SURAKARTA, 13 Agustus 2026 — Asap dupa mengepul perlahan di pelataran Sasana Handrawina, Kraton Surakarta Hadiningrat, Kamis (13/8/2026) pagi. Sejumlah abdi dalem wiyaga mengenakan busana Kejawen lengkap. Mereka bersiap mengikuti jamasan gamelan pusaka, tradisi tahunan yang tidak hanya merawat perangkat karawitan, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar menjaga harmoni kehidupan.
Jamasan gamelan berlangsung sekitar pukul 10.00. Sebelum prosesi dimulai, para abdi dalem wiyaga melakukan doa dan laku batin. Suasana berlangsung tenang ketika dupa mulai dibakar dan air yang telah dipersiapkan untuk prosesi jamasan ditata bersama bunga setaman.
Pengageng Sasana Wilapa Kraton Surakarta, GKR Dra Koes Moertiyah Wandansari, M.Pd., memimpin pelaksanaan kegiatan tersebut. Para abdi dalem menjalankan prosesi dengan tata cara yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Cuaca cerah mengiringi prosesi. Pepohonan sawo kecik yang tumbuh di sekitar Sasana Handrawina menambah suasana teduh. Aktivitas para abdi dalem berlangsung hampir tanpa jeda. Ada yang menyiapkan perangkat gamelan, menata perlengkapan upacara, hingga memastikan seluruh rangkaian berjalan sesuai paugeran.
Dalam tradisi Jawa, gamelan bukan sekadar seperangkat instrumen musik. Ia menjadi bagian penting dari kehidupan budaya Kraton Surakarta, termasuk dalam berbagai upacara adat dan keagamaan.
Jamasan dimaknai sebagai upaya membersihkan pusaka secara lahir dan batin. Air bunga setaman digunakan dalam prosesi sebagai simbol penyucian. Di balik tindakan tersebut terdapat pandangan tentang pentingnya merawat warisan budaya sekaligus menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam dan sesamanya.
Karawitan dan Ikhtiar Menjaga Harmoni
Tradisi jamasan gamelan memiliki keterkaitan dengan berbagai agenda kebudayaan Kraton Surakarta, termasuk rangkaian Grebeg Sekaten.
Dalam tradisi Sekaten, gamelan pusaka Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari memiliki kedudukan khusus. Bunyi gamelan menjadi bagian dari tradisi yang telah berkembang sejak masa kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.
Sekaten sendiri memperlihatkan perjumpaan berbagai lapisan sejarah dan kebudayaan Jawa. Tradisi tersebut mengalami perkembangan sejak masa Demak, Pajang, Mataram, hingga Kartasura dan kemudian berlanjut di Surakarta.
Karena itu, gamelan tidak hanya dilihat sebagai benda budaya. Ia menjadi medium yang mempertemukan seni, sejarah, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat.
Dalam pandangan Kejawen, keselarasan menjadi salah satu tujuan penting. Kehidupan ideal digambarkan melalui ungkapan tata tentrem karta raharja—keadaan masyarakat yang tertib, tenteram, dan sejahtera.
Dari perspektif itu pula, seni karawitan kerap ditempatkan sebagai sarana tolak balak: sebuah ikhtiar simbolik untuk menjauhkan kehidupan dari gangguan dan malapetaka serta memohon keselamatan.
Dari Gamelan hingga Bedhaya
Kraton Surakarta memiliki berbagai perangkat gamelan pusaka yang digunakan dalam konteks tertentu. Keberadaannya berkaitan erat dengan tradisi upacara dan kesenian yang masih dijaga hingga kini.
Dalam pelaksanaan jamasan, para abdi dalem pengrawit tidak sekadar menjalankan pekerjaan teknis. Mereka menjalankan tanggung jawab kebudayaan.
Dr RT Joko Daryanto Dibyo Gunodipuro, M.Sn., salah satu abdi dalem pengrawit yang juga dosen Universitas Sebelas Maret, turut menjalankan tugas dalam kegiatan tersebut.
Menurut tradisi Kraton, kegiatan semacam ini menjadi bagian dari upaya rumeksa atau menjaga keberlangsungan seni dan budaya Jawa.
Turut hadir Prof Fumiko dari Tokyo, Jepang. Dengan mengenakan busana Jawa, ia ikut menyaksikan dan terlibat dalam kegiatan penataan gamelan. Kehadirannya menunjukkan bahwa karawitan Jawa tidak hanya menarik perhatian masyarakat Indonesia, tetapi juga akademisi dan pemerhati kebudayaan dari luar negeri.
Hadir pula Drs KRA Saptonodiningrat, M.Sn., ahli karawitan dari Institut Seni Indonesia yang selama ini memiliki hubungan pengabdian dengan Kraton Surakarta.
Bagi para pelaku seni, keberlangsungan tradisi semacam ini menghadirkan tantangan tersendiri. Gamelan harus dirawat sebagai benda pusaka sekaligus dipahami sebagai sumber pengetahuan seni yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tradisi yang Berhadapan dengan Zaman
Kraton Surakarta tidak hanya merawat bentuk fisik gamelan. Yang lebih penting adalah menjaga pengetahuan yang menyertainya: tata cara, etika, musik, simbol, bahasa, hingga nilai-nilai yang hidup di balik setiap upacara.
Dalam konteks masyarakat modern, tradisi tersebut menghadapi pertanyaan yang tidak sederhana. Bagaimana ritual tetap dipertahankan tanpa kehilangan makna? Bagaimana generasi muda dapat memahami bahwa gamelan bukan sekadar benda antik? Dan bagaimana seni karawitan dapat tetap hidup ketika lingkungan sosialnya terus berubah?
Jawabannya sebagian berada di tangan para abdi dalem, seniman, akademisi, dan masyarakat yang terus memberi ruang bagi tradisi untuk dipraktikkan.
Jamasan gamelan di Sasana Handrawina menjadi salah satu contoh bahwa pelestarian budaya bukan hanya perkara menyimpan benda peninggalan masa lalu. Pelestarian berarti terus menjalankan pengetahuan yang melekat pada benda tersebut.
Gamelan dibersihkan. Bunga ditaburkan. Doa dipanjatkan.
Di balik rangkaian itu terdapat satu harapan yang sederhana: agar kehidupan tetap berjalan dalam keadaan selaras, tenteram, dan sejahtera.
Bagi masyarakat Jawa, harapan tersebut dirangkum dalam ungkapan:
“Negeri panjang punjung, pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.”
Sebuah gambaran tentang negeri yang subur, masyarakat yang tenteram, dan kehidupan yang dijalani dalam keseimbangan.
Kemis Paing, 13 Agustus 2026.














































