Dr. Nanda Khairiyah, Dosen Bidang Politik Islam, Universitas Islam As-Syafi’iyah: Kesejahteraan Guru-Dosen Kunci Perbaikan Pendidikan di Indonesia
JAKARTA, Selatan.news — Permasalahan pendidikan di Indonesia bukan soal perlawanan, melainkan proses panjang yang berjalan lambat. Sejak merdeka hingga kini, perubahan kurikulum terus terjadi, namun kesejahteraan guru dan dosen masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Hal itu disampaikan Dr. Nanda Khairiyah, akademisi bidang Politik Islam di Universitas Islam As-Syafi’iyah, saat ditemui di Jakarta, Minggu (27/4/2026).
“Bukan perlawanan ya. Lebih kepada kita ini lagi berproses. Negara ini lagi berproses, mungkin prosesnya yang berjalan sangat lambat,” ujarnya.
Sorotan pada Honor dan Tunjangan Dosen dan Guru. Nanda menyoroti kondisi guru honorer hingga dosen di perguruan tinggi. “Kalau lihat perkembangan pendidikan hari ini, mulai dari kurikulum yang berganti-ganti, kemudian honor guru-guru, apalagi guru honorer, apalagi guru yang bukan PNS. Yang PNS pun punya PR masing-masing,” katanya.
Tak hanya pendidikan dasar, pendidikan tinggi juga menghadapi masalah serupa. “Kampus-kampus juga banyak disoroti: bagaimana tunjangan terhadap dosen, bagaimana hibah penelitian. Berbanding terbalik, bahkan di Asia Tenggara Indonesia menjadi hampir terendah tingkat kesejahteraan guru dan dosennya.”
Lingkaran Kesejahteraan dan Kualitas pendidikan
Menurut Nanda, ketidaksejahteraan berdampak langsung pada kualitas pengajaran. “Ketika kebutuhan pribadinya tidak terpenuhi, mereka akan sibuk cari tambahan ditempat lain. Imbasnya, waktu ketemu mahasiswa jadi tidak fokus, waktu bimbingan jadi lebih sedikit.”
Ia menyebut ini sebagai lingkaran yang harus diputus. “Bagaimana guru bisa sejahtera di sekolah, dosen bisa sejahtera di kampus. Kalau dia sudah tidak memikirkan itu, maka dia akan memikirkan kualitas pengajarannya, kualitas penelitiannya.”
Dengan kesejahteraan yang tercukupi, guru tak lagi bingung menghadapi dinamika sekolah dan orang tua. “Tidak ada lagi guru yang bingung bagaimana menghadapi orang tua, bagaimana menghadapi dinamika di sekolah.”
Tiga Pihak yang Harus Bergerak. Nanda menegaskan, mengurangi lingkaran masalah ini butuh kerja tiga pihak besar.
“Pertama, regulasi dari pemerintah. Kedua, kualitas masyarakat yang betul-betul berdedikasi menjadi pendidik. Hari ini banyak dosen jadi pengusaha, guru jadi pedagang. Ketiga, pasar. Kembalikan bahwa sekolah itu bukan industri yang mencari titik komersial sangat tinggi. Hentikan keinginan pihak private yang mau cari untung dari sekolah,” jelasnya.
Namun ia juga realistis, dunia pendidikan memang menghidupi banyak orang. “Pemerintah juga tidak bisa menafikan, dunia pendidikan itu banyak yang butuh makan dari situ. Maka kalau ‘makannya’ sudah selesai, pasti kualitasnya akan baik. Penuhi kebutuhan insan pendidikan, maka pendidikannya akan meningkat.”
Sudah Ada Pergerakan, tapi Lambat. Nanda menilai pemerintah sudah mulai merevisi kebijakan. “Sudah ada kenaikan tunjangan dosen, meskipun tidak seberapa. Sudah ada pergerakan, tapi slow Pergerakannya tidak mati, cuma masih sangat rentan dengan kebutuhan yang memang harus dimiliki.”
Ia mengajak semua pihak menentukan skala prioritas. “Kita main skala prioritas: mana yang mau diperbaiki dulu? Kalau mau pendidikannya bagus, sekolahnya dulu atau manusianya dulu?”
Dr. Nanda Khairiyah berharap pembenahan kesejahteraan menjadi langkah awal memutus rantai masalah pendidikan di Indonesia sehingga pendidikan kita berkualitas. ( M. Harun)..







































