selatan.news, Jakarta- Kasus mengenai anak mengakhiri hidupnya. Kasus tersebut terjadi pada usia rawan (kelas 5 – 6 SD), Kelas 1 atau 2 SMP, kelas 1 atau 2 SMA, hal ini tercatat selama Bulan Januari – November 2023 terdapat 37 aduan ke KPAI.
Polanya ada di usia rawan dan di usia yang mengalami perubahan dari SD ke SMP dan SMP ke SMA. Kasus anak mengakhiri hidup menjadi menjadi penyebab kematian terbesar ketiga, pertama adalah kecelakaan di jalan raya, kedua, penyakit, dan ketiga kekerasan yang bisa memicu anak mengakhiri hidupnya.
Terusnya bermunculan anak anak melakukan percobaan bunuh diri di sekolah, menyatakan sekolah inklusi masih sangat jauh dari harapan, sebagaimana Peraturan Pemerintah nomor 13 tahun 2020 tentang Akomodasi Yang Layak.
Fajri Hidayatullah Ketua Pimpinan Pusat Himpunan Difabel Muhammadiyah merespon anak Sekolah yang lompat dari lantai 3 di Tebet. Baginya kondisi kejiwaan siswa yang dianggap kurang perhatian tersebut, menyatakan sekolah kita belum inklusi. Karena belum tersedia deteksi dini kejiwaan anak anak.
Sekolah sering terjebak dalam urusan adminsitratif dan target pencapaian standar pembelajaran yang harus di capai seorang guru. Yang akhirnya gagal menangkap situasi lingkungan belajar siswa, baik di sekolah, di rumah, di lingkungan dan di dalam kelas.
Dari peristiwa tersebut, tertulis anak dianggap melarang teman temannya, tapi di sisi lain justru anak tersebutlah yang melakukan percobaan bunuh diri. Sehingga pernyataan tersebut terkesan kontradiktif. Yang akhirnya kita bisa menilai itu bukan peristiwa sesungguhnya.
Undang Undang Pendidikan dan Layanan Psikologi menyatakan setiap anak berhak mendapatkan konseling dan pendidikan psikologi yang layak. Saya kira jadi pekerjaan rumah yang besar untuk sektor pendidikan mewujudkannya. Dimana banyak hal yang tidak layak dalam tumbuh kembang jiwa anak di era ini, yang kemudian tidak bisa di terjemahkan sekolah dengan baik.
Untuk itu saya menyarankan, adanya assessment kesehatan jiwa, bagaimana anak anak dikenalkan jiwanya, menyalurkan emosinya, menurut saya itu yang masih sangat jarang dilakukan. Karena ketika anak mengenal batin dan jiwanya, mereka akan memiliki kecerdasan emosi yang baik.
Tanpa sadar, kita seringkali lebih sibuk menanamkan gizi fisik, bahkan di era digital kebutuhan gizi fisik bisa sangat banyak pilihan dan spesifik. Tetapi ketika menyentuh dimana jiwa mendapatkan gizinya? Kita tidak punya banyak pilihan. Padahal setiap anak mempunyai latar belakang dan kebutuhan berbeda dalam memenuhi gizi jiwa mereka.
Salah satu faktor terbesar kegagalan pendidikan, adalah tidak adanya koneksi antara proses pendidikan sekolah, rumah, rute anak sekolah pulang dan pergi serta lingkungan. Sehingga seringkali hambatan belajar terjadi karena tidak memahami situasi psikologi anak. Karena anak anak membutuhkan rekayasa lingkungan yang bisa mengerti tentang kebutuhan mereka, terciptanya akses sistem sumber, dan lingkungan yang adaptif. Anak anak yang menjadi korban bunuh dri, seringkali terputus akses sistem sumber pelayanan kejiwaannya.
Saya kira fenomena global gangguan perilaku, gangguan emosional dan gangguan jiwa menjadi difabel paling tersembunyi di era peradaban abad digital. Yang menyebabkan anak anak mengakhiri hidup. Yang memang dirasakan fenomenanya di seluruh dunia.












































