Indonesia kembali membuka mata di hari yang gelap. Dari Aceh hingga Sumatra Barat, suara tangis dan sirene penyelamat berpadu menjadi satu: Sumatra sedang merintih, dan negeri ini belum sepenuhnya hadir untuk memeluk luka-lukanya.
Basarnas mencatat 447 warga gugur, sementara 399 lainnya masih hilang tersapu banjir bandang dan longsor. Inilah angka yang mencabik nurani bangsaโsetiap nama adalah cerita, setiap tubuh yang belum ditemukan adalah harapan yang terpaut pada doa.
Namun ujian terbesar bukan hanya lumpur yang menelan rumah dan keluarga.
Ujian terbesar adalah negara yang gagap di tengah jeritan rakyatnya.
Kemarahan Publik Menggelegar
Di tengah bencana yang terus berulang, publik mempertanyakan arah kepemimpinan nasional. Rakyat ingin negara berdiri tegas, hadir penuh, bukan sekadar tampak dalam foto kunjungan lapangan. Kritik datang dari berbagai penjuru: tentang tata kelola lahan yang acak adut, konsesi yang bertumpuk, dan kebijakan lingkungan yang lebih sering berpihak pada modal ketimbang keselamatan rakyat.
Perampasan tanah, pembalakan liar, dan ekspansi tambang bukan lagi isu pinggiranโsemuanya telah menjelma menjadi sumber bencana yang kita bayar dengan nyawa. Alam pun seperti ikut berteriak: ada yang tidak beres di tubuh republik ini.
Sejarawan Anhar Gonggong menegaskan bahwa para perusak hutan bukan sekadar pelanggar aturan, tapi pelaku kejahatan masa depan. Beliau menilai hukuman berat seharusnya dijatuhkan, sebab setiap pohon yang tumbang hari ini adalah kehidupan yang hilang esok hari.
Sumatra Menyala, Rakyat Berduka, Negara Dituntut Bangkit
Inilah saatnya negara membuktikan bahwa ia bukan sekadar struktur birokrasi tanpa jiwa, tetapi rumah besar yang menjaga warganya.
Bencana ini menuntut:
-
Keberanian politik untuk menghentikan penjarahan ekologi.
-
Rekonstruksi kebijakan lingkungan yang berpihak pada rakyat.
-
Gerakan penyelamatan nasional yang cepat, masif, dan jujur.
-
Pembersihan dari aktor-aktor yang memperdagangkan alam demi kuasa dan laba.
Negeri ini sudah terlalu lama disandera oleh krisis multidimensiโpolitik, ekonomi, ekologiโsementara rakyat menjadi tameng pertamanya.
Doa yang Tak Pernah Padam
Untuk para korban:
Semoga Allah menghadiahkan Husnul Khatimah dan derajat terbaik bagi mereka yang gugur dalam musibah.
Untuk para penyintas:
Semoga kekuatan iman menjadi lentera yang tak padam dalam gelap yang panjang ini.
Untuk para relawan, masyarakat lokal, dan aparat penyelamat:
Bangsa ini berutang budi pada keberanian kalian.
Semoga setiap langkah pertolongan, evakuasi, dan pemulihan dilancarkan oleh Yang Maha Kuasa.
Aamiin Ya Rabbal โAlamin.
โ Heru Atna (Musisi & Budayawan)
Foto/Art Work: Istimewa (dari berbagai sumber)










































