasi Qur’ani terus diwujudkan oleh Agus Sulisttiantono melalui pembinaan puluhan santri yang menempuh pendidikan Al-Qur’an tanpa dipungut biaya sepeser pun. Saat ini, terdapat sekitar 70 santri yang mondok dan mendapatkan pembinaan intensif, dengan sistem pendidikan yang menekankan kedisiplinan ibadah serta hafalan Al-Qur’an.
Agus Sulistiantono menegaskan bahwa seluruh santri dibina dengan prinsip sederhana namun tegas. Tidak ada biaya pendidikan yang dibebankan. Syaratnya hanya dua: tetap istiqomah mengikuti setoran hafalan Al-Qur’an dan menjaga keikutsertaan dalam shalat berjamaah.
Jika keduanya tidak lagi dijalankan, maka santri diberikan pilihan untuk memperbaiki diri atau kembali ke rumah agar tidak mempengaruhi yang lain.
“Hanya dua komitmennya: mau setoran Al-Qur’an dan mau berjamaah. Selama itu dijaga, insyaAllah kami pertahankan dan bina dengan penuh tanggung jawab,” ujar Agus.
Dalam kesempatan yang penuh keberkahan, Agus juga membersamai 30 anak yatim dalam sebuah undangan khusus yang dihadiri oleh Wakil Ketua Wibi Andrino. Momen tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus penyemangat bagi anak-anak untuk terus belajar dan menghafal Al-Qur’an.
Sejak tahun 2019, Agus Sulisttiantono juga aktif sebagai Ketua Bidang Agama DPD Jakarta Selatan.
Dalam kapasitasnya tersebut, ia terus mendorong gerakan pembinaan keagamaan yang tidak hanya berdampak secara spiritual, tetapi juga sosial.
Momentum puasa yang dijalani hari itu disebutnya sebagai “anugerah keberkahan yang luar biasa”.
Ia menyampaikan rasa syukur atas kesempatan dapat hadir bersama tokoh-tokoh masyarakat serta anak-anak yatim yang menjadi bagian dari perjuangan pendidikan berbasis nilai-nilai Al-Qur’an.
Lebih jauh, Agus juga menegaskan pentingnya gerakan perubahan dan restorasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia berharap seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan kehadiran gerakan politik yang membawa warna berbeda—lebih dekat dengan nilai sosial, keumatan, dan pendidikan.
“Yang bisa saya berikan untuk bangsa ini, dengan segala keterbatasan, adalah membina generasi penghafal Al-Qur’an dan menjaga nilai-nilai kebaikan tetap hidup,” tutup Agus
Jakarta ,Selatan News
Komitmen dalam membangun generasi Qur’ani terus diwujudkan oleh Agus Sulisttiantono melalui pembinaan puluhan santri yang menempuh pendidikan Al-Qur’an tanpa dipungut biaya sepeser pun. Saat ini, terdapat sekitar 70 santri yang mondok dan mendapatkan pembinaan intensif, dengan sistem pendidikan yang menekankan kedisiplinan ibadah serta hafalan Al-Qur’an.
Agus Sulistiantono menegaskan bahwa seluruh santri dibina dengan prinsip sederhana namun tegas. Tidak ada biaya pendidikan yang dibebankan. Syaratnya hanya dua: tetap istiqomah mengikuti setoran hafalan Al-Qur’an dan menjaga keikutsertaan dalam shalat berjamaah.
Jika keduanya tidak lagi dijalankan, maka santri diberikan pilihan untuk memperbaiki diri atau kembali ke rumah agar tidak mempengaruhi yang lain.
“Hanya dua komitmennya: mau setoran Al-Qur’an dan mau berjamaah. Selama itu dijaga, insyaAllah kami pertahankan dan bina dengan penuh tanggung jawab,” ujar Agus.
Dalam kesempatan yang penuh keberkahan, Agus juga membersamai 30 anak yatim dalam sebuah undangan khusus yang dihadiri oleh Wakil Ketua Wibi Andrino. Momen tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus penyemangat bagi anak-anak untuk terus belajar dan menghafal Al-Qur’an.
Sejak tahun 2019, Agus Sulisttiantono juga aktif sebagai Ketua Bidang Agama DPD Jakarta Selatan.
Dalam kapasitasnya tersebut, ia terus mendorong gerakan pembinaan keagamaan yang tidak hanya berdampak secara spiritual, tetapi juga sosial.
Momentum puasa yang dijalani hari itu disebutnya sebagai “anugerah keberkahan yang luar biasa”.
Ia menyampaikan rasa syukur atas kesempatan dapat hadir bersama tokoh-tokoh masyarakat serta anak-anak yatim yang menjadi bagian dari perjuangan pendidikan berbasis nilai-nilai Al-Qur’an.
Lebih jauh, Agus juga menegaskan pentingnya gerakan perubahan dan restorasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia berharap seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan kehadiran gerakan politik yang membawa warna berbeda—lebih dekat dengan nilai sosial, keumatan, dan pendidikan.
“Yang bisa saya berikan untuk bangsa ini, dengan segala keterbatasan, adalah membina generasi penghafal Al-Qur’an dan menjaga nilai-nilai kebaikan tetap hidup,”















































