Wawancara Thesa WFD: Perempuan Penjaga Hutan Desa Semendo, Sumatera Selatan*
_Tokoh Muda Penggerak Hutan Kota dan Kopi Perhutanan Sosial_*JAKARTA* — Perempuan desa tidak hanya menjadi pendukung di dapur dan kebun. Dengan pendampingan yang tepat, mereka bisa berada di garda depan mengelola hutan sekaligus mengembangkan produk bernilai ekonomi. Itulah yang terjadi pada kelompok perempuan penjaga hutan di Desa Semendo, Sumatera Selatan.
Thesa WFD, tokoh perempuan muda yang menjadi motor kelompok tersebut, menceritakan perjalanan mereka dalam wawancara di sela acara seminar hari kartini yang bertajuk jari emansipasi ke aksi, 27 April 2026 di UI Salemba.
*Dukungan Pemerintah Sejak Awal Berdiri*
“Sejak awal kelompok ini berdiri sudah ada dukungan pemerintah. Judulnya saja Kelompok Usaha Perhutanan Sosial,” ujar Thesa.Saat ini mereka berkolaborasi dengan Pemerintah Desa untuk mengenalkan produk kopi hutan sosial. “Kalau ada tamu yang datang ke desa, kami kenalkan. Kami beri oleh-oleh, bahwa ini lho ada produk dari desa kami: kopi berkualitas. Dan kopi ini dibuat oleh kelompok perempuan penjaga hutan,” jelasnya.
Dukungan berlanjut ke tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Dinas terkait hingga Balai Perhutanan Sosial turut membantu promosi. “Bahkan bersama Balai Perhutanan Sosial, kami merencanakan ekspor. Itu bukti dukungan pemerintah terhadap produk kami,” kata Thesa.
*Mengubah Mindset Ibu-Ibu Desa*
Manfaat program ini, kata Thesa, paling dirasakan ibu-ibu desa. Sebelumnya, aktivitas mereka sederhana: memasak, mengurus anak dan suami, membantu ke kebun.“Sejak masuk program dari Pilar Nusantara yang didukung DSC Foundation, kami mendapat pelatihan dan sosialisasi. Pemikiran kami diubah. Perempuan tidak hanya menjadi pendukung, tapi juga bisa mengambil peran di depan,” ungkapnya.
Thesa mengaku, kesempatan berbicara di forum-forum lahir dari pendampingan tersebut. “Pengalaman saya untuk bercerita hari ini lahir dari pendampingan oleh Pilar Nusantara, oleh pemerintah, hingga terbentuklah kelompok. Saya mewakili ibu-ibu di desa.”
*Kelola 1.141 Hektar Hutan Adat dan Hutan Desa*
Kelompok ini terbentuk pada 2023. Pilar Nusantara sebagai NGO dan DSC Foundation mendampingi mereka untuk mengelola hutan sekaligus membuat produk.“Kelompok kami lahir untuk mengelola hutan. Kami punya hutan adat dan hutan desa namanya. Luasnya sekitar 1.141 hektar di Semendo, Sumatera Selatan. Kami melindungi dan menjaga hutan desa itu,” papar Thesa, lulusan Universitas PGRI Palembang jurusan Akuntansi.
*Dari Kopi Asalan ke Kopi Ekspor*
Komoditas utama mereka adalah kopi. Dulu petani menjual kopi secara sederhana: dijemur di terpal atau di jalan, lalu dijual.“Setelah dapat pendampingan, kami tahu kopi harus diolah sesuai standar untuk mencapai pasar yang lebih tinggi. Ternyata ada yang namanya petik merah,” ujarnya.
Tantangan berikutnya adalah sarana-prasarana. “Kami masih jemur di terpal atau di jalan. Itu belum sesuai standar ekspor.”
Titik terang datang tahun ini. Balai Perhutanan Sosial Palembang menggandeng eksportir dan Muara Enim Kopi untuk mengekspor kopi mereka. DSC Foundation membantu melengkapi sarana pengolahan.
“Insyaallah tahun ini kopi kami diolah sesuai standar dan bisa diekspor,” kata Thesa.
*Skema Kopi: Kebun Pribadi, Dikelola Komunitas*
Thesa menegaskan, kebun kopi di Semendo adalah milik pribadi anggota, bukan milik komunitas.“Kalau bicara lahan, tidak ada milik komunitas. Full milik pribadi anggota kelompok. Skemanya, kelompok mengelola hasil dari kebun pribadi. Kami mengajak anggota kumpulkan kopi petik merah, kami olah bersama. Kalau nanti ekspor, hasilnya kami bagi kembali ke 15 anggota kelompok.”
*Motor Penggerak, Bukan Ketua*
Meski aktif sebagai penggerak, Thesa bukan ketua kelompok. “Saya ini anggota, Pak. Bukan ketuanya. Tetapi karena saya generasi muda dan masih aktif, saya jadi motornya untuk kemajuan kelompok ke depan.”Terkait negara tujuan ekspor, Thesa menyebut masih dibahas. “Ini pertama kali. Panen masih sekitar 2 bulan lagi. Rencana ekspor ke mana, kualitasnya seperti apa, akan dibahas di FGD bulan depan bersama teman-teman perhutanan sosial.”
*Harapan ke Pemerintah: Lebih Peka dan Kolaboratif*
Thesa berharap pemerintah lebih peduli pada kelompok seperti mereka. “Kelompok ini bukan hanya bisa didampingi NGO. Pemerintah juga harusnya mengambil peran lebih banyak. Saya berharap ke depan pemerintah mau berkolaborasi dengan kami,” tutupnya.Dengan hutan terjaga dan kopi naik kelas, perempuan Desa Semendo membuktikan: menjaga alam bisa sejalan dengan mengangkat ekonomi keluarga.










































