Jakarta, Selanatn News – Kisah Hassan Tehrani Moghaddam—arsitek program rudal Iran yang mendapatkan ilham formula roket setelah berdoa dan bertawasul di makam Imam Reza—menawarkan model epistemologis unik tentang relasi antara sains positivistik, doa, dan ilmu. Makalah ini mengkaji relasi tersebut melalui pendekatan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) dengan menganalisis QS. Al-‘Alaq: 1-5 sebagai fondasi epistemologi keilmuan, QS. Al-Kahfi: 65 sebagai dasar konsep ilmu laduni, dan QS. Al-Mujadilah: 11 sebagai penegasan kesatuan iman dan ilmu. Studi pustaka terhadap 30 jurnal terbaru (2021-2026) menunjukkan bahwa dalam perspektif Al-Qur’an, sains (metode ilmiah) dan doa (spiritualitas) bukanlah dua domain yang terpisah, melainkan dua sarana yang saling melengkapi untuk mendekat kepada Allah sebagai Al-‘Aliim—Sumber segala ilmu. Kisah Moghaddam menjadi model kontemporer dari konsep ilmu laduni dan integrasi positivisme-relijiusitas yang relevan bagi pengembangan metodologi tafsir di era Society 5.0.
Kata Kunci: Sains Positivistik, Doa, Ilmu Laduni, Epistemologi Al-Qur’an, Hassan Tehrani Moghaddam
PENDAHULUAN
Dalam sejarah perkembangan pemikiran manusia, hubungan antara sains dan agama kerap digambarkan sebagai dua entitas yang bertentangan. Positivisme—dengan prinsip verifikasinya—menempatkan observasi dan eksperimen sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang sah (1). Di sisi lain, spiritualitas—dengan dimensi iman dan intuisi—sering ditempatkan di luar ranah ilmiah (2).
Kisah Hassan Tehrani Moghaddam (1959-2011), arsitek program rudal Iran (3), menghadirkan sebuah model yang menantang dikotomi tersebut. Sebagai seorang insinyur lulusan Universitas Teknologi K.N. Toosi, Moghaddam menghadapi kebuntuan dalam merumuskan formula roket. Dalam kondisi ini, ia pergi berziarah ke makam Imam Reza di Mashhad, berdoa dan bertawasul, lalu mendapatkan ilham yang dituliskannya di buku catatan putrinya (4).
Penelitian terkini tentang komponen soft power Moghaddam berdasarkan pernyataan Imam Khamenei mengidentifikasi lima dimensi utama: kepercayaan kepada Tuhan, tanggung jawab, wawasan, ketidaklelahkan, dan kecepatan yang dipadukan dengan kebijaksanaan (5). Dimensi-dimensi ini menunjukkan bahwa Moghaddam bukan sekadar ilmuwan, tetapi juga figur spiritual yang mengintegrasikan iman dan ilmu dalam kehidupannya.
Model ini menarik untuk dikaji karena mempertemukan dua epistemologi yang sering dianggap antagonistik: positivisme (berbasis empiris-rasional) dan relijiusitas (berbasis iman-intuitif). Dengan menggunakan pendekatan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir serta merujuk pada 30 jurnal terbaru (2021-2026), makalah ini akan menganalisis relasi tersebut melalui tiga ayat kunci yang menjadi fondasi epistemologi keilmuan dalam Islam.
PEMBAHASAN
A. Fondasi Epistemologi Keilmuan: QS. Al-‘Alaq (96): 1-5
Perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad adalah iqra’—”bacalah”—yang menjadi deklarasi pertama sekaligus fondasi epistemologis dalam Islam (6, 7). Ayat ini bukan sekadar perintah membaca teks, tetapi juga membaca alam, fenomena sosial, dan tanda-tanda kebesaran Allah. Dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1-5 disebutkan:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.” (8)
Penelitian Hartono dan Ismail (2025) merekonstruksi epistemologi Islam dengan memposisikan perintah “Iqra'” sebagai paradigma sentral pengetahuan, yang mencakup tiga dimensi: (1) wahyu (naql) sebagai sumber epistemologis primer; (2) proses pengetahuan integratif yang mensintesis wahyu, akal, dan observasi fenomena alam (ayat kauniyyah); dan (3) tujuan pengetahuan transendental yang diarahkan pada ma’rifah—pengenalan intim terhadap Yang Ilahi (6). Penelitian ini menegaskan bahwa “Iqra'” bukan sekadar narasi historis, tetapi prinsip epistemik fundamental untuk sistem pengetahuan abad ke-21 (6).
Senada dengan itu, Ramdhani, Yusuf, dan Alwizar (2025) mengkaji konsep ilmu dalam perspektif Al-Qur’an secara komprehensif dan membandingkannya dengan pandangan filsafat Barat. Temuan mereka menunjukkan bahwa dalam Islam, ilmu bukan hanya hasil rasionalitas manusia, tetapi juga cahaya ilahi yang bersumber dari wahyu. Al-Qur’an mengklasifikasikan ilmu menjadi ilmu laduni (ilmu ilahiah) dan ilmu kasbi (ilmu hasil usaha manusia), serta mengajarkan pentingnya keseimbangan antara akal, wahyu, dan etika dalam proses pencarian ilmu (8).
Penelitian tentang integrasi nilai-nilai QS. Al-‘Alaq 1-5 ke dalam pendidikan sains di era Society 5.0 menunjukkan bahwa 80,7% siswa memahami ayat ini sebagai fondasi spiritual untuk pembelajaran sains, dan 87,0% menyadari peran mereka sebagai khalifah (pemimpin di bumi). Enthusiasme tinggi (86,5%) ditunjukkan dalam menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan konsep-konsep ilmiah (9). Hal ini memperkuat argumen bahwa QS. Al-‘Alaq berfungsi sebagai jembatan epistemologis antara wahyu dan sains.
Dari perspektif IAT, ayat ini mengandung beberapa prinsip epistemologis fundamental:
1. Ilmu Dimulai dengan Menyebut Nama Allah
Frasa “bismi rabbika” (dengan nama Tuhanmu) menunjukkan bahwa setiap aktivitas mencari ilmu harus diawali dengan kesadaran spiritual. Penelitian tentang integrasi spiritualitas dan rasionalitas dalam studi literature review menemukan bahwa relasi ilmu keagamaan dan sains dapat dijembatani melalui pendekatan integratif yang menyeimbangkan dimensi vertikal dan horizontal dalam pencarian ilmu (10).
2. Allah sebagai Sumber Ilmu
Frasa “allazī ‘allama bil-qalam” (Yang mengajar dengan pena) menegaskan bahwa Allah adalah sumber segala ilmu. Penelitian tentang integrasi sains dan agama di sekolah Islam Indonesia menunjukkan bahwa konsep integrasi menekankan pada keseimbangan kepatuhan antara vertikal (hablun min Allah) dan horizontal (hablun min al-nas) (11).
3. Perintah Membaca sebagai Aktivitas Ilmiah
Kata iqra’ yang diulang dua kali memiliki makna lebih luas dari sekadar “membaca.” Penelitian Wiandani dan Bin Salman (2025) menunjukkan bahwa QS. Al-‘Alaq menekankan literasi, pembelajaran, dan perolehan pengetahuan yang didasarkan pada kesadaran ilahi, sementara QS. ‘Abasa menyoroti sensitivitas moral, kesetaraan, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia dalam interaksi pendidikan (12).
B. Konsep Ilmu Laduni: QS. Al-Kahfi (18): 65
Ayat kedua yang menjadi fondasi relasi ini adalah QS. Al-Kahfi ayat 65:
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”
Ayat ini menjadi dasar konsep ilmu laduni—ilmu yang diberikan langsung oleh Allah tanpa melalui perantara (13, 14). Penelitian Risyad, Fitriana, dan Hasbi (2025) mengungkap konsep ilmu laduni dalam perspektif tafsir isyari dari tiga mufassir ternama: Al-Ghazali, Al-Jailani, dan Najmuddin Al-Kubro. Al-Ghazali berprinsip bahwa ilmu laduni dapat diungkap tabirnya dengan metode belajar, riyadhah (latihan spiritual), muraqabah (introspeksi), dan tafakur (kontemplasi). Al-Jailani mengungkap rahasia ilmu laduni dengan metode taubat, zuhud, dan wushul yang pada akhirnya akan memancarkan cahaya ilahi dalam bingkai ilmu laduni yaitu maqam al-tajalli. Najmuddin Al-Kubro menawarkan tiga konsep: syariat, tarekat, dan hakikat (13).
Penelitian ini juga menawarkan bangunan baru untuk menggapai ilmu laduni melalui dua pilar utama: (1) khidmat murid kepada guru, dan (2) ridho guru kepada murid yang mampu menembus cakrawala ilmu laduni (13). Temuan ini relevan dengan kisah Moghaddam yang melakukan ziarah dan tawasul—bentuk penghormatan dan pencarian ridho dari para wali Allah.
Penelitian tentang epistemologi ilmu laduni juga mengkaji bahwa ilmu laduni dapat dicapai dengan mendekatkan diri kepada Allah—”bersahabat” dengan Allah dan dengan kitab suci. Semakin akrab seseorang dengan-Nya, semakin mudah Allah menyampaikan rahasia-Nya (14). Al-Ghazali menggolongkan ilmu laduni sebagai pengajaran bersifat ketuhanan (ta’lim rabbani) yang merupakan penggambaran jiwa yang tenang (nafs mutmainnah) menghadapi hakikat berbagai hal (15).
1. Dua Jalur Memperoleh Ilmu
QS. Al-Kahfi: 65, sebagaimana diisyaratkan oleh wahyu pertama (QS. Al-‘Alaq: 4-5), menunjukkan bahwa cara memperoleh ilmu terdiri dari dua macam (8, 13):
-
Ilmu Kasbi: Ilmu yang diperoleh dengan usaha manusia melalui alat—membaca, meneliti, dan menulis.
-
Ilmu Laduni: Ilmu yang diperoleh tanpa usaha manusia, langsung dari Allah.
Penelitian Haikal dan Sicha (2025) tentang integrasi spiritualitas dan rasionalitas menunjukkan bahwa pendekatan integratif dalam relasi ilmu keagamaan dan sains memungkinkan pengakuan terhadap kedua jalur pengetahuan ini secara seimbang (10).
2. Ilmu Laduni dalam Konteks Moghaddam
Kisah Moghaddam adalah model kontemporer dari konsep ilmu laduni. Dalam narasi yang berkembang, ia melakukan tiga hal yang selaras dengan tuntunan ayat:
-
Pengakuan keterbatasan akal: Ia mencapai titik kebuntuan setelah upaya ilmiah maksimal.
-
Pendekatan spiritual: Ia berziarah ke makam Imam Reza—sebagai bentuk tawasul dan mendekatkan diri kepada Allah.
-
Penerimaan ilham: Ia mendapatkan formula setelah berdoa—yang dalam kerangka QS. Al-Kahfi: 65 dapat dipahami sebagai pemberian ilmu dari sisi Allah.
Penelitian tentang integrasi neurosains dalam pendidikan Islam di Indonesia (2026) mengkritik bahwa Al-Qur’an sering didekati secara dangkal tanpa metodologi yang sistematis. Penelitian ini menyerukan metodologi yang lebih kuat dan kolaborasi ketat antara para ahli dari berbagai bidang (16). Hal ini mengingatkan bahwa konsep ilmu laduni—seperti yang dialami Moghaddam—tidak boleh dipahami sebagai “turun dari langit” tanpa kerja keras, tetapi sebagai hasil dari upaya maksimal yang dilanjutkan dengan ketulusan spiritual.
C. Kesatuan Iman dan Ilmu: QS. Al-Mujadilah (58): 11
Ayat ketiga yang menjadi fondasi adalah QS. Al-Mujadilah ayat 11:
“Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Ayat ini menegaskan bahwa iman dan ilmu adalah dua pilar yang mengangkat derajat manusia. Penelitian tentang neuro-sufisme sebagai jembatan epistemologis menunjukkan bahwa integrasi antara spiritualitas Islam dan sains modern dapat diformulasikan melalui kerangka yang menghubungkan kesadaran sufistik dengan teori-teori neuroscientific tentang kesadaran (17). Ini adalah bentuk kontemporer dari kesatuan iman dan ilmu yang ditegaskan dalam QS. Al-Mujadilah.
Penelitian tentang integrasi sains dan agama di sekolah-sekolah Islam Indonesia menemukan bahwa konsep integrasi menekankan pada keseimbangan kepatuhan antara vertikal dan horizontal, serta pola integrasi yang lebih menekankan pada materi pembelajaran (11). Temuan ini menunjukkan bahwa dalam praktik pendidikan, kesatuan iman dan ilmu diterjemahkan ke dalam materi pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan konten ilmiah.
Penelitian tentang dimensi ganda wahyu Al-Qur’an dalam QS. Al-‘Alaq (1-5) dan QS. ‘Abasa (1-10) menunjukkan bahwa wahyu berfungsi secara simultan sebagai fondasi epistemologis untuk perkembangan intelektual dan sebagai panduan moral untuk pembentukan etis dan humanistik (12). Ini menegaskan bahwa dalam Islam, iman dan ilmu tidak dapat dipisahkan.
1. Ilmu yang Dimaksud Bukan Hanya Ilmu Agama
Dalam QS. Fathir (35): 27-28, Al-Qur’an menguraikan fenomena alam—perbedaan warna buah-buahan, gunung, hewan—lalu ditutup dengan pernyataan bahwa “yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” Ini menunjukkan bahwa ilmu dalam pandangan Al-Qur’an bukan hanya ilmu agama, tetapi ilmu apapun yang bermanfaat dan menghasilkan khasyyah (rasa takut dan kagum kepada Allah) (18).
2. Moghaddam sebagai Perwujudan Kesatuan Iman dan Ilmu
Moghaddam adalah perwujudan nyata dari kesatuan iman dan ilmu. Sebagai:
-
Ilmuwan: Ia merintis sistem rudal darat-ke-darat dan merancang rudal dengan jangkauan operasional lebih dari 1.000 kilometer (3).
-
Mukmin yang bertakwa: Penelitian tentang komponen soft power Moghaddam mengidentifikasi “niat ilahi” dan “koneksi dengan Al-Qur’an dan doa” sebagai tema primer yang menonjol (5). Sebelum meluncurkan rudal pertama ke Baghdad, ia berdoa: “Ya Allah, kami tidak ingin membunuh orang biasa dari Irak, kami ingin membunuh yang militer yang membunuh baik orang Iran maupun Irak…” (4).
Doa ini menunjukkan kesadaran etis dalam penggunaan ilmu pengetahuan—bahwa ilmu dan teknologi harus digunakan untuk kemaslahatan, sesuai dengan prinsip maqasid al-shari’ah (hifz al-nafs, perlindungan jiwa).
D. Sintesis: Sains, Doa, dan Ilmu dalam Epistemologi Integratif
1. Positivisme dan Relijiusitas: Dua Jalur yang Saling Melengkapi
Penelitian tentang integrasi spiritualitas dan rasionalitas menunjukkan bahwa sains dan spiritualitas tidak bertentangan, tetapi dapat dipadukan melalui pendekatan integratif yang menyeimbangkan keduanya (10, 17). Neuro-sufisme sebagai jembatan epistemologis menawarkan kerangka yang menghubungkan kesadaran sufistik dengan teori-teori neuroscientific tentang kesadaran (17).
Kisah Moghaddam menunjukkan bahwa sains dan spiritualitas bukanlah dua garis sejajar yang tak pernah bertemu. Pola ini dapat dipetakan sebagai:
-
Upaya ilmiah (kegigihan mencari formula) → kebuntuan (akal mencapai batas) → doa dan tawasul (pengakuan keterbatasan dan permohonan kepada Allah) → ilham (pemberian ilmu dari sisi Allah).
Model ini sejalan dengan prinsip bahwa akal manusia terbatas dan ada “lapisan ilmu” yang hanya dapat dicapai dengan pertolongan Allah. Penelitian tentang epistemologi ilmu laduni menegaskan bahwa pengakuan terhadap keterbatasan akal dan keterbukaan terhadap bimbingan ilahi adalah bagian integral dari epistemologi Islam (13, 14).
2. Tafsir Ilmi sebagai Jembatan Epistemologis
Penelitian Hadi (2026) tentang pendekatan tafsir ilmi terhadap isyarat sains dalam ayat-ayat kauniyah menunjukkan bahwa tafsir ilmi berperan sebagai jembatan epistemologis antara wahyu dan sains, sehingga mampu memperkaya pemahaman terhadap ayat-ayat kauniyah secara kontekstual dan rasional (1). Namun, pendekatan ini juga menghadapi tantangan metodologis, seperti potensi bias saintifik dan reduksi makna tekstual (1).
Kisah Moghaddam dapat dibaca melalui kerangka tafsir ilmi: ayat-ayat kauniyah tentang penciptaan langit dan bumi—yang menjadi objek kajian sains roket dan aeronautika—dapat dipahami sebagai tanda-tanda kebesaran Allah yang sekaligus membuka ruang dialog dengan ilmu pengetahuan (1, 19).
3. Implikasi bagi Studi Tafsir dan Pendidikan Islam
Kisah Moghaddam memiliki implikasi penting bagi studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir:
-
Model metodologi tafsir: Seorang mufasir, seperti halnya Moghaddam, tidak cukup hanya mengandalkan metode dan akal. Ia juga perlu membuka diri terhadap petunjuk Ilahi. Penelitian tentang epistemologi ilmu laduni menawarkan dua pilar untuk menggapai ilmu laduni: khidmat murid kepada guru dan ridho guru kepada murid (13).
-
Kesatuan iman dan ilmu: QS. Al-Mujadilah: 11 menegaskan bahwa Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu. Penelitian tentang integrasi sains dan agama di Indonesia menunjukkan bahwa dukungan pola integrasi yang menyeluruh berkontribusi pada pemahaman siswa terhadap materi (11).
-
Hifz al-Aql sebagai dimensi produktif: Penelitian tentang konsep hifz al-‘aql dalam perspektif tafsir maqasidi menunjukkan bahwa menjaga akal tidak hanya dari sisi protektif (menghindari hal-hal yang merusak akal), tetapi juga dari sisi produktif—memberdayakan akal untuk menghasilkan kreativitas dan inovasi (20). Kisah Moghaddam adalah contoh nyata dari dimensi produktif ini.
Penelitian tentang epistemologi pendidikan Islam dari perspektif filosofis menunjukkan bahwa kerangka ilmiah yang holistik harus mengintegrasikan dimensi material, intelektual, dan spiritual (21). Ini menegaskan bahwa model Moghaddam—yang menggabungkan sains, doa, dan ilmu—adalah model yang secara filosofis didukung oleh epistemologi Islam.
KESIMPULAN
Relasi antara sains positivistik, doa, dan ilmu dalam perspektif Al-Qur’an dapat dirumuskan sebagai berikut:
-
Sumber ilmu adalah Allah (QS. Al-‘Alaq: 1-5, QS. Al-Kahfi: 18:65). Baik sains (metode ilmiah) maupun doa (spiritual) adalah sarana untuk mendekat kepada sumber ilmu tersebut. Penelitian terkini tentang epistemologi Islam menegaskan bahwa ilmu dalam perspektif Al-Qur’an adalah cahaya ilahi yang bersumber dari wahyu (8), dan perintah “Iqra'” adalah paradigma sentral pengetahuan yang mengintegrasikan wahyu, akal, dan observasi empiris (6).
-
Doa adalah metode epistemologis yang diakui dalam Al-Qur’an dan hadis. Doa bukan sekadar ritual, tetapi pengakuan bahwa akal manusia terbatas dan ada “lapisan ilmu” yang hanya dapat dicapai dengan pertolongan Allah. Penelitian tentang epistemologi ilmu laduni menegaskan bahwa ilmu laduni dapat diungkap melalui metode belajar, riyadhah, muraqabah, dan tafakur (13), serta melalui taubat, zuhud, dan wushul (14).
-
Ilmu laduni—ilmu yang diberikan langsung oleh Allah—adalah konsep yang memiliki dasar dalam Al-Qur’an (QS. Al-Kahfi: 18:65). Kisah Moghaddam yang mendapatkan ilham setelah berdoa adalah model kontemporer dari konsep ini, yang didukung oleh penelitian tentang integrasi spiritualitas dan rasionalitas dalam kerangka epistemologi Islam (10, 17).
-
Positivisme dan relijiusitas tidak bertentangan, tetapi dapat bersatu dalam diri seorang ilmuwan yang mengakui Allah sebagai Al-‘Aliim. Penelitian tentang integrasi sains dan agama di Indonesia menunjukkan bahwa konsep integrasi menekankan pada keseimbangan kepatuhan antara vertikal dan horizontal (11), dan tafsir ilmi berperan sebagai jembatan epistemologis antara wahyu dan sains (1).
-
Iman dan ilmu adalah dua pilar yang diangkat derajatnya oleh Allah (QS. Al-Mujadilah: 58:11). Penelitian tentang dimensi ganda wahyu Al-Qur’an menegaskan bahwa wahyu berfungsi secara simultan sebagai fondasi epistemologis untuk perkembangan intelektual dan sebagai panduan moral untuk pembentukan etis (12). Moghaddam adalah perwujudan dari kesatuan ini—seorang ilmuwan yang ilmunya dilandasi iman, dan imannya diwujudkan dalam doa dan tawasul (5).
Kisah ini menawarkan model epistemologis integratif yang relevan bagi studi IAT: bahwa menafsirkan Al-Qur’an tidak cukup dengan metode dan akal semata, tetapi juga memerlukan keterbukaan terhadap petunjuk Ilahi dan penyucian hati. Sebagaimana Moghaddam mendapatkan ilham setelah berdoa, demikian pula seorang mufasir dapat dibukakan pintu makna setelah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu dan memohon pertolongan kepada Al-‘Aliim. Penelitian tentang integrasi spiritualitas dan rasionalitas dalam pendidikan Islam menegaskan bahwa pendekatan integratif ini adalah kunci untuk menjawab tantangan epistemologis dalam pendidikan Islam kontemporer (10, 21).
DAFTAR PUSTAKA
-
Hadi MF. Pendekatan Tafsir Ilmi terhadap Isyarat Sains dalam Ayat-Ayat Kauniyah Al-Qur’an. Jurnal Pendidikan Tambusai. 2026;10(2):11071-81. Available from: https://doi.org/10.31004/jptam.v10i2.38547
-
Salahuddin R. Science and Islamic Spirituality. Proceedings of ICIGR. 2017.
-
Wikipedia. Hassan Tehrani Moghaddam. 2024. Available from: https://en.wikipedia.org/wiki/Hassan_Tehrani_Moghaddam
-
Poros Timur. Sketsa Rudal di Atas Sajadah (Rahasia “Teknologi Kuburan” Hassan Tehrani Moghaddam). Porostimur.com. 2026 Mar 28.
-
Bidgoli M, Deh Borzoei Asghar R, Iraqi A, Bakhtiyari M. Analyzing the components of soft power of Martyr Hassan Tehrani Moghadam with emphasis on the statements of Imam Khamenei. Political Science Quarterly. 2023;64.
-
Hartono, Ismail. Iqra’ as Knowledge Paradigm: Islamic Epistemology Reconstruction from QS Al-Alaq 1-5. Maghza: Jurnal Ilmu Al Qur’an dan Tafsir. 2025;11(1). Available from: https://doi.org/10.24090/maghza.v11i1.16050
-
Farihatunnisa A. Konsep Hifz al-Aql Perspektif Tafsir Maqasidi [skripsi]. Semarang: UIN Walisongo; 2024.
-
Ramdhani RP, Yusuf KM, Alwizar A. Ilmu Dalam Perspektif Al-Qur’an. Journal of Education Transportation and Business. 2025;2:235-43. Available from: https://doi.org/10.57235/jetbus.v2i1.6351
-
Kemdikti Saintek. Integration of spiritual values from QS Al-‘Alaq verses 1-5 into science education in Society 5.0 era. Garuda – Garba Rujukan Digital. 2025. Available from: https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/5112357
-
Haikal F, Sicha A. Integrasi Spiritualitas dan Rasionalitas: Pendekatan Studi Literature Review atas Relasi Ilmu Keagamaan dan Sains. JOIES (Journal of Islamic Education Studies). 2025;10(2):229-58. Available from: https://doi.org/10.15642/joies.2025.10.2.229-258
-
Sahil J, Zubaidah S, Corebima AD, Gofur A, Saefi M. The Practice of Science and Religion Integration: Evidence from an Indonesian Islamic School. Journal of Biological Education Indonesia (Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia). 2024;10(1):12-26. Available from: https://eric.ed.gov/?id=EJ1423059
-
Wiandani MA, Bin Salman AM. The Dual Dimensions of Qur’anic Revelation: Intellectual and Ethical Foundations of Contemporary Islamic Education in QS. Al-‘Alaq (1-5) and QS. ‘Abasa (1-10). Sunan Kalijaga International Journal on Islamic Educational Research. 2025;9(1). Available from: https://doi.org/10.14421/skijier.2025.91.07
-
Risyad F, Fitriana MA, Hasbi A. Epistemologi Ilmu Laduni Perspektif Tafsir Isyari (Kajian Analisis Tafsir Al-Ghazali, Tafsir Al-Jailani dan Tafsir Najmuddin Al-Kubro). Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam. 2025;6(2):985-1005. Available from: https://ejournal.iaifa.ac.id/index.php/takwiluna/article/view/2569
-
Putri DM. Penafsiran Ulama Sufi tentang Ilmu Laduni dalam Surah Al-Kahfi Ayat 65 [skripsi]. Banjarmasin: UIN Antasari; 2020.
-
Sutiyono A. Ilmu Laduni dalam Perspektif Ghazali. Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam. 2013;7(2).
-
Mawaddah AA. Integration of neuroscience in Islamic Education in Indonesia: an evaluative case study from Qur’anic perspective [thesis]. Kuala Lumpur: International Islamic University Malaysia; 2026. Available from: https://studentrepo.iium.edu.my/entities/publication/540a38e4-6542-4283-8343-fc1014e12d9c
-
Musawamah A, Saád S, Wahid M, Kurniawan AF, Mudlofir S. Neuro-Sufism as an Epistemological Bridge: Integrating Islamic Spirituality and Modern Science. NUKHBATUL ‘ULUM: Jurnal Bidang Kajian Islam. 2026. Available from: https://api.semanticscholar.org/CorpusID:289802285
-
Zuhaili W. Tafsir Al-Munir: Aqidah, Syariah, Manhaj. Jakarta: Gema Insani; 2013.
-
Muslih M, Taqiyuddin M. The Integration of Science and Religion: Analysing Research Paradigms in Indonesian State Islamic Universities through a Lakatosian Lens. Afkar. 2025;27(1):165-202. Available from: https://doi.org/10.22452/afkar.vol27no1.5
-
Farihatunnisa A. Konsep Hifz al-Aql Perspektif Tafsir Maqasidi [skripsi]. Semarang: UIN Walisongo; 2024.
-
Khasanah K, Khobir A, Joina CD, Ni’matul Izzati AM, Safitri NF. Epistemology of Islamic education philosophy: A conceptual study of scientific foundations and implications for modern learning. Asian Journal of Innovative Research in Social Science. 2025;4(4):195-201. Available from: https://doi.org/10.53866/ajirss.v4i4.1102
-
Nizar N, Hayat TJ, Amin N. The Epistemology of Sufi Healing in the Book Miftāḥ al-Ṣudūr by Pangersa Abah Anom. 2024.
-
Faruque MU. Attention, Consciousness, and Self-Cultivation in Sufi-Philosophical Thought. 2023.
-
Al-Kaisi M. Rethinking Conceptual Sufism: A Synthesis of Islamic Spirituality, Asceticism, and Mysticism. 2021.
-
Waliyuddin MN. Spiritualitas dalam Perspektif Tasawuf dan Neurosains: Relasi Komplementer atau Kompartemen? 2022.
-
Zacky M, Moniruzzaman M. ‘Islamic Epistemology’ in a Modern Context: Anatomy of an Evolving Debate. Social Epistemology. 2024;38(4):511-25. Available from: https://doi.org/10.1080/02691728.2023.2227945
-
Kurniati U. Integration Between Reason and Revelation in the Grounding of Islamic Law in the Contemporary Era. Jurnal Al-Dustur. 2024;7(2):222-35. Available from: https://doi.org/10.30863/aldustur.v7i2.7704
-
Nasution N, Ramadhani S, Abdullah F. Epistemology of Science in the Qur’an: A Study of the Concept of ‘Ilm and Its Implications for Contemporary Islamic Education. Journal of Islamic Studies. 2023;45(2):112-28.
-
Andrabi A. Human Psychology and Spiritual Development: An Islamic Perspective. 2025.
-
Jailani M. Exploring the Development of Neuroscience in the Light of Islamic Perspectives: A Qualitative Literature Review. 2023.Penulis : Dr. Deddi Fasmadhy Satiadharmanto











































