By; Reynold. A
JAKARTA BOLEH BERUBAH, TETAPI JAKARTA TIDAK BOLEH MELUPAKAN SEJARAHNYA.
Ada sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin selama ini luput kita tanyakan
“Ketika Jakarta terus membangun masa depannya, apakah Jakarta masih ingat siapa yang ikut meletakkan fondasinya?”
Di tengah Jakarta yang semakin modern bersama MRT, LRT, Transjakarta, JakLingko, gedung pencakar langit, pusat bisnis, ruang publik dan berbagai pembangunan baru, ada satu nama yang seharusnya tidak pernah jauh dari ingatan kota ini.
“Ali Sadikin”.
Ya benar, Bang Ali Sadikin.

Bang Ali Sadikin memimpin Jakarta selama sebelas tahun, 1966–1977, Sebelas tahun yang menjadi salah satu bab penting dalam perubahan wajah ibu kota.
Bukan dengan banyak slogan.
Bukan dengan mengejar riuhnya tepuk tangan.
Tetapi dengan keberanian mengambil keputusan dan meninggalkan karya.
Bang Ali Sadikin memang bukan pemimpin yang selalu populer. Bang Ali datang ketika Jakarta menghadapi persoalan yang tidak sederhana.
Kota berkembang, tetapi kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai pembangunan masih sangat terbatas.
Bang Ali mengambil sejumlah kebijakan yang kontroversial, termasuk kebijakan mengenai sumber pendapatan pembangunan, pajak, tempat hiburan dan lokalisasi prostitusi.
Kritik keras pun datang tanpa dapat di hindari.
Bang Ali bahkan harus menerima stigma negatif sebagai “Gubernur Maksiat.”
Kita tidak perlu menghapus kontroversi itu.
Tetapi kita juga tidak boleh menggunakan kontroversi tersebut untuk menghapus jejak sejarah dan seluruh jasanya.
Karena sejarah yang dewasa tidak memilih-milih fakta.
Yang baik kita akui.
Yang kontroversial kita catat.
Yang monumental kita hormati.
Lihatlah karya-karya Bang Ali Sadikin yg Masih abadi hingga saat ini
– Taman Ismail Marzuki.
– Taman Impian Jaya Ancol.
– Kebun Binatang Ragunan.
– Proyek Senen.
– Pengembangan fasilitas olahraga, ruang kebudayaan, fasilitas publik dan pelestarian budaya Betawi.
Lebih dari sekadar membangun gedung dan kawasan, Bang Ali ikut membangun cara berpikir tentang Jakarta sebagai sebuah kota.
Bang Ali ikut memperkuat sistem perencanaan pembangunan Jakarta pada era ketika kota ini sedang mencari bentuknya sebagai ibu kota modern.
Bang Ali tidak hanya membangun kota.
Bang Ali ikut meletakkan cara berpikir untuk membangun kota.
Lihatlah kembali Kota Jakarta hari ini, warisan Bang Ali Sadikin masih tetap hidup.
Taman Ismail Marzuki (TIM) masih hidup dan terus bersolek.
Taman Impian Jaya Ancol terus berkembang dan semakin lengkap memberikan fasilitas dan kemudahan bagi warga Jakarta khususnya.
Ragunan tetap menjadi ruang rekreasi dan konservasi.
Budaya Betawi masih menjadi bagian dari identitas Jakarta.
Ruang publik terus digunakan dan dikembangkan.
Dan hari ini, Jakarta terus bergerak menuju kota global.
Bahkan pada peringatan satu abad Ali Sadikin, 7 Juli 2026 yang lalu, Gubernur DKI Jakarta Bapak Pramono Anung menegaskan bahwa Bang Ali Sadikin telah meletakkan fondasi penting pembangunan Jakarta, khususnya dalam seni, budaya dan ruang publik.
Dengan pernyataan tersebut, maka pertanyaannya bukan lagi;
“Apakah Bang Ali berjasa?”
Karena Jawabannya sudah jelas.
Pertanyaannya adalah:
SUDAHKAH JAKARTA MEMBERIKAN PENGHORMATAN YANG SEPADAN KEPADA BANG ALI SADIKIN?
Sebuah proses pemberian penghormatan yang tidak kunjung selesai, namun Kita harus adil dalam mensikapinya.
Jakarta bukan tidak pernah memberikan penghormatan kepada Bang Ali Sadikin.
Pada 2023, Gedung Blok G Balai Kota resmi diberi nama Grha Ali Sadikin sebagai penghormatan atas jasa beliau.
Dan ada fakta lain yang jauh lebih menarik untuk kita cermati.
Gagasan untuk mengabadikan nama Bang Ali Sadikin sebagai nama jalan ternyata sudah pernah diperjuangkan.
Pada 22 Juni 2021, Ketua DPRD DKI Jakarta Bapak Prasetio Edi Marsudi secara terbuka mengusulkan agar nama Ali Sadikin untuk diabadikan sebagai nama jalan.
Usulan tersebut disampaikan dalam rapat paripurna HUT Jakarta.
Bahkan beberapa bulan kemudian, Ketua DPRD DKI Jakarta Bapak Prasetio Edi Marsudi kembali mempertanyakan mengapa usulan tersebut belum mendapatkan tindak lanjut.
Pada 2022, ketika Pemprov DKI melakukan penamaan sejumlah ruas jalan dengan nama tokoh Jakarta dan seniman Betawi, persoalan nama Ali Sadikin kembali muncul ke ruang publik.
Dan pada saat itu, Wakil Gubernur DKI Ahmad Riza Patria menyatakan bahwa nama Ali Sadikin masih dipertimbangkan untuk menjadi nama jalan.
Artinya, gagasan itu bukan gagasan baru.
Pernah diusulkan.
Pernah dibahas.
Pernah dipertimbangkan.
Namun waktu berjalan.
Proses pemerintahan berganti.
Dan nama Bang Ali Sadikin belum juga menjadi nama sebuah jalan.
Lalu kita harus berbuat apa?
Apakah kita harus mencari siapa yang salah?
Tidak.
Apakah kita harus membuka kembali perdebatan politik masa lalu?
Tidak perlu.
Apakah kita harus menunjuk siapa yang tidak tuntas menyelesaikannya?
Bukan itu tujuan kita.
Karena perjuangan ini tidak membutuhkan siapa yang salah.
Perjuangan ini hanya membutuhkan kelanjutan dan dukungan para tokoh yang juga pernah memperjuangkannya.
Dan di sinilah saya melihat sesuatu yang justru sangat positif.
Kita tidak sedang memulai dari nol.
Ada jejak perjuangan sebelumnya.
Ada usulan dari lembaga legislatif.
Ada pembahasan secara mendalam di lingkungan pemerintah provinsi.
Ada proses yang pernah berjalan.
Dan ada penghormatan yang akhirnya terealisasi dalam bentuk Grha Ali Sadikin.
Maka yang kita lakukan hari ini bukan sedang membuka cerita lama.
Kita sedang meneruskan sebuah penghormatan yang belum selesai.
Dan kini Jakarta memiliki momentum yang luar biasa, “Jakarta Lima Abad”.
Pada 22 Juni 2027, Jakarta akan genap berusia 500 tahun.
Lima abad bukan sekadar angka.
Ini adalah kesempatan bagi sebuah kota untuk berhenti sejenak, melihat ke belakang, lalu bertanya;
“Siapa saja yang telah membuat kita sampai sejauh ini?”
Jakarta akan terus membangun MRT, LRT dan lainnya.
Jakarta akan terus mengembangkan transportasi hingga menyeberangi lautan.
Jakarta akan terus membangun ruang publik.
Jakarta akan terus mengejar status sebagai kota global.
Tetapi kota global bukan hanya kota yang memiliki gedung tinggi dan sistem transportasi modern.
Kota global adalah kota yang tahu dari mana ia berasal.
Dan Jakarta harus tahu siapa saja yang pernah meletakkan fondasinya.
Maka momentum lima abad Jakarta seharusnya bukan hanya tentang bagaimana kita merayakan masa depan.
Tetapi juga tentang bagaimana kita menghormati jasa orang-orang yang membangun masa lalu kita.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa tokoh lain tidak layak mendapatkan penghormatan.
Mpok Nori layak dihormati.
H. Bokir bin Dji’un layak dihormati.
H. Darip layak dihormati.
KH. Guru Amin layak dihormati.
Hj. Tutty Alawiyah layak dihormati.
Dan tokoh-tokoh Jakarta lainnya juga layak mendapatkan tempat dalam ingatan kota Jakarta.
Justru kita harus bersyukur karena Jakarta telah memberikan ruang kepada tokoh-tokoh yang berjasa terhadap sejarah, seni dan kebudayaannya.
Tetapi penghormatan kepada satu tokoh tidak harus mengurangi penghormatan kepada tokoh lainnya.
Jakarta tidak sedang memilih.
Jakarta sedang memperkaya ingatannya sendiri.
Dan seorang tokoh yang ikut meletakkan fondasi Jakarta modern tentu layak memiliki tempat yang pantas dalam ingatan publik kota ini.
Maka, Mari kita lanjutkan apa yang pernah dimulai.
Ini bukan permintaan yang tiba-tiba muncul.
Bukan pula ambisi pribadi.
Bukan upaya mencari panggung dari sejarah orang lain.
Dan bukan usaha untuk menyeret siapa pun ke dalam pertarungan politik masa lalu.
Kita hanya ingin satu hal.
Memberikan penghormatan kepada seorang tokoh yang telah memberikan sebagian besar energi kepemimpinannya kepada Jakarta.
Karena itu saya mengajak para tokoh, aktivis dan khususnya warga Jakarta:
Mari kita bicarakan.
Mari kita suarakan secara santun.
Mari kita dorong Gubernur DKI Jakarta Bapak Pramono Anung bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mempertimbangkan:
Mengabadikan nama “Bang Ali Sadikin” sebagai nama salah satu jalan di kota Jakarta.
Bukan kita yang menentukan ruasnya.
Bukan kita yang menentukan mekanismenya.
Bukan kita pula yang menentukan kapan keputusan itu dibuat.
Itu kewenangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Kita hanya menyampaikan aspirasi.
Dan kepada siapapun yang pernah ikut memperjuangkannya.
Mungkin ada yang pernah mengusulkan.
Mungkin ada yang pernah membahasnya.
Mungkin ada yang pernah mencoba mewujudkannya.
Dan mungkin proses itu belum sampai pada garis akhir.
Tidak masalah.
Karena perjuangan sejarah tidak selalu selesai dalam satu periode pemerintahan.
Kadang sebuah gagasan membutuhkan waktu.
Kadang sebuah penghormatan membutuhkan momentum.
Dan mungkin momentum lima abad Jakarta adalah saat yang tepat untuk menyelesaikannya.
Bukan sebagai kemenangan satu pihak atau kelompok tertentu.
Bukan sebagai kemenangan satu rezim pemerintahan.
Tetapi sebagai kemenangan Jakarta atas kealpaannya sendiri.
BANG ALI SUDAH MEMBERIKAN KARYANYA KEPADA JAKARTA
LALU, APA YANG JAKARTA BERIKAN KEPADANYA?
Bukan uang.
Bukan jabatan.
Bukan penghargaan seremonial.
Hanya sebuah nama.
Sebuah nama yang berjalan bersama denyut nadi kota.
Sebuah nama yang kelak akan dibaca jutaan mata.
Sebuah nama yang kelak akan ditanyakan anak-anak kita:
“Siapa Bang Ali Sadikin?”
Dan kita dapat menjawab:
“Dialah salah satu orang yang ikut membangun Jakarta menjadi seperti yang kamu lihat hari ini.”
“BANG ALI SADIKIN”
Tidak banyak bicara.
Tidak sibuk meninggalkan slogan.
Bang Ali meninggalkan karya.
Dan karya yang membangun sebuah kota pantas mendapatkan tempat di dalam ingatan kota itu sendiri.
Jakarta boleh terus berubah.
Jakarta boleh terus bergerak maju.
Jakarta boleh menjadi kota global.
Tetapi Jakarta tidak boleh lupa kepada orang-orang yang membuatnya bisa sampai sejauh ini.
Ketika Jakarta memasuki usia lima abad, mungkin inilah saatnya kita berkata:
Bang Ali, Karyamu tidak pernah Kami lupakan.
Jakarta mengabadikan namamu.
Dan sudah saatnya ada nama jalan Ali Sadikin di Jakarta.
#Pojok_JAKarta
















































