Yogyakarta, 18 Agustus 2026 — Purna tugas Prof. Dr. Lasiyo, M.A. sebagai guru besar Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada ditandai dengan pagelaran wayang purwa, Rabu Pon, 18 Agustus 2026. Lakon “Abiyasa Madeg Brahmana” dipilih sebagai medium refleksi tentang pengabdian, pelepasan kekuasaan, kebijaksanaan, dan perjalanan manusia menuju kesempurnaan hidup.
Pagelaran tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan Dies Natalis ke-59 Fakultas Filsafat UGM. Seni pewayangan dan karawitan menjadi bingkai perayaan yang mempertemukan tradisi kebudayaan Jawa dengan refleksi filosofis tentang kehidupan.
Dalam lakon tersebut, Abiyasa digambarkan terlebih dahulu menjalani kehidupan sebagai raja Astina. Ia bergelar Kanjeng Sinuwun Prabu Kresna Dwipayana, seorang narendra gung binathara, pemimpin yang dituntut memiliki sikap adil, berbudi luhur, serta mampu memayu hayuning bawana.
Namun, kekuasaan bukanlah tujuan akhir.
Ketika tiba waktunya, Prabu Kresna Dwipayana memilih lengser keprabon, meninggalkan takhta dan menjalani kehidupan sebagai pandhita. Tahta Astina kemudian dipercayakan kepada Pandhu Dewanata yang dinilai telah memiliki pengalaman, kecakapan, dan kemampuan untuk mengemban amanat kerajaan.
Prosesi peralihan kekuasaan itu disaksikan Destarastra dan Yamawidura. Keluarga Astina menyepakati Pandhu Dewanata sebagai pewaris kerajaan.
Dari istana, Abiyasa kemudian menuju Pertapan Saptaharga. Tempat itu dikenal pula sebagai Wukir Atawu atau Saptarengga. Di pertapaan tersebut, Resi Abiyasa atau Begawan Wiyasa digambarkan sebagai sosok yang telah mencapai kedalaman pengetahuan dan kebijaksanaan.
Ia kesdik paningale, matang dalam tapa dan semedi. Seorang pandhita waskitha, yang dalam ungkapan Jawa disebut mampu ngerti sakdurunge winarah.
Wibawa sang begawan bahkan digambarkan menjangkau alam semesta. Hujan yang turun seakan menghindar, mendung terbelah, sementara angin menyingkir ketika melewati pertapaan Saptaharga. Gambaran simbolik itu menegaskan kedudukan seorang resi sebagai manusia yang telah mampu mengendalikan dirinya dan mencapai kedalaman spiritual.
Dalam konteks purna tugas Prof. Lasiyo, kisah Saptaharga memperoleh makna tersendiri.
Pertapaan dalam lakon tersebut dapat dibaca sebagai simbol perguruan. Dalam konteks modern, ia mengingatkan pada Kampus Bulaksumur sebagai tempat pendidikan dan penggemblengan generasi penerus bangsa.
Selama mengabdi di Fakultas Filsafat UGM, Prof. Lasiyo menjalankan peran sebagai guru yang tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan kebijaksanaan. Purna tugas karena itu tidak dimaknai sebagai berhentinya pengabdian.
Pengetahuan dan keteladanan seorang guru justru terus hidup melalui murid-muridnya.
Mahasiswa dan mahasiswi yang pernah memperoleh bimbingan sang guru besar menjadi bagian dari mata rantai keilmuan yang terus bergerak. Dalam ungkapan Jawa, kepandaian dan kebijaksanaan itu terus nglintir kepinteran—berpindah dan berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Wayang dalam konteks ini bukan sekadar tontonan. Ia menjadi ruang tafsir.
Wayang iku wewayangane ngaurip. Wayang adalah bayangan kehidupan. Setiap tokoh, perjalanan, konflik, dan perubahan kedudukan mengandung simbol yang dapat ditafsirkan melalui pengalaman manusia.
Lakon Abiyasa Madeg Brahmana menjadi kaca semiotik untuk membaca perjalanan kehidupan: dari kekuasaan menuju kebijaksanaan, dari jabatan menuju pengabdian, dan dari dunia material menuju pencarian makna.
Dalam tradisi pemikiran Jawa, perjalanan itu berkaitan dengan pencarian sangkan paraning dumadi—asal dan tujuan keberadaan manusia.
Purna tugas Prof. Lasiyo kemudian dapat dibaca bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai fase baru menuju ruang pengabdian yang lebih reflektif.
Hal tersebut tercermin dalam tembang Pangkur yang dipersembahkan dalam rangkaian acara:
Warata kehing wewarah,
Prof Lasiyo sampurna mesu budi,
Perguruan Bulaksumur,
Minangka guru besar,
Wus pensiun saking wiyata karuhun,
Pengabdian nusa bangsa,
Momot momor generasi.
Pesan yang muncul adalah bahwa seorang guru besar meninggalkan jabatan, tetapi tidak meninggalkan nilai. Gelar akademik dapat berakhir pada batas administratif masa kerja, tetapi keteladanan dan ilmu pengetahuan dapat terus diwariskan.
Karena itu, purna tugas Prof. Lasiyo menjadi momentum bagi dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan kolega untuk mengambil suri teladan dari perjalanan pengabdiannya.
Fakultas Filsafat UGM diharapkan tetap menjadi ruang yang guyub, rukun, ayem, dan tenteram sekaligus menjadi tempat tumbuhnya pemikiran kritis untuk memayungi masa depan generasi muda.
Rangkaian acara berlangsung dalam suasana budaya Jawa yang kental. Seni karawitan mengiringi pagelaran, sementara para peserta mengenakan busana kejawen secara lengkap.
Pemilihan wayang sebagai penanda purna tugas juga mempertegas hubungan antara filsafat dan kebudayaan. Filsafat tidak hanya berbicara tentang konsep dan teori, tetapi juga tentang kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.
Seperti Abiyasa yang memilih meninggalkan takhta untuk memasuki kehidupan sebagai brahmana, perjalanan seorang guru besar pada akhirnya bukan semata-mata tentang lamanya menduduki jabatan.
Yang lebih penting adalah apa yang ditinggalkan setelah jabatan itu berakhir.
Ilmu, keteladanan, dan generasi yang pernah dibimbing menjadi jejak pengabdian yang terus hidup.
Dalam perspektif itu, Abiyasa Madeg Brahmana bukan sekadar lakon wayang. Ia menjadi metafora perjalanan seorang guru: dari mengajar menuju menginspirasi, dari memimpin menuju membimbing, dan dari jabatan menuju kebijaksanaan.
Yogyakarta, 18 Agustus 2026
Purwadi











































