Pengging, Boyolali, Jumat (7/8/2026) — Suasana kawasan Pengging dipenuhi nuansa khidmat dan sakral dalam prosesi Tedhak Pengging yang dipimpin oleh Sunan Paku Buwono XIV pada Jumat Legi (7/8/2026). Tradisi budaya tersebut menjadi momentum untuk meneguhkan kembali hubungan historis antara Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan Pengging sebagai salah satu kawasan yang memiliki jejak penting dalam sejarah peradaban Jawa.
Prosesi diawali sejak pagi hari dengan rangkaian kirab adat yang diikuti keluarga besar Kasunanan Surakarta, para sentana dalem, abdi dalem, tokoh budaya, serta masyarakat. Kehadiran berbagai unsur masyarakat mencerminkan kuatnya ikatan budaya yang tetap terpelihara lintas generasi.
Dalam prosesi tersebut dibawakan sebelas tembang macapat, yakni Dhandhanggula, Mijil, Pucung, Gambuh, Kinanthi, Asmarandana, Durma, Megatruh, Maskumambang, Pangkur, dan Sinom. Setiap tembang memuat pesan filosofis mengenai kepemimpinan, pengabdian, keluhuran budi, pelestarian tradisi, serta harapan akan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Syair-syair macapat menggambarkan sosok pemimpin yang mengayomi rakyat, menjaga harmoni antara manusia dengan alam, sekaligus meneruskan nilai-nilai luhur warisan leluhur. Pengging juga digambarkan sebagai kawasan yang memiliki sumber kehidupan melalui mata air, kesuburan alam, dan warisan sejarah yang menjadi bagian penting perjalanan budaya Jawa.
Prosesi Tedhak Pengging turut menghidupkan kembali simbol-simbol tradisi, seperti kirab pusaka, sesaji, apem, serta penghormatan terhadap sumber mata air Pengging yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Seluruh rangkaian berlangsung dalam suasana tertib, khidmat, dan penuh penghormatan terhadap adat.
Budayawan Purwadi, yang menyusun tembang macapat untuk prosesi tersebut, menjelaskan bahwa Tedhak Pengging bukan sekadar seremoni adat, melainkan media pendidikan budaya yang menghubungkan generasi masa kini dengan nilai-nilai sejarah, kepemimpinan, dan spiritualitas Jawa.
“Macapat merupakan warisan intelektual yang menyimpan ajaran moral, tata kehidupan, dan penghormatan kepada leluhur. Melalui Tedhak Pengging, masyarakat diajak untuk memahami kembali akar budaya sebagai bagian dari identitas bangsa,” ujarnya.
Menurut Purwadi, pelestarian tradisi tidak hanya dilakukan melalui upacara adat, tetapi juga melalui sastra, tembang, dan pendidikan budaya agar nilai-nilai tersebut tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Tedhak Pengging menjadi salah satu wujud nyata komitmen Kasunanan Surakarta Hadiningrat dalam menjaga kesinambungan tradisi sekaligus memperkuat identitas budaya Jawa. Di tengah arus modernisasi, kegiatan semacam ini dinilai memiliki arti penting sebagai ruang pewarisan nilai, penguatan karakter, serta pelestarian kearifan lokal yang telah berkembang selama berabad-abad.
Jumat Legi, 7 Agustus 2026
Purwadi











































