Setu Paing, 2 Sapar 1959 Jawa atau 18 Juli 2026 menjadi momentum mengenang jasa Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram yang tidak hanya dikenal sebagai negarawan dan panglima perang, tetapi juga pelopor kebudayaan Jawa.
Karaton Surakarta Hadiningrat terus mewarisi semangat perjuangan tersebut. Di bawah kepemimpinan Kanjeng Sinuhun Paku Buwono XIV yang bertahta sejak 13 November 2025, berbagai tradisi keraton tetap dilestarikan sebagai bagian dari menjaga jati diri bangsa. Pepatah Jawa mengingatkan, rum kuncaraning bangsa dumunung ing luhuring budaya—kemuliaan bangsa terletak pada keluhuran budayanya.
Warisan intelektual Sultan Agung masih relevan hingga kini. Melalui Serat Nitipraja, beliau mengajarkan etika kepemimpinan yang berorientasi pada pengabdian, keadilan, dan kesejahteraan rakyat. Sementara Serat Pangracutan membahas perjalanan spiritual manusia melalui tahapan syariat, tarekat, hakikat, hingga makrifat, sebagai jalan mengenal asal-usul dan tujuan kehidupan.
Dalam bidang kebudayaan, Sultan Agung juga menyusun Sastra Gendhing yang menekankan pentingnya harmoni sosial, keseimbangan, dan ketenteraman masyarakat. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi peradaban Jawa yang terus diwariskan lintas generasi.
Lahir pada tahun 1593 dan memerintah Mataram sejak 1613 hingga 1645, Sultan Agung berhasil membangun kerajaan yang kuat sekaligus melahirkan karya-karya pemikiran yang tetap menjadi rujukan hingga sekarang.
Secara genealogis, Sultan Agung mewarisi garis keturunan dari Majapahit, Demak, dan Pajang. Warisan itulah yang membentuk karakter kepemimpinan visioner, religius, dan berbudaya.
Pesan Sultan Agung tetap hidup hingga hari ini: kepemimpinan sejati adalah mengabdi kepada masyarakat demi memayu hayuning bawana—mewujudkan kehidupan yang harmonis, adil, dan sejahtera. Purwadi











































