SURAKARTA — Momentum Bedhaya Ketawang pada Selasa Kliwon, 11 Agustus 2026, menjadi ruang untuk mengenang sosok KPA Suryanto Sastroatmodjo. Juru pawarta, budayawan, dan sastrawan Jawa tersebut dikenal memiliki perhatian besar terhadap jurnalistik, sastra, adat-istiadat, serta kebudayaan Jawa.
KPA Suryanto Sastroatmodjo lahir pada 20 Februari 1957 dan wafat pada 17 Juli 2007. Ia merupakan putra Bupati Bojonegoro. Dalam perjalanan pengabdiannya di bidang kebudayaan, Keraton Surakarta Hadiningrat menganugerahkan gelar Kanjeng Pangeran Arya (KPA) atas anugerah Sri Susuhunan Paku Buwono XII.
Nama Suryanto tidak asing bagi kalangan pers dan pemerhati sastra Jawa. Tulisan-tulisannya pernah menghiasi sejumlah media, antara lain Jayabaya, Penyebar Semangat, Mekarsari, Jaka Lidhang, Kompas.com, Bernas, dan Kedaulatan Rakyat.
Selain menulis, Suryanto aktif memberikan ceramah mengenai seni dan sastra di berbagai forum. Jurnalistik baginya bukan semata-mata pekerjaan menyampaikan kabar, tetapi juga sarana untuk menyampaikan pengetahuan, merawat kebudayaan, dan memberikan tuntunan kepada masyarakat.
Juru Pawarta Winasis
Sosok Suryanto digambarkan sebagai juru pawarta winasis, wartawan yang memiliki wawasan dan kemampuan dalam mengolah bahasa.
Dalam tembang Dhandhanggula yang mengenang perjalanan hidupnya disebutkan:
Juru warta kawentar winasis,
Suryanto Sastroatmodjo medhar,
Wulangan ngelmu Kejawen,
Wijang terang winangun…
Penggambaran tersebut menunjukkan keterkaitan erat antara profesi jurnalistik dan penguasaan kebudayaan Jawa yang melekat pada dirinya.
Suryanto dikenal tekun menulis mengenai berbagai persoalan kebudayaan. Bahasa Jawa tidak hanya digunakannya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan gagasan, kritik, pengetahuan, dan nilai kehidupan.
Warisan Jurnalistik
Selama berkarya, Suryanto aktif di sejumlah media berbahasa Jawa maupun media umum. Kehadirannya di Jayabaya, Penyebar Semangat, Mekarsari, dan Jaka Lidhang memperlihatkan perannya dalam menjaga keberlangsungan pers berbahasa Jawa.
Di sisi lain, tulisan-tulisannya di Kompas.com, Bernas, dan Kedaulatan Rakyat menunjukkan luasnya ruang pengabdian jurnalistik yang dijalaninya.
Dalam tembang Pucung, jejak jurnalistik tersebut disebutkan secara khusus:
Warta Kuncung Arena Kiti ambarung,
Penyebar Semangat,
Jayabaya lan Seruni,
Kompas Bernas Suryanto nyerat pamekas.
Karya jurnalistik tersebut menjadi bagian dari dokumentasi perjalanan kebudayaan dan masyarakat pada zamannya.
Sastra dan Jurnalistik
Bagi Suryanto, sastra dan jurnalistik bukan dua dunia yang saling berjauhan. Keduanya dapat berjalan bersama melalui ketajaman pengamatan, kecermatan bahasa, serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Dalam tembang Asmarandana, kemampuan tersebut digambarkan melalui ungkapan:
Kasusastran jurnalistik,
Suryanto tutug angripta,
Pindha mlathi mekar sore,
Gandane wangi sumerbak,
Tata basa rinumpaka…
Kekuatan bahasa menjadi salah satu ciri karya-karyanya. Ia berusaha menyampaikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami, tetapi tetap memiliki nilai estetika dan kedalaman budaya.
Memetri Adat Jawa
Perhatian terhadap adat dan tradisi Jawa juga menjadi bagian penting dari kiprah Suryanto.
Ia aktif bersrawung dengan seniman, wartawan, budayawan, dan masyarakat. Dari ruang pergaulan tersebut, berbagai pengetahuan mengenai tradisi Jawa terus dikaji dan disampaikan kembali melalui tulisan maupun ceramah.
Tembang Kinanthi menyebut:
Suryanto yekti memetri,
Adat istiadat Jawa,
Kaltlisik ketitik becik,
Seniman warga wartawan…
Kebudayaan, dalam konteks ini, tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu. Kebudayaan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang perlu dirawat melalui tindakan nyata.
Suara bagi Negeri
Pengabdian Suryanto juga digambarkan melalui tembang Pangkur. Wartawan ditempatkan sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab menyuarakan kebenaran dan keadilan.
Labuh labet bela praja,
Suwara adiling negari.
Pesan tersebut memperlihatkan pandangan bahwa pers memiliki tanggung jawab sosial. Wartawan tidak hanya bertugas mencari berita, tetapi juga menjaga kepentingan publik melalui informasi yang benar dan bertanggung jawab.
Kenangan yang Tidak Putus
Suryanto meninggal dunia pada 17 Juli 2007. Namun, hampir dua dekade setelah kepergiannya, namanya masih dikenang di lingkungan kebudayaan Jawa.
Pada momentum Selasa Kliwon, 11 Agustus 2026, kenangan terhadap dirinya kembali dihubungkan dengan Bedhaya Ketawang dan tradisi budaya Keraton Surakarta.
Dalam tradisi Jawa, mengenang seseorang tidak selalu dilakukan dengan seremoni besar. Ingatan dapat terus hidup melalui karya, ajaran, dan keteladanan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tembang Maskumambang memberikan pesan tentang pentingnya generasi penerus memetik ilmu dari para pendahulu:
Kadang cantrik prayogane sregep methik,
Jeng Suryanto kang amejang,
Bisa rahayu lestari,
Run tumurun nak tumanak.
Pesan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa keberlangsungan kebudayaan sangat bergantung pada kesediaan generasi muda untuk belajar dan meneruskan warisan para pendahulunya.
Tontonan dan Tuntunan
KPA Suryanto Sastroatmodjo pada akhirnya dikenang bukan hanya sebagai seorang wartawan. Ia merupakan sosok yang mempertemukan jurnalistik, sastra, dan kebudayaan.
Ceramah seni dan sastra, tulisan di berbagai media, serta keterlibatannya dalam kehidupan kebudayaan menjadi bagian dari jejak pengabdiannya.
Prinsip tontonan beriringan dengan tuntunan menjadi relevan untuk menggambarkan warisan pemikirannya. Karya budaya tidak cukup hanya memberikan hiburan, tetapi juga diharapkan memberikan pengetahuan, nilai, dan arah bagi kehidupan.
Bedhaya Ketawang pada Selasa Kliwon, 11 Agustus 2026, dengan demikian menjadi momentum untuk kembali mengingat perjalanan seorang juru pawarta yang telah menjadikan kata sebagai jalan pengabdian.
KPA Suryanto Sastroatmodjo telah tiada. Namun, berita yang ditulis, bahasa yang dirawat, sastra yang diwariskan, dan nilai kebudayaan yang diperjuangkannya masih menjadi bagian dari ingatan.
Warisan seorang juru pawarta tidak berhenti ketika pena diletakkan. Ia terus hidup selama kata-katanya masih dibaca dan nilai-nilainya masih diamalkan.
Selasa Kliwon, 11 Agustus 2026
Purwadi










































