YOGYAKARTA, 17 Agustus 2026 — Pada pagi 17 Agustus, halaman Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta dipenuhi orang-orang yang datang untuk mengingat sebuah peristiwa yang telah berlangsung 81 tahun lalu.
Pukul 07.30, upacara dimulai.
Di antara barisan peserta, mahasiswa berdiri dengan jas almamater. Dosen dan tenaga kependidikan mengenakan busana kejawen gaya Mataraman. Rektor memimpin upacara. Bendera Merah Putih berkibar di halaman kampus.
Pemandangan itu memperlihatkan sesuatu yang lebih luas daripada sebuah upacara tahunan: sebuah bangsa yang mencoba membawa masa lalunya ke dalam kehidupan masa kini.
Indonesia merayakan kemerdekaannya setiap 17 Agustus. Namun cara orang mengingat kemerdekaan tidak pernah sepenuhnya sama. Di kampus, ia hadir melalui pendidikan dan upacara. Di desa-desa, melalui tirakatan dan permainan rakyat. Di jalan-jalan kota, melalui karnaval dan kesenian.
Semua memiliki bahasa yang berbeda untuk mengatakan hal yang sama: Indonesia masih menjadi sebuah proyek bersama.
Sebuah Pagi di Kampus
Upacara kemerdekaan di UNY berlangsung khidmat. Tetapi di balik barisan yang tertib itu terdapat kehidupan kampus yang sehari-hari jauh lebih ramai: mahasiswa yang mengejar kuliah, dosen yang mengajar, tenaga kependidikan yang mengurus berbagai pekerjaan administratif.
Pada hari itu, semuanya berhenti sejenak.
Kemerdekaan ditempatkan kembali sebagai bagian dari pendidikan.
Bagi generasi muda, sejarah tidak cukup hanya dibaca dalam buku pelajaran. Ia perlu dihadirkan sebagai pengalaman bersama—melalui lagu, upacara, simbol, pakaian, dan ingatan tentang orang-orang yang hidup sebelum mereka.
Jas almamater yang dikenakan mahasiswa tampak sederhana. Namun ia membawa simbol lain: bahwa masa depan bangsa sebagian berada di tangan mereka yang pagi itu berdiri di halaman kampus.
Kemerdekaan yang Dirayakan dari Bawah
Beberapa kilometer dari ruang-ruang akademik, perayaan kemerdekaan mengambil bentuk yang berbeda.
Sejak awal Agustus, kampung-kampung telah bersiap. Malam tirakatan digelar. Jalan-jalan dihias. Anak-anak dan orang dewasa mengikuti perlombaan.
Balap karung. Makan jeruk. Sepak bola. Bola basket. Canthel caping.
Permainan itu mungkin tidak memiliki hubungan langsung dengan sejarah Proklamasi 1945. Namun justru di sanalah salah satu wajah kemerdekaan tampak: orang-orang berkumpul tanpa banyak memikirkan perbedaan status sosial.
Mereka menyumbangkan apa yang mereka punya.
Tenaga. Pikiran. Waktu. Uang.
Dalam bahasa Jawa, semangat itu dapat diringkas sebagai udhu bahu, suku lan panemu—saling menyumbangkan bahu, kaki, dan pikiran.
Kemerdekaan, dalam bentuknya yang paling sederhana, menjadi pekerjaan gotong royong.
Lagu yang Menghubungkan Generasi
Menjelang perayaan, lagu Hari Merdeka kembali terdengar.
Tujuh belas Agustus tahun empat lima.
Bagi generasi yang mengalami masa perjuangan, lagu itu membawa ingatan. Bagi generasi yang lahir puluhan tahun kemudian, ia menjadi bagian dari warisan yang diterima hampir tanpa pertanyaan.
Tetapi setiap kali lagu itu dinyanyikan bersama, maknanya berubah menjadi pengalaman kolektif.
Hari merdeka nusa dan bangsa.
Hari lahirnya Indonesia merdeka.
Lagu tersebut mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya sebuah peristiwa politik. Ia juga merupakan ingatan emosional yang diwariskan melalui suara.
Ketika Nasionalisme Berbicara dalam Bahasa Jawa
Di Jawa, ingatan tentang kemerdekaan memiliki banyak bentuk.
Ia dapat ditemukan dalam upacara, wayang, gamelan, cerita keluarga, hingga tembang macapat.
Dalam tembang Dhandhanggula, kemerdekaan dapat direnungkan melalui bahasa tentang rasa syukur, pengabdian, persatuan, dan masa depan.
Proklamasi kamardikan RI,
Padhang terang terwaca ngumandhang,
Sabang nganti Merauke,
Manunggal suka sukur,
Darma bakti ibu pertiwi,
Labuh labet negara,
Kanthi guyub rukun,
Tuwuh jiwa kebangsaan,
Asesanti sembada hayu lestari,
Nusantara widada.
Di dalamnya tidak terdapat bahasa politik yang rumit. Yang ada adalah gagasan sederhana: bersyukur, hidup rukun, mengabdi kepada negeri, dan menjaga kehidupan bersama.
Barangkali nasionalisme memang sering kali bertahan bukan karena slogan yang besar, tetapi karena kebiasaan kecil yang terus diulang.
Warisan Seorang Pendidik
Di Yogyakarta, pembicaraan tentang pendidikan hampir selalu membawa nama Ki Hadjar Dewantara.
Ing ngarsa sung tuladha. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani.
Di depan memberi teladan. Di tengah membangun kehendak. Dari belakang memberikan dorongan.
Gagasan itu memperoleh makna khusus pada peringatan kemerdekaan di sebuah kampus pendidikan.
Sebab kemerdekaan tidak hanya membutuhkan warga negara yang mampu mengingat sejarah. Ia membutuhkan warga negara yang mampu mengambil keputusan, bekerja bersama, menghormati perbedaan, dan membangun masa depan.
Itulah sebabnya upacara di kampus dapat dipandang lebih dari sekadar seremoni.
Ia adalah jeda.
Sebuah bangsa berhenti sejenak dari rutinitasnya untuk bertanya kepada dirinya sendiri: apa arti menjadi Indonesia setelah 81 tahun merdeka?
Tradisi, Masa Kini, dan Masa Depan
Pemandangan dosen dan tenaga kependidikan dalam busana kejawen yang berdiri bersama mahasiswa berseragam almamater menyimpan sebuah metafora yang sederhana.
Tradisi berada di satu sisi.
Masa depan berada di sisi yang lain.
Namun keduanya berdiri di tempat yang sama.
Indonesia modern tidak mungkin sepenuhnya meninggalkan masa lalunya. Sebaliknya, tradisi juga tidak dapat hidup jika tidak menemukan tempat dalam kehidupan generasi baru.
Di situlah makna Bhinneka Tunggal Ika menjadi nyata—bukan sebagai kalimat yang hanya dibaca dalam upacara, tetapi sebagai cara hidup.
Indonesia memasuki tahun ke-81 kemerdekaannya.
Perayaannya mungkin akan berakhir setelah bendera diturunkan, perlombaan selesai, karnaval bubar, dan lagu-lagu berhenti berkumandang.
Tetapi pekerjaan kemerdekaan tetap berjalan.
Di ruang kelas. Di rumah. Di kampung. Di kampus. Di kantor. Di jalan-jalan kecil tempat warga masih bergotong royong.
Kemerdekaan, pada akhirnya, bukan hanya sesuatu yang dirayakan setiap Agustus.
Ia adalah sesuatu yang harus terus dikerjakan.
Yogyakarta, 16 Agustus 2026
Purwadi











































