- By: Reynold A.
“Gubernur Pramono Anung bukan sekadar membangun kawasan peternakan. Beliau sedang membangun rasa aman di meja makan jutaan keluarga Jakarta.”

Di saat jutaan keluarga Jakarta masih harus menghitung setiap rupiah sebelum berbelanja ke pasar, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, justru memilih membangun fondasi yang jauh lebih penting daripada sekadar proyek fisik: ketahanan pangan.
Rencana mengembangkan Kawasan Peternakan Terintegrasi seluas 100 hektar di Ciangir, Legok, Tangerang, dengan nilai investasi sekitar Rp1 triliun, bukan sekadar proyek peternakan. Ini merupakan investasi strategis untuk memperkuat ketahanan pangan Jakarta sekaligus menjaga stabilitas pasokan bahan pangan bagi jutaan warganya.
Di tengah ancaman perubahan iklim, gejolak harga pangan global, dan meningkatnya kebutuhan penduduk Jakarta, investasi pada sektor pangan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan.
Langkah ini patut mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat dan semua kekuatan politik di Jakarta. Sebab urusan perut bukan milik satu partai atau satu rezim pemerintahan, melainkan kepentingan seluruh rakyat.
Kekuatan sebuah kota bukan hanya diukur dari tingginya gedung pencakar langit, tetapi juga dari kemampuannya memastikan setiap keluarga tetap memiliki akses terhadap pangan yang layak, bergizi, dan terjangkau.
Kepercayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kepada Perumda Dharma Jaya tentu bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, BUMD ini telah menunjukkan kapasitas dan konsistensinya dalam menjaga pasokan pangan Jakarta.
– Mampu menjaga pasokan daging sapi tetap aman dan stabil.
– Berhasil menghindarkan Jakarta dari kelangkaan saat kondisi pasar bergejolak.
– Memiliki pengalaman mengelola rantai usaha secara profesional, mulai dari peternakan hingga distribusi.
Rekam jejak inilah yang membuat publik Jakarta pantas optimistis terhadap proyek besar tersebut.
Namun, keberhasilan sebuah gagasan besar sering kali ditentukan oleh keberanian untuk menyempurnakannya.
Karena itu, menurut hemat saya, proyek ini jangan hanya berhenti pada pengembangan peternakan sapi.
Bagi sebagian besar masyarakat Jakarta, daging sapi masih tergolong lauk istimewa. Tidak semua keluarga mampu menikmatinya secara rutin.
Sebaliknya, sumber protein yang paling sering hadir di meja makan masyarakat adalah daging ayam dan telur, di samping tempe dan tahu.
Karena itu, proyek ini akan jauh lebih sempurna apabila sebagian lahan 100 hektar tersebut juga dialokasikan untuk peternakan ayam pedaging dan ayam petelur.
Dengan satu kawasan peternakan terintegrasi, Jakarta bukan hanya memiliki lumbung daging sapi, tetapi juga benteng ketahanan pangan bagi dua komoditas yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, Daging Ayam dan telur.
Pasti akan timbul pertanyaan di benak warga Jakarta , Mengapa harus daging Ayam dan Telur yg Perlu Mendapat Ruang?
Pertama, meredam gejolak harga.
Setiap Ramadan, Idulfitri, Natal, Tahun Baru, maupun ketika permintaan meningkat, harga ayam dan telur hampir selalu ikut melonjak. Kehadiran peternakan yang dikelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diharapkan mampu menjadi penyangga sehingga lonjakan harga tidak berubah menjadi beban bagi masyarakat.
Kedua, menciptakan keseimbangan pasar.
Selama ini pasokan ayam dan telur didominasi pelaku usaha swasta. Kehadiran Dharma Jaya bukan untuk mengambil alih pasar, melainkan menjadi penyeimbang agar mekanisme harga tetap sehat, kompetitif, dan berpihak kepada masyarakat.
Ketiga, menjamin kecukupan gizi masyarakat.
Ayam dan telur merupakan sumber protein yang paling terjangkau bagi jutaan keluarga. Ketika pasokannya terjamin, bukan hanya harga yang lebih stabil, tetapi kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak, juga akan semakin baik.
Ketahanan pangan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan hari ini. Ketahanan pangan adalah investasi lintas generasi. Ketika pemerintah mulai membangun sumber pasokan pangannya sendiri, Jakarta sedang memperkuat kemampuannya melindungi masyarakat dari gejolak pasar dan potensi krisis pangan di masa depan.
Kehadiran Gubernur Banten, Bapak Andra Soni, saat peninjauan lokasi menjadi sinyal positif bahwa kepentingan rakyat mampu mengalahkan ego sektoral.
Beginilah seharusnya pembangunan berjalan. Dua daerah bertetangga tidak saling bersaing, melainkan saling menguatkan demi kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Semoga pembangunan kawasan peternakan di Ciangir, Legok, dapat berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
Apabila suatu hari nanti kawasan ini benar-benar berkembang menjadi sentra peternakan sapi, ayam, dan telur yang mampu menjaga stabilitas pangan Jakarta dan wilayah sekitarnya, maka sejarah bukan hanya akan mencatat berdirinya sebuah kawasan peternakan modern.
Sejarah akan mencatat bahwa pada era kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Jakarta mulai membangun benteng ketahanan pangannya sendiri, sebuah benteng yang mampu menjaga rasa aman di meja makan jutaan keluarga.
Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya dikenang dari apa yang ia bangun, tetapi juga dari seberapa banyak keluarga yang hidupnya menjadi lebih tenang karena kebijakan yang ia ambil. Itulah makna sesungguhnya dari sebuah investasi yang berpihak kepada rakyat.
Semoga Allah SWT memberikan kemudahan, kelancaran, dan keberkahan atas ikhtiar besar ini.
Sukses selalu, Pak Gubernur Pramono Anung.
#Pojok_JAKarta
















































