Selasa Kliwon, 11 Agustus 2026
Nama RPA Suryanto Sastroatmodjo kembali teringat ketika Kraton Surakarta Hadiningrat menggelar gladhen tari sakral Bedhaya Ketawang. Di antara bunyi gamelan dan gerak tari yang diwariskan lintas generasi itu, terbayang sosok pujangga yang pernah mengabdikan hidupnya untuk merawat sastra, jurnalistik, dan kebudayaan Jawa.
Suryanto Sastroatmodjo lahir di Bojonegoro, 20 Februari 1957, dan wafat pada 17 Juli 2007. Ia berasal dari lingkungan keluarga bangsawan. Ayahnya, PAA Suryo Hadinagoro, pernah menjabat Bupati Bojonegoro, sedangkan ibunya, RAy Huluwiyah Wuryaningrum, merupakan putri Pangeran Puger, Bupati Tuban.
Dari garis keluarga tersebut mengalir tradisi kebudayaan Jawa yang panjang. Suryanto dikenal sebagai keturunan yang masih memiliki hubungan genealogis dengan Adipati Wilwatikta dan garis keturunan yang dalam tradisi keluarga dikaitkan dengan Sunan Kalijaga, Dewi Rasawulan, dan Ki Ageng Tarub.
Namun, kebangsawanan bukan satu-satunya yang membentuk dirinya. Pendidikan, laku hidup, jurnalistik, dan kesungguhannya mempelajari kebudayaan Jawa justru menjadi jalan yang membuat namanya dikenal sebagai pujangga dan juru pawarta.
Menghidupkan Kembali Kapujanggan
Pada 2 Desember 1997, di masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono XII, Kraton Surakarta memberikan anugerah pangkat dan sesebutan kepada Suryanto Sastroatmodjo. Ia diangkat sebagai abdi dalem pujangga dengan gelar Kanjeng Pangeran Arya.
Pengangkatan tersebut memiliki arti penting bagi sejarah kebudayaan Kraton Surakarta. Lembaga kapujanggan yang pernah melahirkan karya besar seperti Wulangreh, Serat Centhini, Dewaruci, dan berbagai karya kepustakaan Jawa memperoleh ruang untuk diteruskan dalam konteks zaman modern.
Nama-nama besar seperti Yasadipura, Ranggawarsita, Sindureja, dan Kusumadilaga merupakan bagian dari tradisi panjang tersebut. Suryanto ditempatkan sebagai salah satu generasi yang meneruskan tradisi kepujanggaan itu melalui bahasa, sastra, dan jurnalistik.
Dalam tradisi Jawa, pujangga bukan sekadar orang yang pandai menulis. Pujangga memiliki tanggung jawab kebudayaan: membaca zaman, memahami perubahan masyarakat, sekaligus menjaga agar nilai-nilai yang dianggap penting tidak terputus dari akar sejarahnya.
Dari Bojonegoro ke Dunia Jurnalistik
Suryanto menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Bojonegoro. Kota yang berada di antara kawasan Pegunungan Kendeng dan Renteng itu menjadi lingkungan awal yang membentuk pandangan hidupnya.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Jurusan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Ia juga menempuh pendidikan hingga sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Proklamasi Yogyakarta.
Lintasan pendidikannya menunjukkan ketertarikan yang luas. Komunikasi, ekonomi, sastra, sejarah, dan kebudayaan tidak ditempatkan sebagai bidang yang terpisah. Semua itu bertemu dalam praktik jurnalistik dan kepujanggaan yang ia jalani.
Sebelum aktif di dunia penelitian dan jurnalistik, Suryanto pernah mengajar di SMA di Bojonegoro. Kepada para siswanya, ia tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga pentingnya memahami lingkungan.
Kawasan sekitar Bojonegoro menyimpan kekayaan ekologis dan ekonomi, mulai dari hutan jati, pertanian, minyak bumi hingga berbagai potensi alam lainnya. Lingkungan tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang memperkaya perspektifnya.
Jurnalistik sebagai Jalan Kebudayaan
Dunia jurnalistik kemudian menjadi salah satu ruang utama pengabdian Suryanto.
Ia bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI. Di luar pekerjaan formalnya, ia aktif menulis di berbagai media, baik media nasional maupun media berbahasa Jawa.
Namanya tercatat dalam sejumlah media seperti Jawa Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Kompas.com, Bernas, dan Kedaulatan Rakyat. Sementara di media berbahasa Jawa, tulisannya hadir antara lain di Jayabaya, Penyebar Semangat, Mekarsari, dan Jaka Lodhang.
Jurnalistik baginya bukan hanya pekerjaan menyampaikan informasi. Menulis menjadi cara untuk mempertemukan tradisi dengan masyarakat modern.
Ia mengolah pengetahuan Jawa menjadi tulisan yang dapat dibaca masyarakat luas. Di titik inilah sosok juru pawarta dan pujangga bertemu.
Bokor Kencono dan Suara Kebudayaan
Salah satu ruang yang dikenang adalah rubrik Bokor Kencono di koran Bernas.
Rubrik tersebut mengangkat berbagai persoalan adat, tradisi, dan kehidupan masyarakat Jawa. Pertanyaan pembaca mengenai budaya dan tata kehidupan Jawa dijawab dengan bahasa yang komunikatif.
Istilah bokor kencana sendiri memiliki kedekatan dengan simbol kemakmuran dan doa keselamatan dalam tradisi Jawa. Ungkapan lama yang mengiringinya berbicara tentang kebutuhan manusia: sandang, pangan, dan ketenteraman hidup.
Melalui rubrik itu, Suryanto tidak sekadar menjelaskan adat. Ia mengajak pembaca memahami makna di balik tradisi.
Dalam perspektif seperti ini, kebudayaan tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Kebudayaan menjadi pengetahuan yang dapat digunakan untuk membaca kehidupan masa kini.
Menulis dalam Bahasa Jawa
Kecintaan Suryanto terhadap sastra juga diwujudkan melalui aktivitas di sanggar.
Ia terlibat dalam Sanggar Sastra Sri Witomo dan mengembangkan majalah Nilakandhi. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengasah kemampuan menulis sekaligus mempertemukan para penulis dan pemerhati sastra Jawa.
Tradisi semacam ini memiliki akar panjang dalam kebudayaan Jawa. Pada masa lalu, pujangga tidak hanya menulis karya sastra, tetapi juga membangun ruang pengetahuan melalui berbagai bentuk kepustakaan dan media.
Suryanto meneruskan tradisi itu dengan medium yang sesuai dengan zamannya: surat kabar, majalah, sanggar sastra, dan forum kebudayaan.
Karyanya menunjukkan satu keyakinan: bahasa Jawa tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai bahasa masa lalu. Bahasa Jawa dapat menjadi medium untuk membicarakan persoalan masyarakat, pendidikan, lingkungan, etika, dan kehidupan kebangsaan.
Penghargaan dan Pengakuan
Kiprah Suryanto mendapatkan berbagai penghargaan.
Di antaranya penghargaan dari Panitia Hari Ranggawarsita, penghargaan dalam Contest Poetry di Brunei pada 1987, juara penulisan majalah The Beach Pertamina pada 1988, Anugerah Sastrawan Universitas Airlangga Surabaya pada 1990, penghargaan Creative ASEAN Stylist Amerika pada 1994, Anugerah Sastrawan Kreatif Primelook Singapore pada 1996, serta Hadiah Rancage pada 2005.
Deretan penghargaan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitasnya tidak hanya dikenal di lingkungan kebudayaan Jawa. Karyanya juga mendapat apresiasi dalam ruang sastra yang lebih luas.
Namun, barangkali warisan terpentingnya bukanlah daftar penghargaan itu.
Warisan tersebut berada pada tulisan-tulisan yang membuat pengetahuan tentang Jawa tetap hadir dalam kehidupan masyarakat.
Pujangga dan Juru Pawarta
Dalam pandangan kebudayaan Jawa, ilmu tidak cukup hanya diketahui. Ilmu harus dijalani.
Ungkapan dalam Serat Wedhatama, ngelmu iku kelakone kanthi laku, menjadi relevan untuk membaca perjalanan Suryanto.
Ia menjalani ilmu melalui pendidikan, jurnalistik, sastra, pengajaran, penelitian, dan aktivitas kebudayaan. Ia membaca Babad Tanah Jawi, mempelajari tradisi, menulis dalam bahasa Jawa dan Indonesia, serta berinteraksi dengan berbagai kalangan.
Karena itu, sebutan pujangga pada dirinya tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan menciptakan karya sastra. Pujangga juga berarti seseorang yang mencoba membaca perubahan zaman melalui kebudayaan.
Selasa Kliwon dan Bedhaya Ketawang
Ada alasan mengapa kenangan terhadap Suryanto terasa kuat ketika Kraton Surakarta menggelar tradisi Bedhaya Ketawang.
Dalam kalender tradisi Jawa, Selasa Kliwon memiliki posisi khusus dalam berbagai tata cara kebudayaan Kraton Surakarta. Salah satunya berkaitan dengan gladhen tari Bedhaya Ketawang.
Bagi masyarakat Jawa, Bedhaya Ketawang bukan sekadar pertunjukan tari. Ia merupakan bagian dari tradisi sakral Kraton Surakarta yang memiliki lapisan simbolik, spiritual, dan historis.
Suryanto wafat pada 17 Juli 2007, yang dalam penanggalan Jawa bertepatan dengan Selasa Kliwon.
Ia dimakamkan di Papahan, Tasikmadu, Karanganyar.
Hampir dua dekade setelah kepergiannya, namanya masih disebut ketika orang berbicara tentang sastra Jawa, jurnalistik kebudayaan, dan kepujanggaan Kraton Surakarta.
Warisan yang Belum Selesai
Buku Risang Kawi RPA Suryanto Sastroatmodjo menjadi salah satu ruang untuk mengenang perjalanan hidup dan pemikirannya. Sejumlah tokoh kebudayaan turut memberikan kesaksian dan tanggapan, antara lain KRT HS Gondo Hadiningrat, Condroyono, dan Octo Lampito.
Para sahabat dan koleganya juga menjadi bagian dari ingatan tersebut. Nama-nama seperti Tirto Suwondo, Dyan Anggraini Rais, Koh Hwat, R Bambang Nursinggih, Suhamdani, Arie Giyarto, Nugroho, Yuda, Elvira, Dwi R Ningsih, Banuali Ambardi, Ardini Pangastuti, Genthong HSA, Dhanu Priyo Prabowo, Sri Suranto, Yos Tri Atmaja Dharmasastri, Dewanto, Sarbini Sastrodiprojo, Dodi DS, Toto Sugiarto, Raudal T Banua, Nur Wahid Idris, Riki Dhamparan Putra, Akhir Lusono, Romo Budi, Guntur Sanggalangit, Sri Wintala Achmad, dan Garuda Sukmantara merupakan bagian dari jaringan kebudayaan yang pernah bersinggungan dengannya.
Ingatan semacam itu menunjukkan bahwa kebudayaan hidup bukan hanya melalui institusi, melainkan juga melalui jejaring manusia yang terus menerus mewariskan pengetahuan.
Suryanto telah pergi. Tetapi tulisan, pemikiran, dan pengabdiannya belum selesai.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, persoalan yang pernah ia tekuni tetap relevan: bagaimana tradisi dapat bertahan tanpa kehilangan makna; bagaimana bahasa daerah dapat tetap hidup; dan bagaimana kebudayaan menjadi sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya.
Kraton Surakarta melalui tradisi kepujangannya pernah memberi ruang bagi tugas tersebut. Suryanto Sastroatmodjo menjadi salah satu orang yang mengisinya pada zaman modern.
Bedhaya Ketawang terus ditarikan. Gamelan terus berbunyi. Sastra Jawa terus ditulis.
Dan dalam setiap upaya merawatnya, nama sang pujangga itu layak ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan panjang kebudayaan Jawa.
Rum kuncaraning bangsa dumunung ing luhuring budaya.
Kemasyhuran suatu bangsa, pada akhirnya, bertumpu pada keluhuran budayanya.
Purwadi
















































