By: Reynold. A
Pawai obor, syiar Islam, budaya Betawi, dan toleransi bertemu di Jakarta. Kebetulan atau bagian dari strategi besar?
Di tengah gegap gempita perayaan Tahun Baru Masehi, momentum Tahun Baru Islam kerap luput dari perhatian sebagian umat Muslim di Indonesia. Kuatnya arus modernisasi dan dominasi budaya populer membuat pergantian kalender Hijriah sering kali berlalu tanpa makna yang mendalam. Akibatnya, nilai-nilai refleksi, hijrah, dan pembaruan diri yang terkandung dalam Tahun Baru Islam belum sepenuhnya mendapat ruang yang proporsional dalam kehidupan masyarakat.
Namun pemandangan berbeda terlihat di DKI Jakarta. Tahun Baru Islam yang kini dikemas dalam bentuk Festival Muharam telah menjadi agenda tahunan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Di bawah koordinasi Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, festival ini tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial keagamaan, melainkan telah berkembang menjadi bagian dari aset wisata budaya urban yang memperkaya identitas kota.
Tradisi Muharaman sendiri memiliki akar yang kuat dalam kehidupan masyarakat Betawi tempo dulu yang sarat dengan nilai-nilai Islam. Meski terbentuk melalui proses akulturasi berbagai budaya dan bangsa, identitas Betawi tetap bertumpu pada ajaran Islam yang telah mengakar selama berabad-abad.
Sejak masa para ulama terdahulu, masyarakat Jakarta menyambut Tahun Baru Hijriah dengan penuh suka cita melalui tradisi pawai obor. Para kiai, ustaz, ustazah, dan santri berbaur dengan masyarakat luas, berjalan bersama menerangi malam sebagai simbol harapan, persatuan, dan semangat memperbaiki diri. Kemeriahan tersebut biasanya ditutup dengan tradisi menyantap bubur merah putih yang melambangkan rasa syukur, kebersamaan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
Pada tanggal 14 dan 15 Juni 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menghidupkan syiar tersebut melalui penyelenggaraan Festival Muharam 1448 Hijriah di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan. Menariknya, kegiatan keagamaan ini dikemas secara modern tanpa kehilangan nilai kesakralannya.
Kehadiran tokoh-tokoh dakwah populer seperti Ustadz Akri Patrio, Ustadz Jojo, dan Ustadz Hadad Alwi yang berkolaborasi dengan musisi kontemporer seperti Isyana Sarasvati, Opick dan Fatin Shidqia berhasil menghadirkan ruang syiar yang lebih inklusif dan dekat dengan generasi muda. Pendekatan ini menunjukkan bahwa dakwah dapat disampaikan dengan cara yang kreatif, relevan, dan tetap menjaga substansi ajaran Islam.
Langkah Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam memfasilitasi ruang publik bagi ekspresi keagamaan patut diapresiasi. Sebelum Festival Muharam digelar, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga berhasil menghadirkan berbagai kegiatan bernuansa keagamaan di kawasan Bundaran HI dan Jalan MH Thamrin. Kebijakan ini mengirimkan pesan bahwa ruang publik modern dapat menjadi tempat bertemunya nilai-nilai spiritual, budaya, dan kebersamaan sosial.
Lebih jauh lagi, keterbukaan pemerintah daerah dalam memberikan ruang bagi aktivitas keagamaan diharapkan mampu memperkuat semangat toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Toleransi tersebut tidak hanya diwujudkan dalam hubungan sosial antarumat beragama, tetapi juga dalam lingkungan profesional, termasuk penghormatan terhadap hak-hak dasar pekerja Muslim untuk menjalankan ibadah secara layak di tengah aktivitas kerja.
Dalam perspektif teologis, nilai-nilai toleransi tersebut sejatinya telah diajarkan Islam sejak lebih dari 14 abad yang lalu. Al-Qur’an secara tegas mengajarkan penghormatan terhadap pilihan keyakinan setiap manusia.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 256:
“Lā ikrāha fī d-dīn.”
(Tidak ada paksaan dalam menganut agama).
Sementara dalam QS. Al-Kafirun ayat 6 disebutkan:
“Lakum dīnukum wa liya dīn.”
(Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku).
Bahkan dalam QS. Al-Mumtahanah ayat 8 Allah SWT menegaskan:
“Lā yanhākumullāhu ‘anilladzīna lam yuqātilūkum fid-dīni wa lam yukhrijūkum min diyārikum an tabarrūhum wa tuqsithū ilaihim, innallāha yuḥibbul-muqsiṭīn.”
(Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil).
Ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa keteguhan iman tidak boleh menghilangkan rasa hormat kepada sesama manusia. Keberagaman bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk membangun kehidupan yang damai, adil, dan harmonis.
Melalui Festival Muharam 1448 Hijriah ini, Jakarta diharapkan mampu mengirimkan pesan perdamaian ke seluruh penjuru negeri. Sebuah pesan bahwa kemajuan kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya merawat nilai-nilai kebudayaan, spiritualitas, dan toleransi.
Momentum festival ini terasa semakin istimewa karena berdekatan dengan peringatan HUT ke-499 Kota Jakarta yang sekaligus menjadi gerbang menuju usia emas lima abad pada tahun mendatang. Di tengah tantangan ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, tugas pemimpin daerah menjadi semakin kompleks.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dituntut untuk terus bekerja keras menghadirkan pelayanan publik terbaik, tidak hanya bagi warga Jakarta, tetapi juga bagi jutaan masyarakat dari daerah penyangga yang setiap hari menggantungkan aktivitas ekonomi dan kehidupannya pada kota ini.
Melalui doa dan kerja nyata, mari kita dukung upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam membangun kota yang semakin inklusif, maju, dan berkeadilan.
Semoga momentum Festival Muharam 1448 Hijriah yang beriringan dengan HUT ke-499 Jakarta menjadi penanda lahirnya kota yang tidak hanya modern dan berdaya saing global, tetapi juga tetap berakar kuat pada nilai-nilai spiritual, toleransi, kebudayaan, dan kesejahteraan bagi seluruh warganya.
#Pojok_Jakarta
#JagaJakarta













































