Surakarta, 29 Juli 2026 – Kraton Surakarta Hadiningrat kembali menyelenggarakan Pendadaran Pawiyatan Tata Busana Kraton Surakarta sebagai bagian dari proses akhir pembelajaran bagi para siswa pasinaon tata busana dan paes Jawa. Kegiatan yang berlangsung sesuai paugeran (tata aturan) Kraton ini dipandu oleh para pamong dan dwija yang berkompeten di bidang tata busana tradisi Jawa.
Prosesi pendadaran diawali dengan penampilan Langen Beksan Adaninggar Kelaswara yang menjadi pembuka acara sekaligus simbol keindahan seni dan budaya Jawa. Tarian tersebut mengiringi purna wiyata para siswa yang telah menempuh pendidikan selama enam bulan dalam mempelajari tata busana gagrak Kraton Surakarta.
Pendidikan tata busana Kraton bukan sekadar mengajarkan cara mengenakan busana adat, tetapi juga menanamkan nilai-nilai filosofi kehidupan Jawa. Hal itu sejalan dengan ajaran Kanjeng Sinuhun Paku Buwana X yang terkenal dengan ungkapan “Ngadi Sarira, Ngadi Busana”, bahwa kemuliaan bangsa bertumpu pada keluhuran budayanya.
Selama mengikuti pawiyatan, para siswa mempelajari berbagai jenis busana kebesaran Kraton Surakarta, mulai dari Busana Cothan, Beskap, Kampuh, Prajurit, Keprabon, Kuluk, Makutha, Kepatihan, Kadipaten, hingga Kasentanan. Setiap busana memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan kehormatan, tanggung jawab, kepemimpinan, dan jati diri.
Para peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Yogyakarta, Solo, Sragen, Wonogiri, Sukoharjo, Pati, Malang, Blitar, Kediri, dan Ngawi. Mereka mengikuti pembelajaran rutin setiap hari Rabu dan Jumat sore di Bale Agung Kraton Surakarta, dengan semangat tinggi meski harus menempuh perjalanan jauh maupun menghadapi cuaca yang kurang bersahabat.
Suasana pembelajaran berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan. Duduk lesehan bersama para dwija, siswa tidak hanya menerima materi teori dan praktik, tetapi juga menyerap nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, tata krama, serta penghormatan terhadap budaya leluhur. Interaksi yang terjalin selama proses belajar bahkan melahirkan persaudaraan antarsiswa yang terus terjaga melalui berbagai kegiatan budaya Kraton seperti Pisowanan Grebeg Maulud maupun Labuhan Parangkusumo.
Prosesi wisuda menjadi puncak kebanggaan seluruh peserta. Mengenakan busana Jawa lengkap, para wisudawan menampilkan wibawa sekaligus rasa syukur atas ilmu yang telah diperoleh. Bagi mereka, pembelajaran ini membuktikan pepatah Jawa “Ngelmu iku kelakone kanthi laku”, bahwa ilmu akan bermakna apabila dijalani dengan ketekunan dan penghayatan.
Ketua Lokantara, Purwad, menyampaikan bahwa pawiyatan tata busana merupakan bentuk pendidikan vokasi budaya yang bertujuan memperkokoh kepribadian sekaligus menjaga kesinambungan warisan budaya Jawa di tengah perkembangan zaman.
“Ngadi sarira, ngadi busana bukan hanya tentang cara berpakaian, tetapi juga membangun karakter, etika, dan identitas budaya. Melalui pendidikan ini diharapkan generasi muda mampu memelihara keluhuran budaya Jawa sekaligus menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya,” ujarnya.
Dengan terselenggaranya pendadaran ini, Kraton Surakarta kembali menegaskan perannya sebagai pusat pelestarian budaya yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mentransformasikan nilai-nilai luhur kepada masyarakat luas melalui pendidikan budaya yang berkelanjutan.
Penulis : KRT. Dr. Purwadi, M. Hum











































