By ; Reynold A.
My name is Bond… James Bond.
Begitulah kira-kira setiap penggemar film mengenang kalimat pembuka yang begitu ikonik. Begitu sederhana, tetapi selalu berhasil membuat penonton bersiap menyaksikan sebuah misi yang hampir mustahil diselesaikan.
James Bond bukan manusia super.
Ia bisa terluka.
Ia bisa gagal.
Bahkan berkali-kali berada di ambang kematian.
Namun pada akhirnya, ia selalu menemukan jalan untuk menuntaskan misinya.
Lalu saya berpikir…
Bukankah setiap pemimpin juga memiliki “misi mustahil”-nya sendiri?
Bedanya, kalau James Bond bertempur menghadapi organisasi kriminal internasional.
Dan para pemimpin kota bertempur melawan persoalan yang jauh lebih nyata: kemacetan, banjir, kebutuhan transportasi, pendidikan, kesehatan, perubahan iklim, hingga keterbatasan anggaran.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada mobil yang berubah menjadi kapal selam.
Tidak ada pena laser.
Yang ada hanyalah setumpuk dokumen, angka-angka APBD, rapat yang panjang, dan keputusan-keputusan yang menentukan masa depan jutaan orang.
Mungkin terdengar membosankan.
Padahal, di situlah sesungguhnya pertarungan terbesar berlangsung.
Dalam sebuah Agenda “Jakarta Budget Talk, (22 Juli 2026) Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan penerbitan Jakarta Bond pada Juni 2027 untuk membuat Jakarta lebih mendunia.
Nilainya sekitar Rp3,5 triliun dengan tenor maksimal tujuh tahun.
Dana tersebut direncanakan untuk membiayai kebutuhan mendasar dan pembangunan Jakarta dalam jangka panjang.
Menariknya, di akhir penyampaiannya beliau tidak berbicara mengenai angka.
Tidak pula berbicara mengenai keuntungan politik.
Beliau justru menutupnya dengan kalimat yang sederhana.
“Bismillah, kita bisa membangun kota yang kita cintai ini secara bersama-sama.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi justru karena sederhana, ia terasa kuat.
Karena pembangunan kota memang tidak pernah menjadi pekerjaan satu orang.
Di sinilah saya mulai “iseng”.
Saya membayangkan sebuah adegan.
Seseorang bertanya kepada James Bond.
“Mr. Bond, senjata apa yang Anda bawa pada misi kali ini?”
James Bond menjawab singkat.
“Walther PPK.”
Lalu pertanyaan yang sama diajukan kepada “Pramono Bond”.
Ia tersenyum, dan menjawab.
“Jakarta Bond.”
Sampai di sini mungkin ada yang mulai geleng-geleng kepala.
“Apalagi ini…?”. Tenang…
Ini hanya permainan kata.
Karena yang saya maksud bukan tokohnya.
Melainkan misinya.
James Bond menjalankan misi menyelamatkan dunia di layar bioskop.
Sedangkan “Pramono Bond” sedang mencoba mencari cara agar misi Jakarta memiliki sumber pembiayaan yang lebih kreatif untuk membangun masa depannya dapat terealisasi.
Sebagian orang mungkin langsung bereaksi ketika mendengar kata “obligasi”.
“Jangan-jangan Jakarta mau berutang?”
Pertanyaan itu sah.
Justru harus ditanyakan.
Namun, pertanyaan berikutnya jauh lebih penting.
Untuk apa dana itu digunakan?
Jika digunakan untuk belanja yang habis dalam sekejap, tentu patut dipertanyakan.
Namun apabila digunakan untuk membangun infrastruktur, memperkuat layanan publik, atau menghadirkan aset yang manfaatnya dirasakan bertahun-tahun, maka diskusinya menjadi berbeda.
Karena pada hakikatnya, pembangunan kota selalu membutuhkan keberanian mengambil keputusan yang berdampak jauh melampaui satu periode kepemimpinan.
Saya juga tahu.
Setelah tulisan ini terbit akan ada yang berkata,
“Ah… ini cuma memuji gubernur.”
Silakan saja.
Bukankah setiap gagasan memang layak diuji?
Justru saya berharap Jakarta Bond harus dikritisi.
Diawasi.
Diperdebatkan.
Dipertanyakan.
Karena obligasi daerah tidak hidup dari tepuk tangan.
Ia hidup dari kepercayaan.
Dan kepercayaan hanya bisa tumbuh apabila transparansi, akuntabilitas, dan hasil nyata berjalan beriringan.
Semakin kritis masyarakat mengawasi, semakin kuat pula legitimasi sebuah kebijakan ketika benar-benar membawa manfaat.
Lalu saya kembali teringat pada James Bond.
Setiap film selalu memiliki satu misi.
Misi itu selesai.
Film berakhir.
Lampu bioskop menyala.
Penonton pulang.
Tetapi Jakarta bukan film.
Tidak ada adegan “cut!”, “kamera roll”, and “action”.
Tidak ada kredit title penutup.
Yang ada adalah jutaan warga yang setiap pagi berangkat bekerja, mengantar anak ke sekolah, menggunakan transportasi umum, berharap kemacetan dan banjir berkurang, berharap layanan kesehatan semakin baik, dan berharap kota ini terus berkembang.
Bayangkan seorang ayah mengantar anaknya dengan transportasi publik yang semakin nyaman.
Bayangkan seorang pekerja tiba di kantor tepat waktu karena sistem transportasi semakin terintegrasi.
Bayangkan seorang lansia memperoleh pelayanan publik yang semakin baik karena kota memiliki kapasitas membiayai pembangunan secara berkelanjutan.
Kelak, ketika anak-anak Jakarta bertanya,
“Dari mana semua perubahan itu dimulai?”
Mungkin jawabannya bukan hanya dari APBD.
Mungkin jawabannya adalah dari keberanian untuk berkata,
“Mari kita bangun Jakarta bersama.”
Pada akhirnya saya menyadari, judul tulisan ini ternyata memiliki lebih dari satu makna.
James Bond adalah simbol keberanian menjalankan misi.
Pramono Bond adalah tentang keberanian mengambil langkah strategis.
Jakarta Bond adalah sebuah alat pembiayaan pembangunan.
Namun ada satu “bond” yang jauh lebih penting daripada semuanya.
Yaitu bond of trust.
Ikatan kepercayaan.
Kepercayaan investor kepada pemerintah.
Kepercayaan pemerintah kepada rakyat.
Dan kepercayaan rakyat bahwa setiap rupiah yang dihimpun benar-benar kembali menjadi jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit, transportasi, ruang terbuka hijau, dan masa depan mereka yang lebih baik.
Karena sejatinya, kota tidak dibangun hanya dengan beton, baja, dan aspal.
Kota dibangun oleh kepercayaan.
Dan mungkin…
Bond yang paling hebat bukanlah James Bond atau Pramono Bond.
Melainkan bond yang mampu menyatukan mimpi jutaan warga untuk membangun Jakarta bersama.
Kalau itu berhasil diwujudkan…
Maka “Pramono Bond” bukan lagi sekadar permainan kata.
“Pramono Bond” telah berubah menjadi sebuah misi yang meninggalkan jejak bagi masa depan Jakarta.
#Pojok_JAKarta











































