Selatan News,- Tiap lebaran keluarga besarku ada tradisi saling memberikan semacam orasi kebudayaan sebagai refleksi momentumnya secara bergiliran dari anggota keluarga.Kali ini yang kusampaikan, selain merasakan ketularan spiritualitas alm Ibu, meneruskan amalan laku ibadah Ibu hingga urusan zakat dll di masjid dan lingkungan terdekat.Juga dalam kerja aku merasakan seperti masih dituntun alm masku mbarep Herien guru spiritualitasku, jurnalis dan intelektual.
Aku juga menuturkan sebagai sosok keteladan istimewa seorang Agus Sapto Prasetio mitra baruku, masih relatif muda dan murni patriot non militer.Prinsip hidupnya yang menggetarkan qolbuku: Hidup teramat singkat, mampir ngombe, maka harus manfaat terdekat keluarga,agama, bangsa dan negara.Nota bene alumni hukum tata negara, salah seorang pimpinan bank Pemerintah, tidak berpolitik praktis, ASN, tapi baginya semua itu cuma titipan sesaat duniawi,jadi harus amanah.Maka sama sekali tak ada ketakutan terancam terenggut semuanya itu saat harus melawan tirani negeri yang macam Firaun dengan dinasti politik mesumnya.
Sebelumnya juga aku merasakan hal yang sama, miring atau masih ganjil di tengah residu arus sekuler materian masyarakat karena nyaris persis berprinsip senada ASP. Aku jauh lebih berumur atau sepantaran Kakak ASP yang kepala daerah dan sahabatku juga. Aku pun menjadi lebih bergelora lagi lanjut ikhtiar gerilya revolusi kebudayaan ini, di front depan dengan ASP jaming manajemen, improvisasi, selaras antara berani mimpi membumi mengakar rumput dan berdialog.Dengan segala resiko,konsekuensi, dirundung resistensi sebagaimana takdir pasti para patriot atau martir syuhada.Merdeka!!!










































