DEMAK — Perayaan Idul Fitri di lingkungan Kraton Demak Bintara tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan. Dalam kisah tentang Kanjeng Ratu Mas Panggung, perayaan Lebaran juga menjadi ruang perjumpaan agama, kebudayaan, pendidikan, dan kegiatan ekonomi masyarakat.
Kanjeng Ratu Mas Panggung disebut sebagai garwa prameswari Raden Patah, raja Demak Bintara. Dalam naskah tersebut, ia disebut lahir di Semampir, Surabaya, pada 30 Juni 1462 dan merupakan putri Kanjeng Sunan Ampel.
Sejak 1478, Ratu Panggung disebut aktif mendampingi Raden Patah sekaligus terlibat dalam kegiatan kultural istana. Salah satu perhatian utamanya adalah penyelenggaraan perayaan Idul Fitri.
Dalam tradisi yang dikisahkan, persiapan Lebaran dimulai menjelang akhir Ramadhan. Ada kegiatan grebeg malem sanga likur, ketika para abdi dalem berkeliling kota dengan membawa lampu tradisional seperti ting, oncor, dimar, upet, dan teplok.
Ribuan tumpeng juga disiapkan dan dibagikan untuk dinikmati bersama jamaah Masjid Agung Demak setelah shalat tarawih.
Menjelang berakhirnya Ramadhan, digelar wilujengan apem mas. Kata apem dimaknai sebagai simbol permohonan maaf. Tradisi itu dipimpin Ratu Panggung bersama para dayang istana.
Lebaran sebagai Ruang Kebudayaan
Perayaan Idul Fitri kemudian berkembang menjadi rangkaian kegiatan yang melibatkan keluarga kerajaan, masyarakat, ulama, dan seniman.
Halal bihalal disebut berlangsung selama sekitar dua pekan. Sungkeman dan ngabekten dilakukan di lingkungan internal kerajaan, terutama dengan melibatkan anak, menantu, cucu, dan keluarga dekat.
Alun-alun Kraton Demak juga menjadi pusat keramaian. Ratu Panggung disebut mengusulkan pasar malam dan pertunjukan seni budaya sebagai bagian dari perayaan.
Berbagai kesenian tradisional ditampilkan, mulai dari wayang kulit, wayang wong, ludruk, ketoprak, jathilan, jaran kepang, angguk, lengger hingga tayub.
Festival kuliner juga menjadi bagian dari perayaan. Para perempuan dari berbagai wilayah disebut ikut memamerkan makanan tradisional. Kegiatan tersebut melibatkan para istri bupati.
Dengan demikian, Lebaran dalam kisah tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai peristiwa keagamaan, tetapi juga sebagai peristiwa sosial dan budaya.
Menggerakkan Ekonomi Rakyat
Kegiatan kebudayaan tersebut memiliki dimensi ekonomi.
Keramaian yang muncul selama perayaan Idul Fitri membuka ruang bagi pedagang dan pelaku usaha. Dalam naskah tersebut disebutkan berbagai usaha yang berkaitan dengan Ratu Panggung, antara lain produksi garam di Kalianget, penyewaan perahu di Pelabuhan Tanjung Perak, mebel Jepara, marmer Tulungagung, terasi Lasem-Rembang, dan kecap Purwodadi.
Ratu Panggung digambarkan sebagai pengusaha sekaligus sponsor berbagai kegiatan kerajaan.
Gagasan yang ditonjolkan adalah bahwa kegiatan budaya dapat berjalan beriringan dengan kegiatan ekonomi. Keramaian mendatangkan masyarakat, sementara kehadiran masyarakat menghidupkan perdagangan.
Hari kelima Lebaran juga memiliki agenda khusus bagi anak-anak. Dalam tradisi tersebut dikenal istilah bada kecil. Kegiatan dilaksanakan di Sasana Mulya dan dipimpin ulama kerajaan.
Masjid Agung Demak sebagai Pusat Kehidupan
Masjid Agung Demak menempati posisi penting dalam kisah mengenai Ratu Panggung dan Kraton Demak Bintara.
Masjid tidak hanya dipandang sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai tempat pendidikan, pertemuan, dakwah, dan kegiatan sosial.
Dalam naskah tersebut, Masjid Agung Demak bahkan digambarkan sebagai pusat kehidupan keagamaan masyarakat Muslim Jawa pada masa awal perkembangan Demak.
Kisah pembangunan masjid juga berkaitan erat dengan Wali Sanga, terutama Sunan Kalijaga. Salah satu cerita yang terkenal menyebutkan bahwa salah satu dari empat saka guru masjid dibuat dari potongan-potongan kayu yang dikumpulkan Sunan Kalijaga.
Potongan kayu tersebut kemudian disusun menjadi sebuah tiang.
Kisah itu dapat dibaca sebagai simbol kreativitas: sesuatu yang tersisa dan tampak tidak berguna dapat dirangkai menjadi bagian penting dari sebuah bangunan.
Dalam naskah, Masjid Agung Demak juga dikaitkan dengan proses akulturasi Islam dan kebudayaan Jawa.
Agama dan Budaya
Ratu Mas Panggung digambarkan memiliki perhatian terhadap pertemuan antara nilai Islam dan budaya Jawa.
Kegiatan keagamaan tidak selalu diselenggarakan dalam bentuk ritual semata. Seni, sastra, tradisi makanan, pertunjukan, dan kegiatan sosial turut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Tradisi tersebut kemudian dipahami sebagai bentuk dakwah kultural.
Bahasa Arab dan bahasa Jawa digunakan berdampingan dalam kegiatan keagamaan. Kitab-kitab klasik dikaji bersama karya sastra dan tradisi intelektual Jawa.
Gagasan mengenai Islam yang ramah terhadap lingkungan sosial dan budaya juga muncul dalam kisah tersebut. Prinsip rahmatan lil alamin ditempatkan sebagai dasar kehidupan bersama.
Warisan yang Berlanjut
Kisah tentang Ratu Mas Panggung pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai seorang perempuan di lingkungan kerajaan Demak.
Ia menjadi simbol bagaimana perempuan dapat mengambil peran dalam membangun kehidupan sosial dan kebudayaan.
Melalui perayaan Idul Fitri, kegiatan seni, pasar malam, kuliner, pendidikan, dan dakwah, Ratu Panggung digambarkan berusaha mempertemukan masyarakat dalam sebuah ruang bersama.
Tradisi halal bihalal yang dikaitkan dengan dirinya kemudian dipandang sebagai warisan budaya yang terus dikenang.
Dalam konteks masyarakat Jawa, pertemuan agama dan budaya semacam itu memperlihatkan bahwa Islam berkembang tidak selalu dengan menghapus tradisi yang telah ada. Dalam banyak kisah sejarah dan tradisi lokal, agama justru hadir melalui proses dialog dan penyesuaian dengan kebudayaan masyarakat.
Ratu Mas Panggung, dalam narasi tersebut, menjadi salah satu figur yang merepresentasikan proses itu.
Dari keraton, masjid, alun-alun hingga pasar, Lebaran menjadi ruang tempat agama, budaya, dan kehidupan masyarakat bertemu.
Purwadi, Ketua Lokantara Pusat











































