By : Reynold.A
Pukul tiga sore hari Di jalan yang belum jadi Aku melihat anak-anak kecil Telanjang dada, telanjang kakiAsyik mengejar bola…
Ramang kecil, Kadir kecil, menggiring bola di jalanan Ruli kecil, Riki kecil, Iswadi kecil taktik. tiktak terinjak paku…
Tiang gawang dari puing sisa bangunan yang tergusur Tanah lapang hanya tinggal cerita, Yang ada hanya para pembual saja…
Anak kota tak mampu beli sepatu Anak kota tak punya lapangan Sepak bola menjadi barang mahal, milik mereka yang punya uang saja…

Bait-bait tajam di atas merupakan penggalan lirik lagu “Mereka ada di Jalan“ yang diciptakan oleh musisi legendaris Iwan Fals pada tahun 1992. Sebuah karya bernuansa kritik sosial yang memotret ironi kemiskinan masyarakat kota.
runtuhnya hak warga prasejahtera untuk sekadar menikmati olahraga sepak bola. Siapa sangka, jeritan batin dari tahun 1992 itu masih menggema hingga hari ini. Tiga puluh empat tahun kemudian, potret tersebut menjelma nyata dalam fenomena “Liga Aspal” di kawasan Menteng Jaya.
Sinyal ini akhirnya direspons langsung oleh pucuk pimpinan Ibu Kota. Pada Kamis, 17 Juli 2026 lalu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memberikan tanggapan resmi yang seolah menjawab kritik lawas Iwan Fals. Beliau mengakui secara terbuka bahwa ajang sepak bola jalanan tersebut lahir murni akibat keterbatasan fasilitas olahraga bagi warga.
Turnamen swadaya ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk segera membangun kembali fasilitas olahraga yang memadai secara bertahap. Pesatnya pembangunan di Jakarta memang memberikan efek domino yang positif bagi urat nadi perekonomian nasional. Sebagai etalase utama Indonesia, Jakarta dituntut untuk terus bersolek agar mampu bersaing secara global dengan kota-kota besar lainnya di kawasan ASEAN.
Namun di balik megahnya gedung pencakar langit dan gemerlap modernisasi, ada hak mendasar yang kerap terabaikan: hak bermain dan berolahraga bagi anak-anak Jakarta. Ruang publik kian terhimpit beton, dan lapangan hijau berganti fungsi menjadi pusat bisnis. Padahal, dari kerasnya aspal Jakarta inilah, potensi besar dan bakat-bakat alamiah sering kali lahir.
Jika kita berkaca pada Brasil negara yang tak pernah berhenti melahirkan megabintang sepak bola dunia dari gang-gang sempit favela, Jakarta sejatinya memiliki modal sosial yang serupa. Jakarta bisa menjadi “Brasil-nya Asia.” Kita memiliki ribuan talenta muda yang memiliki determinasi tinggi. Bakat-bakat alami ini hanya butuh satu hal: fasilitasi yang layak dan berkeadilan dari pemerintah.
Kini, satu lagi guratan pena sejarah mencatat janji politik, Gubernur Pramono Anung telah berkomitmen untuk menghadirkan kembali lapangan sepak bola di tengah padatnya penduduk dan sempitnya lahan perkotaan. Langkah ini menjadi angin segar sekaligus pembuktian bahwa pemerintah masih memiliki kepekaan terhadap ruang ekspresi anak-anak Jakarta.
Apresiasi tinggi patut kita layangkan atas kepedulian yang ditunjukkan oleh Gubernur Pramono Anung. Tentu, komitmen ini tidak boleh berhenti di atas kertas atau menjadi pemanis bibir dalam konferensi pers semata. Publik akan terus mengawal jalannya janji ini.
Semoga langkah nyata Pemprov DKI Jakarta nantinya mampu memicu lahirnya talenta emas baru yang membawa sepak bola Indonesia terbang tinggi.
Terima kasih Pak Gubernur atas kepedulian Anda terhadap masa depan anak-anak Jakarta, dan sepakbola
Pak Gubernur Pramono Anung. Bravo!!!
#Pojok_JAKarta











































