Yogyakarta, 18 Agustus 2026 — Tari Golek Ayun-Ayun membuka rangkaian peringatan Dies Natalis ke-59 Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Beksan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada para tamu yang hadir dalam perhelatan yang memadukan tradisi Jawa, filsafat, dan refleksi pengabdian akademik.
Diiringi gamelan, para wiyaga memainkan gendhing, sementara waranggana melantunkan syair dengan suara merdu.
Ayun-ayun gobyok gawe gumun,
Tekun sarwa rukun,
Akeh kang kanyungyun,
Dadi srana iku datan jemu,
Nyawiji ing panemu,
Condhonging kalbu.
Tari dan tembang tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami seni sebagai edi peni dan kebudayaan sebagai adi luhung. Bagi tradisi intelektual Fakultas Filsafat UGM, kesenian bukan semata pertunjukan, melainkan medium refleksi tentang manusia, kebudayaan, dan kehidupan.
Suasana itu mengingatkan pada jejak pemikiran sejumlah guru besar Fakultas Filsafat UGM, antara lain Prof. Dr. Damardjati Supadjar, Prof. Dr. Koento Wibisono, Prof. Dr. Djuretno, Prof. Dr. Endang Daruni, Prof. Dr. Kaelan, dan Prof. Dr. Joko Siswanto.
Mereka merupakan bagian dari tradisi intelektual yang menempatkan filsafat sebagai pencarian kebijaksanaan. Dalam mata rantai tersebut terdapat sosok Prof. Dr. Notonagoro, pemikir filsafat Pancasila yang pemikirannya memberi pengaruh besar terhadap perkembangan filsafat Pancasila sebagai dasar negara.
Wayang sebagai ruang refleksi
Babaran seni pewayangan kemudian menjadi bagian penting dari acara. Pagelaran wayang purwa dengan lakon “Abiyasa Madeg Brahmana” dipentaskan sebagai tanda paripurna pengabdian Prof. Dr. Lasiyo, M.A. sebagai guru besar Fakultas Filsafat UGM.
Lakon tersebut dipilih karena mengandung wulangan, wejangan, dan wedharan: pelajaran, nasihat, dan uraian tentang kehidupan.
Abiyasa dikisahkan pernah menjadi raja di Astina Pura dengan gelar Kanjeng Sinuwun Prabu Kresna Dwipayana. Ia digambarkan sebagai narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, pemimpin yang memiliki tanggung jawab menjaga keadilan, kebajikan, dan keharmonisan dunia.
Namun pada waktunya, Prabu Kresna Dwipayana memilih lengser keprabon, madeg pandhita.
Pandhu Dewanata yang telah dipersiapkan melalui pendidikan, pengalaman, kecakapan, dan kemampuan kemudian menerima amanat sebagai penerus takhta. Prosesi penobatan disaksikan Adipati Destarastra dan Raden Yamawidura.
Setelah meninggalkan kekuasaan, Abiyasa memasuki Pertapan Saptaharga. Pertapaan itu dikenal pula sebagai Wukir Atawu atau Saptarengga.
Di tempat tersebut, Resi Abiyasa atau Begawan Wiyasa digambarkan telah mencapai kedalaman ilmu dan kebijaksanaan.
Kesdik paningale, mateng semedine.
Ia menjadi pandhita waskitha, sosok yang mampu membaca kehidupan secara mendalam, bahkan ngerti sakdurunge winarah.
Dalang dan sanggit
Pagelaran tersebut semakin hidup melalui kepiawaian Ki Dalang Gondo Suharno. Suara dalang yang gandem marem membuat suasana pertunjukan terasa teduh. Penonton mengikuti cerita dengan tenang, dalam suasana adhem ayem.
Para pengrawit memainkan gendhing dengan kemampuan yang matang. Ki Gondo Suharno tidak hanya menghidupkan tokoh-tokoh wayang, tetapi juga mengolah sanggit sehingga lakon memiliki lapisan makna simbolik.
Dalam sambutan acara, Prof. Dr. RR. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., Dekan Fakultas Filsafat UGM, menyampaikan pemikiran yang mengaitkan peristiwa budaya tersebut dengan perjalanan keilmuan dan pengabdian fakultas.
Sementara itu, Dr. Sri Teddy Rusdi selaku Ketua Ikatan Alumni Filsafat UGM turut memberikan sambutan. Ia menempatkan peristiwa tersebut sebagai momentum refleksi sekaligus penghormatan terhadap perjalanan akademik dan kebudayaan Fakultas Filsafat UGM.
Ki Dalang Gondo Suharno diharapkan tidak hanya menyajikan tontonan, tetapi juga memberikan pencerahan melalui lakon yang dimainkan.
Dari Saptaharga ke Bulaksumur
Dalam cerita wayang, kewibawaan Begawan Abiyasa digambarkan memancar ke segala penjuru. Hujan mengemper, mendung menyibak ke kanan dan kiri. Angin pun seakan menyingkir ketika melewati Pertapan Saptaharga.
Gambaran tersebut menjadi metafora menarik untuk membaca Kampus Gadjah Mada.
Saptaharga merupakan tempat penggemblengan batin dan pengetahuan Abiyasa. Bulaksumur merupakan peguron modern tempat generasi penerus bangsa ditempa dengan ilmu pengetahuan.
Di sanalah perjalanan Prof. Lasiyo mendapatkan relevansinya.
Setelah berdarma bakti sebagai guru besar, Prof. Lasiyo memasuki masa pensiun. Namun, pensiun tidak berarti berakhirnya pengabdian. Idealisme seorang akademisi tetap dapat hidup sepanjang hayat.
Mahasiswa dan mahasiswi yang pernah memperoleh bimbingannya menjadi bagian dari warisan intelektual tersebut.
Nglintir kepinteran.
Pengetahuan terus berputar, diwariskan, dikembangkan, dan menemukan bentuk baru pada generasi berikutnya.
Wayang dan tafsir kehidupan
Wayang dalam tradisi Jawa tidak hanya dipandang sebagai pertunjukan. Ia merupakan wewayangane ngaurip, bayangan kehidupan.
Karena itu, Abiyasa Madeg Brahmana dapat dibaca sebagai teks budaya yang sarat simbol dan membuka ruang tafsir hermeneutik.
Kisah Abiyasa yang meninggalkan takhta untuk menjadi pandhita mengandung pesan tentang perubahan orientasi hidup: dari kekuasaan menuju kebijaksanaan, dari jabatan menuju pengabdian, dan dari pencapaian duniawi menuju pencarian makna.
Lakon tersebut menjadi tafsir kultural tentang sangkan paraning dumadi, tentang asal dan tujuan perjalanan manusia.
Dalam konteks itu, purna tugas Prof. Lasiyo bukan semata-mata akhir masa kerja akademik. Ia menjadi fase baru untuk memasuki ruang pengabdian yang lebih luas dan reflektif.
Pesan tersebut dirangkum melalui tembang Pangkur:
Warata kehing wewarah,
Prof Lasiyo sampurna mesu budi,
Perguruan Bulaksumur,
Minangka guru besar,
Wus pensiun saking wiyata karuhun,
Pengabdian nusa bangsa,
Momot momor generasi.
Wedang ronde dan filsafat kebijaksanaan
Suasana malam semakin hangat dengan suguhan wedang ronde dan makanan khas angkringan. Hawa dingin Yogyakarta tidak mengurangi keakraban para tamu dalam mengikuti rangkaian Dies Natalis Fakultas Filsafat UGM.
Justru kesederhanaan suguhan itu memberi nuansa seperti Pertapan Saptaharga: hangat, dekat, dan penuh perenungan.
Kawruh sejati, dalam pandangan kebudayaan Jawa, bukan sekadar membuat seseorang pandai. Ilmu seharusnya membuat manusia semakin mampu memahami dirinya, lingkungannya, dan tanggung jawabnya terhadap kehidupan.
Filsafat pun pada akhirnya kembali pada makna dasarnya: cinta kepada kebijaksanaan.
Semangat tersebut sejalan dengan prasapa Kanjeng Sultan Agung, raja Mataram pada 1613–1645:
Mangasah mingising budi,
Memasuh malaning bumi,
Memayu hayuning bawana.
Mengasah ketajaman budi, membersihkan keburukan dunia, dan menjaga keselamatan serta keharmonisan kehidupan.
Dalam semangat itulah Dies Natalis ke-59 Fakultas Filsafat UGM tidak hanya menjadi perayaan usia lembaga. Ia menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan memperoleh maknanya ketika melahirkan kebijaksanaan.
Dan seperti Abiyasa yang meninggalkan takhta untuk menjadi brahmana, seorang guru besar mungkin meninggalkan jabatan, tetapi ilmu, teladan, dan kebijaksanaannya tetap tinggal di tengah generasi yang pernah dididiknya.
Yogyakarta, Rabu Pon, 18 Agustus 2026
Purwadi











































